Resep Dokter Asep Mengendalikan Rabies: Mulai dari Melacak Lokasi Virus

Tanpa data lokasi peredaran virus, pemerintah seperti “berperang melawan musuh yang tidak diketahui keberadaannya.”

Floresa.co – Pemerintah Kabupaten Kupang menggencarkan edukasi hingga ke tingkat desa untuk mencegah penyebaran rabies.

Namun, menurut dr. Asep Purnama, pengendalian rabies tidak cukup hanya bertumpu pada sosialisasi dan ketersediaan vaksin anti rabies (VAR) bagi korban gigitan anjing.

Sekretaris Umum Komite Pencegahan dan Penanggulangan Rabies Flores-Lembata itu mengatakan, persoalan mendasar yang kerap luput adalah pemerintah belum mengetahui secara pasti di mana virus rabies beredar.

“Sering kali kita baru bergerak ketika sudah ada manusia yang meninggal karena rabies. Padahal, saat virus sudah mencapai manusia, kita sebenarnya sedang menghadapi masalah di hilir,” kata Asep kepada Floresa pada 15 Juli.

Menurutnya, perang melawan rabies harus dimulai dari hulu, yakni pada hewan penular rabies (HPR), terutama anjing yang menjadi sumber lebih dari 99 persen kasus rabies pada manusia.

Berawal dari Setiap Kasus Gigitan

Untuk mengetahui lokasi virus, pemerintah memerlukan surveilans rabies, yaitu sistem pemantauan kasus gigitan dan hewan yang diduga terinfeksi.

Asep mengatakan, surveilans seharusnya dimulai dari setiap laporan korban gigitan anjing.

Selama ini, banyak korban hanya mendatangi puskesmas atau rumah sakit untuk memperoleh VAR. Langkah itu penting untuk melindungi korban, tetapi sering berhenti di sektor kesehatan dan tidak diteruskan kepada dinas yang menangani kesehatan hewan.

Akibatnya, anjing yang menggigit kerap tidak diobservasi atau diperiksa di laboratorium. Pemerintah pun kehilangan kesempatan mengetahui apakah hewan tersebut benar-benar membawa virus rabies.

Jika laporan gigitan juga diteruskan kepada petugas kesehatan hewan, anjing dapat diobservasi selama 14 hari atau diperiksa di laboratorium bila diperlukan. Observasi itu dilakukan untuk memantau apakah anjing tetap sehat, menunjukkan gejala rabies, atau mati.

Asep mengingatkan, sekitar 70 persen anjing yang menggigit manusia ternyata bukan anjing rabies. Karena itu, observasi penting untuk menentukan tingkat risiko. Anjing patut dicurigai terinfeksi rabies apabila tidak dapat ditemukan setelah menggigit, mati selama masa observasi, atau hasil laboratorium menunjukkan positif rabies.

Mengapa Otak Anjing Diperiksa?

Keberadaan virus rabies dapat dipastikan melalui pemeriksaan spesimen, yakni sampel jaringan otak anjing yang diduga terinfeksi.

“Semakin banyak spesimen otak anjing yang diperiksa, semakin akurat pula gambaran penyebaran virus rabies di suatu wilayah,” katanya.

Hasil pemeriksaan itu membantu pemerintah memetakan desa atau dusun yang menjadi lokasi peredaran virus rabies. Wilayah tersebut kemudian menjadi prioritas vaksinasi massal anjing, edukasi masyarakat, dan intervensi pengendalian lainnya.

Asep mengatakan, pendekatan berbasis data penting karena sumber daya pemerintah terbatas. Dengan mengetahui lokasi virus, vaksinasi dapat diprioritaskan pada wilayah paling berisiko. Idealnya, lebih dari 70 persen populasi anjing divaksin untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga rantai penularan dapat diputus.

Menghindari Kebijakan yang Salah Sasaran 

Bagi Asep, data surveilans tidak hanya menunjukkan lokasi peredaran virus, tetapi juga mencegah kebijakan yang salah sasaran.

Tanpa data yang memastikan apakah seekor anjing benar-benar terinfeksi rabies, keputusan di lapangan mudah dipengaruhi dugaan atau kekhawatiran masyarakat.

“Akibatnya, anjing yang sebenarnya sudah divaksin dan tidak menunjukkan tanda-tanda rabies pun dapat ikut dieliminasi,” katanya. 

Situasi seperti itu pernah terjadi di Desa Lamba Keli, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.

Pemerintah desa membasmi sedikitnya 27 ekor anjing dengan alasan wilayah tersebut masuk zona merah rabies. Namun, salah satu pemilik mengaku dua ekor anjingnya telah divaksin dan diikat sesuai anjuran pemerintah, tetapi tetap dibunuh.

Dinas Kesehatan maupun Dinas Peternakan Manggarai Timur kemudian menyatakan tidak pernah mengarahkan pembasmian tersebut. Peristiwa itu memicu protes warga dan memunculkan pertanyaan mengenai dasar pengambilan keputusan di lapangan.

Banyak Kesempatan Hilang

Asep menilai pemeriksaan spesimen otak anjing masih sangat terbatas di banyak kabupaten di NTT.

Dalam banyak kasus, anjing yang menggigit manusia langsung dibunuh dan dikubur. Di beberapa daerah, anjing bahkan dimanfaatkan sebagai konsumsi. Akibatnya, jaringan otak tidak pernah diperiksa dan pemerintah kehilangan kesempatan memastikan ada tidaknya virus rabies.

“Tanpa data laboratorium, kita tidak mengetahui secara pasti di mana virus rabies sedang beredar,” ujarnya.

Padahal, pemeriksaan spesimen bukan pekerjaan sederhana. Petugas kesehatan hewan harus menangani kepala anjing yang diduga terinfeksi, mengambil jaringan otak sesuai prosedur keselamatan hayati (biosafety), lalu mengirim atau memeriksanya di laboratorium. Proses itu membutuhkan keahlian, kehati-hatian, dan perlindungan dari risiko paparan virus.

Belajar dari Kabupaten Sikka

Asep mengatakan, pendekatan berbeda mulai diterapkan di Kabupaten Sikka melalui konsep One Health, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan dalam pengendalian penyakit zoonosis.

Dalam mekanisme itu, korban gigitan yang datang ke fasilitas kesehatan tidak hanya memperoleh pencucian luka dan VAR. Mereka juga diarahkan melaporkan kasus tersebut kepada petugas kesehatan hewan agar anjing yang menggigit dapat diobservasi atau diperiksa di laboratorium.

Dengan cara itu, setiap kasus gigitan tidak hanya menyelamatkan korban, tetapi juga menghasilkan data epidemiologi untuk memetakan wilayah menjadi zona merah, kuning, atau hijau berdasarkan keberadaan virus rabies. Pemetaan tersebut menjadi dasar penentuan prioritas vaksinasi massal anjing dan intervensi lainnya.

Bagi Asep, pengendalian rabies tidak akan efektif jika pemerintah hanya berfokus melindungi manusia setelah gigitan terjadi. Yang tidak kalah penting adalah mengetahui lokasi virus dan memutus rantai penularan pada populasi anjing sebelum menjangkau manusia.

“Semakin baik surveilans, semakin akurat kita mengetahui lokasi peredaran virus rabies. Semakin akurat data yang dimiliki, semakin efektif pula strategi pengendalian yang dapat dilakukan. Untuk memenangkan perang melawan rabies, kita harus mengetahui terlebih dahulu di mana virus itu berada,” katanya.

Editor: Petrus Dabu

 

 

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA