KISAH BUTA
Matanya terkatup-katup rapat
Melangkah gontai arungi senja
Baru saja hujan deras mereda
sejenak sunyi, lantas merintik kembali
‘Entah, selalu begitu!’
Matanya tetap, rapat membuta
sepi langkahnya kian berenergi
menyusup gelap Labuan Bajo bermandi cahaya.
Ia bangga, dan selalu menggila
pada kehampaan semu;
‘entah, hanya ia yang tahu!’
Tak ada gedung, tinggi berdiri.
Apa pula gemerlap lampu derita.
Hanya bising! Suara-suara yang asing.
Tambah pula, dentum musik dewa-dewa harta.
Terus ia menyusur waktu,
Entah kemana hendak pergi,
pastilah takan kembali!
DARAH
Hanya darah, dan darah!
tercecer sejengkal pagar bergeser,
adalah jiwa yang siap melayang!
Gapai damai lima enam tumbang,
Bersimbah darah!
‘Kakek menyusul ayah,
tak kukenal nama mereka yang sebelah’’
nyata ibu membual kisah,
antara doa dan pasrah,
nadanya rendah,
menyentuh tanah,
mengenang jiwa-jiwa yang melayang,
mengutuk waktu yang takan lelah:
menjelma segela detik terjual.
Labuan Bajo, 2016
Lian Kurniawan adalah alumni SMK St. Fransiskus Xaverius Ruteng. Ia pernah kuliah sastra Inggris di Universitas Sanatha Darma Jogja, tetapi harus berhenti karena masalah ekonimi. Sekarang ia berkerja sebagai ‘tukang kebun’ dan English Speaking Tour Guide di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Ia mengaku, kedua puisinya ini terinspirasi oleh kenyataan di Labuan Bajo tentang kecendrungan orang untuk menjual tanah mereka kepada para investor, hal yang ia nilai ironis ketika mengingat kisah perang tanding di beerapa tempat pada waktu silam yang mengorbankan jiwa mereka hanya untuk merebut tanah diperbatasan.