“Pesta Kampung” di Labuan Bajo Merespons Peminggiran Musik Lokal dalam Industri Pariwisata

Videoge Arts and Society menyatakan keresahan terhadap fenomena terkikisnya ruang bagi musik daerah saat grup-grup band kian menjamur di kota pariwisata super premium.

Floresa.co – Komunitas di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur menggelar Pesta Kampung, festival budaya yang tahun ini mengangkat tema tentang pemajuan musik lokal dalam sektor pariwisata.

Videoge Arts and Society, komunitas beranggotakan kaum muda, budayawan dan pelaku seni lokal memilih tema “Rindo,” dalam festival yang  berlangsung pada 14-15 September. Rindo merupakan kata Bahasa Manggarai dalam dialek Kempo yang berarti “menyanyi.”

Rangkaian acara yang berpusat di Jalan Kembang Sepatu, Area Kantor Camat Komodo, menampilkan pertunjukan, lokakarya tematik dan pameran produk lokal Manggarai.

“Pesta Kampung ingin mengeksplorasi potensi budaya lokal,” kata Aden Firman, Koordinator Videoge sekaligus Tim Orkes acara tersebut.

Berbicara dalam konferensi pers pada 13 September, ia berkata, tahun ini merupakan edisi keempat Pesta Kampung sejak digelar pada 2022.

Inisiatif festival tersebut, jelas Aden, berangkat dari komitmen komunitasnya untuk mendorong kemajuan ekonomi masyarakat di tengah gegap gempita pariwisata super premium, sembari tetap memastikan kebudayaan masyarakat Labuan Bajo dan sekitarnya terus terjaga.

Menurut Aden, ada pola peminggiran seni musik dan lagu-lagu daerah Manggarai dalam pariwisata di Labuan Bajo.

Modernisasi yang bergerak cepat, jelasnya, membuat banyak tempat hiburan lebih menyukai seni musik modern, termasuk musik yang diproduksi menggunakan perangkat elektromekanis atau musik elektronik.

“Di kafe-kafe misalnya, banyak sekali grup band bermunculan, entah itu dari Labuan Bajo sendiri atau juga dari luar,” katanya.

Karena itu, kata Aden, Videoge berusaha mengangkat dan memperkuat imaji seni musik khas daerah Manggarai. Komitmen itu ikut menginspirasi komunitasnya mengangkat Rindo dalam festival tahun ini.

Dalam elaborasi lanjutan pada situs pestakampung.id, Videoge menjelaskan Rindo “membaca kota lewat suara warganya” dan “menghubungkan warisan budaya dengan produksi karya baru.”

Komunitas itu juga menjelaskan festival “mendorong produksi karya orisinal”, “membuka ruang belajar dan kolaborasi”, serta “menghubungkan kampung, kota, komunitas dan industri.”

Selain itu, Pesta Kampung berupaya mengarsipkan perkembangan musik di Labuan Bajo dan mengembangkan nilai ekonomi budaya secara berkelanjutan.

“Pesta Kampung berbeda dengan festival lain karena mengangkat hal-hal kecil yang ada dan hidup di tengah masyarakat,” kata Aden.

Berry Unggas, Manajer Program Pesta Kampung menyatakan mereka menemukan fakta masifnya grup band di kafe dan tempat-tempat hiburan, namun tidak banyak yang mengangkat seni musik khas daerah atau memproduksi lagu sendiri.

Dalam Pesta Kampung, katanya, mereka mengakomodasi seniman dan musisi lokal yang berkreasi untuk memproduksi budaya musik khas daerah.

“Ada grup band yang kita kurasi dan masuk dalam acara ini, ada juga yang tidak,” kata Berry.

Grup-grup band yang lolos kurasi, jelasnya, sudah memiliki lagu sendiri dan terkumpul dalam Album Rindo Volume 1. 

Pesta Kampung, kata Berry, juga bakal menampilkan aktivitas menyanyi atau rindo sebagai praktik keseharian masyarakat Manggarai.

Ia berkata, komunitas seni dari Liang Dara, desa wisata di Kecamatan Mbeliling yang berjarak sekitar 20 kilometer sebelah timur Labuan Bajo, akan mengisi acara rindo dan pementasan tari tradisional Caci.

Siklus Panjang Hingga Bincang Tematik

Sementara puncaknya pada pekan ini, Rindo punya rangkaian siklus panjang yang dimulai pada awal tahun.

Pada Januari-Maret, ada sesi pembuka “Nyanyian Sebelum Pesta”, periode persiapan yang mencakup penelusuran, perekaman, eksplorasi, eksperimentasi dan panggilan terbuka kepada seniman lokal untuk mengisi album kompilasi. Videoge juga memfasilitasi produksi podcast “Semacam Radio.”

Periode berikutnya berlangsung pada April-Agustus dengan agenda “Musik dalam Kota”, mencakup workshop dan penulisan buku “20 Tahun Musik di Labuan Bajo.”

Pada agenda puncak 14-15 September, Pesta Kampung berisi peluncuran buku, bincang tematik dan lokakarya yang menghadirkan kaum muda profesional, seniman, musisi dan budayawan, baik yang berasal dari Labuan Bajo maupun berbagai wilayah di Indonesia.

Hari pertama pada 14 September, agenda bincang tematik membahas topik “Ruang Ketiga; Aktivisme, Komunitas, dan Industri – Tetap Berkarya Tanpa Kehilangan Arah.” Sesi ini difasilitasi Upi atau Tuan Tigabelas, salah satu rapper dan musisi hip-hop Indonesia yang bernama asli Muhammad Syaifullah. Fasilitator lainnya adalah Aden Firman dan Iwan-Soulroots, rapper dari Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Bincang tematik lain pada 14 September terkait “Pasar Bisa Diciptakan, Bagaimana dengan Flores? Dari musik hingga Ekosistem Karya.” Sesi ini menghadirkan Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca, Muhammad Hilmi dari Whiteboard Journal dan Ney Dinan dari Rumah Tenun Baku Peduli. Adriani Miming dari Floresa menjadi moderator.

Tema berikutnya adalah “Membaca Kota sebagai Ruang Performatis – Seni Pertunjukan dan Lain Sebagainya” yang difasilitasi Ugoran Prasad dari Majelis Lidah Berduri, Ady Mbuik, Pegiat Event Flores dan NTT, dan Festi Maria dari Panitia Festival Golo Koe Keuskupan Labuan Bajo.  

Sedangkan tema “Festival sebagai Ekosistem adalah Festival yang Bertanggung Jawab” diisi Abdul Masli dari Atropos Indonesia, Sergina Loncle dari Inisiatif Kebudayaan, Lingkungan, Informasi, dan Media (IKLIM) dan Gregorius Afioma dari Sunspirit For Justice and Peace.

Aden Firman berkata, festival ini tidak hanya menampilkan panggung karya kreatif, tetapi juga “merayakan apa yang kita punya”, termasuk perspektif dan budaya kolektif yang berwawasan lingkungan.

Berry Unggas menambahkan, hal konkret yang dilakukan Komunitas Videoge terkait komitmen pada isu lingkungan adalah dengan memastikan sistem yang ramah lingkungan, salah satunya meminta pengunjung tidak membawa botol air berbahan plastik.

“Hal ini juga menjadi syarat dari beberapa narasumber yang hadir,” katanya.

Untuk mendukung hal itu, Pesta Kampung bekerja sama dengan Yayasan Lentera yang memiliki pengetahuan dan aktif dalam kampanye isu pengelolaan sampah dalam setiap penyelenggaraan festival.

“Kita juga bekerja sama dengan teman-teman volunteer dari Program Studi Ekowisata, Politeknik El Bajo,” katanya.

Menurut Berry, manajemen ramah lingkungan dipraktikkan sebelum maupun setelah acara, bagian dari cara agar Labuan Bajo bebas dari masalah sampah.

Editor: Anno Susabun

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA