Floresa.co – Kasus keracunan massal usai mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) membuat Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) memutuskan menghentikan distribusinya hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Eduard Markus Lioe mengeluarkan instruksi itu kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), unit operasional dalam program MBG, usai kasus keracunan pada 3 Oktober yang menimpa 384 orang yang mencakup siswa, guru, bayi dan ibu hamil di Kota Soe.
Korban berasal dari empat Posyandu, satu PAUD, tiga TK, lima SD, satu SMP serta dua SMA/SMK. Korban terbanyak berasal dari SD GMIT Soe 2, yakni 202 orang.
“Untuk sementara SPPG Dapur Kota Soe 1 tidak lagi melayani pendistribusian MBG hingga waktu yang tidak tentukan. Langkah ini kita ambil sebagai tindak lanjut kasus keracunan makanan yang terjadi pada 3 Oktober,” kata Eduard.
Eduard berkata, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang memicu keracunan itu belum keluar dan “kita masih menunggu.”
Ia menambahkan, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah penanganan terhadap trauma psikologis anak dan orang tua mereka, berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan.
Kasus keracunan pada 3 Oktober itu membuat Polres TTS membuka posko layanan medis darurat.
Kapolres AKBP Hendra Dorizen berkata posko itu membantu fasilitas kesehatan yang kewalahan menangani korban yang mayoritas peserta didik SD.
“Karena itu kami bantu membuka posko Kejadian Luar Biasa (KLB),” kata Dorizen pada 3 Oktober.
Deretan Kasus Keracunan di NTT
Kasus keracunan karena menu MBG di Soe menambah panjang daftar insiden serupa di NTT.
Kasus sebelumnya terjadi pada 24 September di SDI Liliba, Kota Kupang. Di sekolah itu 11 siswa dari kelas 5A dan 5D mengaku pusing, perut melilit, mual, panas tinggi dan muntah usai menyantap MBG.
Theresia Selan, salah satu korban berkata kepada Floresa “makanannya sudah basi dan bahkan ada yang telah berlendir seperti sayur, telur dan tahu.”
“Pas minum susu seperti ada kuning-kuning dan ulat,” katanya.
Para siswa sempat dirawat intensif pada 24-25 September di Rumah Sakit Leona Kupang.
MBG yang didistribusikan di SDI Liliba berasal dari SPPG Kayu Putih Oebobo.
Kornelia, salah satu orangtua korban mengaku anaknya sempat menolak makan setelah melihat telur “yang tampak basi.”
Anaknya memilih hanya meminum susu yang ternyata “sudah berwarna kuning dan ada ulat.”
Kepala SDI Liliba, Yohanes J Tukan mengaku mendapat bocoran informasi dari SPPG Kayu Putih Oebobo bahwa pelaksanaan MBG dihentikan sejak 29 September sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Ia berkata, keputusan tersebut merupakan hasil evaluasi menyeluruh bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Badan Intelijen Negara, Polresta Kupang dan Kepala SPPG Oebobo pada 25 September.
Dihubungi Floresa pada 6 Oktober soal perkembangan hasil uji sampel makanan MBG setelah peristiwa keracunan itu, Yohanes berkata “belum ada (informasi).”
Masih pada September, tujuh siswa SMK Negeri 1 Maumere di Kabupaten Sikka juga dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG yang didistribusikan oleh Yayasan Makmur Sejahtera.
Dalam kejadian pada 12 September itu, tiga siswa sempat dilarikan ke rumah sakit.
Pemimpin Yayasan Makmur Sejahtera, Sabinus Nabu membantah kabar tersebut, mengklaim penyebabnya bukan dari makanan yang diberikan oleh dapurnya.
Sebelumnya, kasus keracunan karena MBG juga terjadi pada 22 Juli yang menimpa 140 siswa SMP Negeri 8 Kupang.
Maria Theresia Lana, kepala sekolah itu mengaku kasus tersebut bermula ketika sejumlah siswa meminta izin ke toilet dan mengeluh sakit perut saat kegiatan belajar mengajar.
Beberapa siswa, katanya, mengaku tahu dan sayur di menu MBG terasa asam.
Dalam laporan hasil pemeriksaan laboratorium yang diteken pada 25 Juli, Dinas Kesehatan Provinsi NTT menemukan bakteri Strepcoccus Sp dan Staphylococcus dalam menu MBG itu.
Temuan kedua jenis bakteri itu terdapat pada dua jenis makanan yang berbeda. Bakteri Strepcoccus Sp ditemukan pada daging sapi, sementara bakteri Staphylococcus pada sayur tumis buncis campur wortel.
Kedua bakteri itu memicu gangguan pencernaan dan infeksi pada tubuh dan menyebabkan gejala keracunan seperti mual, muntah, dan diare.
Selain di Pulau Timor dan Flores, kasus keracunan MBG di NTT juga di terjadi di Pulau Sumba.
Kasus pertama terjadi pada 18 Februari. Korbannya adalah 29 siswa di SDK Andaluri, Kabupaten Sumba Timur.
Pada 26 Juli, 77 siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya juga keracunan usai mengonsumsi ikan menu MBG.
Kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat Daya, Yulianus Kaleka merinci para siswa itu berasal dari SMK Negeri 1 Kota Tambolaka (53 orang), SMK Don Bosco (17 orang) dan SMK Negeri 2 Kota Tambolaka( 7 orang).
Ia berkata, para siswa sempat dirawat di Rumah Sakit Karitas Weetebula, Rumah Sakit Umum Reda Bolo dan Puskesmas Radamata.
Kasus Secara Nasional Terus Bertambah
Dilansir dari Tempo.co, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan korban kasus keracunan karena MBG hingga 4 Oktober 10.482 orang.
Dari jumlah itu, ada penambahan 1.833 orang pada 29 September hingga 4 Oktober.
Koordinator JPPI Ubaid Matraji menyebut kenaikan jumlah keracunan itu lebih tinggi dibanding rata-rata korban mingguan selama September yang mencapai 1.5341 anak perminggu.
NTT masuk dalam radar catatan JPPI sebagai provinsi kelima tertinggi untuk penambahan kasus baru yang mencapai 100 orang.
Posisi teratas adalah Jawa Timur yang mencatat 620 korban, disusul Jawa Barat sebanyak 555 orang, Jawa Tengah 241 orang dan Sumatera Barat 122 orang.
Dengan tingginya tren kasus keracunan MBG ini, menurut Ubaid, persoalan bukan hanya terjadi karena kelalaian semata, melainkan ada faktor pembiaran terhadap keselamatan anak.
Lonjakan korban keracunan ini, katanya, sekaligus menunjukkan bahwa langkah pemerintah yang hanya menutup sebagian SPPG tidak efektif dalam mencegah kasus keracunan.
Editor: Ryan Dagur




