Material Lelet, Upah Pekerja Belum Dibayar: Nasib Gerai Kopdes Merah Putih di Manggarai Barat

“Kami harus minta terus baru bisa dikasih," kata seorang buruh di Desa Mbuit soal upah yang baru diterima sebagian.

Floresa.co – Sekitar satu bulan lalu, Masril menghentikan pekerjaan sebagai buruh bangunan di Kampung Lando, Desa Mbuit, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat.

Sejak awal Maret, ia bekerja mengerjakan pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang berlokasi di Pasar Inpres Lando, berjarak sekitar 100 meter dari jalur utama Lando-Noa.

“Kendalanya pengadaan materialnya lamban. Makanya pengerjaannya lama. Kami sudah istirahat hampir satu bulan,” kata Masril kepada Floresa pada 11 Juli.

Gerai itu adalah bagian dari program Pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Melalui Instruksi Presiden Nomor 17 tahun 2025 yang diterbitkan 22 Oktober 2025, pemerintah menugaskan PT Agrinas Pangan Nusantara beserta Tentara Nasional Indonesia untuk membangun lebih dari 80.000 gerai di seluruh Indonesia.

Secara nasional, dari 83.000 badan hukum KDMP yang sudah terbentuk, per 12 Juli baru 15.845 unit yang 100 persen selesai dibangun. Sebanyak 19.539 unit masih dalam proses. Pemerintah menargetkan 40.000 unit KDMP beroperasi pada akhir 2025.

Di Kabupaten Manggarai Barat, terdapat 53 gerai yang dibangun. Dari jumlah tersebut, baru dua yang konstruksinya sudah selesai, sementara 51 lainnya sedang dibangun.

Kondisi Lapangan di Tiga Lokasi

Saat Floresa mengunjungi lokasi pembangunan di Kecamatan Boleng pada 9-11 Juli, progres pekerjaan di ketiga gerai menunjukkan tingkat kemajuan serupa.

Di Desa Mbuit, Masril melaporkan progres fisik baru mencapai 25 persen setelah lebih dari tiga bulan kerja. Struktur utama bangunan telah berdiri dengan kolom dan balok beton, dinding bata pun sudah terpasang. Pekerjaan plesteran dinding, pemasangan rangka atap, dan tahap penyelesaian belum dilakukan.

Kondisi gerai di Desa Golo Sepang serupa. Bangunan tersebut terletak di antara SMP Negeri 1 Boleng dan Sekolah Dasar Negeri Terang. Struktur utama bangunan telah berdiri namun masih menunggu rangka atap dan pekerjaan finishing.

Saat Floresa berkunjung pada 9 Juli, tidak ada aktivitas pekerja di lokasi. Tersisa hanya ember bekas, terpal, perancah bambu, dan tangga kayu. Pada sejumlah balok beton, bekisting kayu masih terpasang tanpa indikasi pengecoran lanjutan. Rumput liar tumbuh di sekitar bangunan dan di dalam ruangan yang lantainya belum dicor.

Di Desa Golo Ketak, struktur utama juga sudah dibangun, tetapi rangka atap belum dipasang. Dinding bata yang sudah terpasang belum diplester. Tidak ada aktivitas konstruksi saat Floresa berkunjung pada 9 Juli. Di lokasi proyek, tampak tumpukan sisa material seperti batako, papan, dan tanah.

Yosep Mir, tukang di Golo Ketak, mengatakan konstruksi dimulai sejak Februari. Tahap pertama yang mencakup fondasi dan tembok selesai pada akhir Mei.

“Kalau kerja full bisa dua bulan saja selesainya,” kata Yos. Sejak Juni, tidak ada kelanjutan pekerjaan.

Yosep Mir, pekerja gerai Koperasi Merah Putih Desa Golo Ketak. Ia mengaku masih menunggu pembayaran upah sebesar Rp10 juta.(Dokumentasi Floresa)

Hambatan: Ketersediaan Material

Masril menyatakan selama proses pengerjaan, suplai material utama seperti semen tidak lancar. Material penunjang seperti kayu dolken dan triplek untuk pengecoran beton juga tidak tersedia.

“Kayu dolken itu kami sendiri yang cari. Tidak ada uang untuk pengadaan itu,” katanya.

Yosep Mir di Golo Ketak memberikan pernyataan serupa. Ia mengatakan pasokan material tersendat selama masa pekerjaan.

Kepala Desa Golo Ketak, Philipus Tulur, mengatakan tahap pertama pembangunan sudah hampir selesai.

Ia menambahkan bahwa istirahat terjadi karena akan ada kerja lanjutan secara serempak untuk tiga desa.

Masalah Pembayaran Upah

Selain hambatan ketersediaan material, upah pekerja juga tidak dibayar penuh. Seorang staf Desa Golo Sepang mengatakan pekerja belum menerima bayaran.

“Tukang lagi kesulitan uang. Mereka mengeluh tentang uang karena tidak ada pembayaran,” katanya. Ia meminta identitasnya tidak diungkapkan.

Masril mengungkapkan baru menerima upah Rp35 juta dari total yang seharusnya Rp70 juta.

“Kami harus minta terus baru bisa dikasih,” katanya.

Yosep Mir di Golo Ketak mengatakan masih menunggu pembayaran upah sebesar Rp10 juta untuk dirinya dan anak buahnya.

“Saya telepon terus, tetapi mereka bilang tunggu,” katanya.

Kepala Desa Golo Ketak, Philipus Tulur, mengakui upah tukang belum dibayar. Ia mengatakan berkomunikasi dengan Maksi, konsultan KDMP di Manggarai Barat, untuk menyelesaikan masalah pembayaran.

Namun, Philipus mengatakan pembangunan gerai tidak mangkrak. Berdasarkan komunikasinya dengan Bintara Pembina Desa (Babinsa), konstruksi awal dilakukan tukang lokal, sementara untuk proses selanjutnya akan dilakukan tukang dari Jawa.

Kondisi gerai Koperasi Merah Putih Desa Golo Ketak saat dikunjungi Floresa pada 9 Juli 2026.(Dokumentasu Floresa)

Penjelasan dari Konsultan Pendamping

Maksi, konsultan pendamping KDMP Manggarai Barat, mengatakan progres pembangunan sebagian besar gerai di Manggarai Barat saat ini masih mencapai 25 persen. Ia menolak mengungkapkan nama lengkapnya.

Pembangunan gerai sedang memasuki tahap pemasangan (erection) baja.

“Untuk sementara tim erection baja hanya ada empat kelompok. Jadi, kelompok ini masih erection titik lain, setelah itu baru mulai geser mereka ke titik yang lainnya termasuk yang di Kecamatan Boleng,” kata Maksi saat dihubungi Floresa pada 13 Juli.

Maksi menyatakan tim tersebut dijadwalkan mulai bekerja minggu depan.

“Material untuk baja sudah ready dari tiga bulan lalu di Kodim,” katanya.

Maksi menyatakan seluruh pembangunan gerai akan rampung pada Agustus.

Mengenai upah pekerja, ia mengatakan menggunakan sistem borongan yang dibayarkan berdasarkan progres kemajuan fisik pekerjaan di lapangan.

“Kalaupun mereka minta panjar namun progres fisiknya secara teknis belum memungkinkan, maka kita sesuaikan,” katanya.

Maksi berjanji akan melunasi upah pekerja apabila pekerjaan fisik sudah sesuai dengan progres yang ditetapkan, baik volume maupun kualitas.

“Terkadang volume sudah sesuai, tapi mutu kerapian belum sesuai maka kita sesuaikan,” kata Maksi.

Editor: Petrus Dabu

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA