Tak Cukup dengan Sembako, Penyintas Erupsi Lewotobi Laki-laki Butuh Program Pemberdayaan untuk Bangkit 

Sejauh ini, sudah ada lembaga non-pemerintah yang menginisiasi beberapa kegiatan pemberdayaan

Floresa.co – Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur meninggalkan jejak duka di hati warga yang tinggal di kaki gunung setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut itu.

Rumah-rumah yang dulu menjadi tempat berlindung kini menjadi kenangan. Lahan pertanian yang subur masih berselimut abu dan debu.

Mereka belum bisa kembali karena gunung tersebut masih berada pada level tertinggi atau Awas. Menurut laporan tertulis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang diterima Floresa pada 8 September, aktivitasnya masih tinggi. 

Sejak mengungsi pada November, pemerintah memang masih memberi bantuan sembako. Namun, bagi para penyintas, hal itu tidak cukup karena mereka harus tetap memikirkan kehidupan ekonomi.

Hermina Ene Temu, warga Desa Dulipali, Kecamatan Ile Bura yang tinggal di Huntara Satu di Desa Konga, Kecamatan Titehena berkata, pengungsi membutuhkan program pemberdayaan.

“Penyintas itu mampu untuk mandiri,” namun, “bingung harus memulainya dari mana dan ke mana,” katanya kepada Floresa pada 7 September.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah karena sudah banyak membantu, namun perlu juga pemberdayaan agar kami bisa keluar dari keterpurukan,” tambahnya.

“Pemerintah hanya datang memberi kami bantuan, lalu pulang. Mereka tidak melihat dan menggali potensi di sini dan kemudian diberdayakan dengan cara apa,” tambahnya. 

Hermina mengaku pernah mengikuti pelatihan membuat keripik serta bantuan benih sayur-sayuran dan polybag sebagai media tanam. 

Bantuan itu muncul dari Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS), lembaga non-pemerintah yang berbasis di Waibalun, Larantuka.

Bantuan benih dan polybag  dibagi kepada lima orang. Setiap orang mendapat satu bungkus. 

Karena itu, menurut Hermina, hasilnya tidak cukup untuk usaha, hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. 

“Saya pernah menanam, namun hanya bisa sepuluh polybag,” katanya, menambahkan kondisi tanah setelah panen kedua tidak lagi produktif.

Sementara, pelatihan membuat keripik “hanya untuk orang yang berusaha kuliner.” 

“Memang saya ikut pelatihan, namun saya tidak punya usaha kuliner,” kata perempuan yang sebelumnya berjualan pulsa ponsel dan listrik ini.

Rofina Dole Iri, warga Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang yang tinggal bersama Hermina di Huntara Satu juga mengaku pernah mengikuti pelatihan, namun kegiatan itu tak lagi berlanjut.

Berbeda dengan Hermina yang mendapatkan bantuan dan pelatihan dari YPPS, Rofina mendapat bantuan dari Gereja Kristen Indonesia (GKI).

Lembaga itu, kata dia, memberikan bantuan alat pertanian, benih sayur-sayuran, seperti tomat, terung, dan sawi – masing-masing dua bungkus – serta bantuan setengah kilogram benih kangkung.

Bantuan tersebut dibagikan kepada 12 anggota kelompok. Sebelum mendapatkan bantuan, Rofina mengaku telah menggarap lahan seluas kurang lebih setengah hektar untuk menanam sayur.

Lahan itu milik Chiki Boruk, warga Desa Konga, Kecamatan Titehena,  tempat mereka mengungsi selama ini. 

Kebun garapan berjarak sekitar 1,6 kilometer dari Huntara Satu, tempat Rofina dan penyintas lainnya mengungsi.

Rofina Dole Iri saat mengunjungi kebun sayurnya di Desa Konga, Kecamatan Titehena pada 5 September 2025. (Dokumentasi pribadi)

Rofina berkata, sebelum diberi bantuan, syaratnya harus ada kelompok tani. 

Karena itu, “saya berusaha bentuk kelompok tani” bernama Krian Poin Konga. 

Krian Poin merupakan bahasa daerah Boru, Kecamatan Wulanggitang yang berarti kerja saja, sementara Konga merupakan nama desa di Kecamatan Titehena. 

Rofina berkata, nama Krian Poin itu muncul di tengah kebingungan para penyintas selama berada di pengungsian.

“Apa yang harus kami kerja? Akhirnya kami minta penduduk asli Desa Konga punya tanah,” katanya. 

Lahir dari kebingungan, kata dia, nama Krian Poin menjadi energi baru bagi penyintas untuk tetap bekerja, sekalipun sedang dalam kondisi terpuruk karena bencana berkepanjangan.

Perlu Wadah untuk Pemasaran

Meski program pemberdayaan sudah dilakukan lembaga non-pemerintah, masalah lainnya yang juga mendesak adalah akses pasar untuk produk yang dihasilkan.

Program pemberdayaan di hulu tak akan berkelanjutan apabila wadah untuk memasarkan hasil produksi itu tak tersedia.

Mengisi kekosongan wadah pemasaran itu, Yayasan Nusa Lestari Hijau (YASNURIH) menggelar bazar pada 7 September untuk membantu penyintas mengakses pasar yang lebih luas.

Mengusung tema Lewotobi Run For Humanity, bazar itu diadakan di halaman Gereja San Juan dan halaman Gereja Katedral Reinha Rosari, keduanya di Larantuka.

Ketua YASNURIH, Liberius Langsinus berkata, bazar itu merupakan wadah bagi penyintas menjual produk mereka seperti sayur, ubi-ubian, buah-buahan dan kemasan makanan lokal.

Menurutnya, di tengah keterbatasan akibat bencana, selama ini para penyintas tetap melakukan kegiatan ekonomi, seperti bertani.

“Lalu siapa yang menyiapkan ruang untuk mereka berjualan karena mereka sama-sama sedang dalam kesulitan,” katanya kepada Floresa pada 7 September saat ditemui di kantornya.

Karena itu, kata dia, bazar menjadi salah satu wadah pemasaran.

“Kami murni mendukung dalam konteks pemasaran,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu, kata Liberius, penyintas membawa dua pikap sayur dan berbagai produk olahan.

“Itu semua terjual habis,” dengan pendapatan penyintas Rp4.685.000.

“Ini di luar dugaan, sambutan umat begitu luar biasa. Ada penyintas yang terharu, ada yang bangga dan ada yang tidak menyangka, kenapa ini bisa terjadi. Ada juga yang bertanya, kenapa dari dulu tidak ada yang lihat kami seperti ini?” ujarnya.

Ketua YASNURIH, Liberius Langsinus (Kanan) dan Sekretaris, Donatus Kopong Lein (Kiri) usai ditemui Floresa di kantor mereka pada 7 September 2025. (Dokumentasi Floresa)

Rofina Dole Iri yang menjadi salah satu peserta dalam bazar itu mengaku selama ini ia hanya memasarkan sayur hasil produksinya ke sesama penyintas di Huntara.

“Kalau di Huntara, saya hanya mampu mendapat Rp60.000 sekali jual, karena keterbatasan ekonomi sesama penyintas,” katanya. 

Sementara saat bazar itu, Rofina meraup Rp110.000 dari 22 ikat sawi.

“Saya jual dengan harga Rp5.000/ikat,” katanya. 

Hermina Ene yang juga menjadi peserta bazar itu berkata, setelah sebelumnya ia hanya bisa menjual pulsa listrik dan ponsel, kini setelah mendapat tawaran dari YASNURIH, ia kemudian berdagang produk pertanian dan kerajinan. Produk itu ia beli dari petani dan perajin.

“Tadi itu ada ubi, ada buah pepaya, ada sayuran labu Jepang, ada tomat, ada kerupuk dari singkong, terus cemilannya itu kacang sembunyi,” kata Hermina menyebutkan barang dagangannya selama bazar itu. 

Jualan lainnya adalah kue, sorgum, tepung sorgum dan tas rajut untuk kaum perempuan.

Umat Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka bersama Romo Lukas Laba Arak (berjubah putih) membeli cemilan yang dijual Rofina Dole Iri (jacket jeans), Veronika Raha Lewar (kaos blaster) dan Anastasia Ana Iri (jacket cokelat) di halaman gereja pada 7 September 2025.(Dokumentasi YASNURIH)

Hermina membeli hasil pertanian dan hasil kerajinan tangan itu dengan modal awal Rp350.000. Ditambah uang transportasi, ia membutuhkan modal Rp400.000 untuk terlibat dalam kegiatan bazar itu.

“Dari hasil jualan, saya dapat untung bersih Rp460.000,” katanya. 

Hermina dan Rofina mengapresiasi bazar tersebut, lantaran sebelumnya bingung mencari pasar. 

Tak hanya itu, mereka juga berkata, uang transportasi pergi ditanggung YASNURIH, sementara pulang ditanggung sendiri.

Mereka mengklaim, langkah ini tidak hanya membantu memulihkan ekonomi, tetapi juga psikologi. 

“Saya rasa tenang dan bahagia sekali. Memang banyak yang datang di pengungsian, tetapi tidak bisa memberikan hal baru seperti ini,” kata Hermina.

Liberius Langsinus berkata, selain pemulihan ekonomi, YASNURIH juga berupaya  membantu pemulihan psikologi penyintas. 

Menurutnya, membawa penyintas keluar dari pengungsian, berinteraksi dengan orang dan lingkungan baru adalah salah satu upaya untuk pemulihan psikologi itu. 

Editor: Petrus Dabu

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA