Floresa.co – Koalisi masyarakat sipil mendesak pengusutan rantai komando dalam serangan terhadap aktivis Andrie Yunus, menilai pergantian kepala intelijen TNI tak menjawab desakan publik terhadap keterbukaan dalam proses penanganan kasus ini.
Menurut Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), pergantian Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) Letjen Yudi Abrimantyo tak menyentuh substansi utama penyiraman air keras terhadap Andrie.
Mutasi itu malah “berpotensi mengaburkan transparansi dan akuntabilitas militer yang hierarkis,” tulis TAUD dalam pernyataan pers pada 25 Maret.
Pernyataan itu menyusul klaim Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah pada hari yang sama bahwa Letjen Yudi telah “menyerahkan jabatannya.”
Aulia tak secara gamblang membeberkan apakah Yudi mundur atas kemauannya atau dicopot dari jabatannya. Ia juga tak menyebutkan penggantinya.
Ia hanya menyatakan penyerahan jabatan sebagai “bentuk pertanggungjawaban institusi” atas serangan terhadap Andrie, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).
Langkah tersebut terjadi sepekan usai TNI mengklaim telah menahan empat anggota BAIS yang diduga terlibat dalam serangan terhadap Andrie pada 12 Maret.
TAUD mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas TNI di balik pergantian pemimpin BAIS.
Menyebut struktur militer bersifat hierarkis, TAUD menilai rantai komandonya melibatkan lebih dari satu orang pemimpin.
“Ketiadaan penjelasan mengenai struktur komando menimbulkan kesan kuat akan upaya menutup-nutupi pertanggungjawaban yang parsial, selektif dan tidak menyentuh keseluruhan rantai komando yang seharusnya diperiksa,” tulis TAUD.
Direktur Eksekutif Amnesty International untuk Indonesia, Usman Hamid menilai ketidakjelasan status jenderal bintang tiga itu mencerminkan lemahnya militer menjaga independensi dan transparansi.
“Publik berhak mengetahui peran sesungguhnya pucuk pimpinan BAIS dalam serangan pada 12 Maret, katanya.
“Keadilan bagi Andrie tak bisa ditebus dengan seremoni penyerahan tongkat komando,” tambah Usman.
TAUD mendesak Presiden Prabowo Subianto segera mengambil langkah tegas untuk memastikan pengungkapan kasus secara menyeluruh dan independen.
Mereka meminta presiden memerintahkan pembentukan tim atau mekanisme investigasi yang kredibel dan bebas dari konflik kepentingan guna menelusuri keterlibatan seluruh aktor, termasuk dalam rantai komando.
“Tukar Kepala”
Koalisi masyarakat sipil juga menyoroti ketidakterbukaan pengumuman Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI dan Polda Metro Jaya pada 18 Maret terkait terduga pelaku.
Polda menyebut telah mengidentifikasi dua terduga pelaku berinisial BHC dan MAK, menyusul pemeriksaan terhadap 15 saksi dan menelusuri rekaman kamera pemantau atau CCTV.
Mengacu pada sejumlah rekaman CCTV, polisi menduga dua orang lainnya terlibat yang membuat kemungkinan jumlah pelaku empat orang, bahkan lebih.
Konferensi pers Polda belum usai ketika Puspom TNI mengumumkan penahanan empat prajurit yang diduga terlibat dalam serangan tersebut.
Keempat orang itu terdiri dari tiga perwira pertama dan satu bintara BAIS TNI. Masing-masing Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW dan Serda ES.
Inisial keempatnya berbeda dengan versi Polda.
Selain itu, kedua konferensi pers tak disertai pengungkapan wajah terduga pelaku.
TAUD menilai perbedaan identitas mencerminkan potensi ketidakpastian dalam proses hukum terhadap para pelaku serangan.
Sementara Usman Hamid melihat kecenderungan prajurit berpangkat rendah dikorbankan dalam kasus hukum yang sejatinya menyeret sosok lain yang pangkatnya lebih tinggi.
Ia pun mendesak polisi dan TNI memperlihatkan wajah terduga pelaku ke publik.
Pemberitahuan wajah terduga pelaku dibutuhkan “supaya tak ada kecurigaan ‘tukar kepala’ seperti kebiasaan militer selama ini,” katanya.
Harus Bedah Plastik
Serangan terhadap Andrie mengakibatkan luka bakar pada beberapa bagian tubuhnya dengan tingkat keparahan 24 persen. Mata kanannya mesti dioperasi sehari sesudah serangan itu.
Namun, operasi tak berhenti di situ. Tim dokter Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta Pusat menemukan mata kanannya kekurangan aliran darah atau iskemia.
Manajer Hukum dan Humas RSCM, Yoga Nara mengatakan kondisi tersebut menyebabkan penipisan jaringan mata. Bila tak lekas ditangani, penipisan dapat memperparah inflamasi dan memicu kebutaan permanen.
Mata kanan Andrie akhirnya kembali dioperasi pada 25 Maret. Ia juga mesti menjalani bedah plastik berupa cangkok pada area mata, dada dan pundak yang mengalami luka bakar.
“Pasien (Andrie) dalam pemantauan ketat tim medis multidisiplin,” kata Yoga tanpa membeberkan kondisi detail Andrie pascaoperasi lanjutan.
Editor: Ryan Dagur



