Floresa.co – Tantangan besar yang dihadapi Indonesia—mulai dari krisis iklim, kesenjangan sosial hingga menyusutnya ruang-ruang berdemokrasi—menjadi bahan diskusi para pemuda di wilayah Bali-Nusa Tenggara dalam acara di Kupang, NTT pekan ini.
Bertajuk “Muda Bersua(ra),” acara yang digelar WeSpeakUp.org pada 24–28 September itu mempertemukan 26 pemuda yang disebut penggerak sosial di Bali dan Nusa Tenggara untuk belajar bersama, menyatukan gagasan dan menyusun langkah kolektif memperkuat gerakan sosial di wilayah masing-masing.
WeSpeakUp.org adalah organisasi nirlaba yang berfokus membangun ruang bersuara bagi kelompok terpinggirkan, khususnya perempuan dan orang muda. Kerjanya berlandaskan tiga pilar-penguatan kapasitas, partisipasi warga dan bercerita atau storytelling.
Menurut organisasi itu, acara ini dirancang sebagai ruang aman bagi generasi muda lintas isu untuk saling berjejaring, memperkuat kapasitas, serta berefleksi tentang masa depan perjuangan sosial. Topik yang dipilih meliputi keamanan holistik, strategi kampanye digital dan artivisme—aktivisme berbasis seni.
“Di tengah situasi penuh tantangan ini, kami percaya suara orang muda memiliki kekuatan untuk membuat perubahan yang bermakna,” kata Desmarita Murni, salah satu pendiri dan Direktur Eksekutif WeSpeakUp.org.
“Muda Bersua(ra) adalah ruang merayakan semangat perubahan, sekaligus tempat di mana gagasan para penggerak lokal bertemu dan menjadi aksi nyata,” tambahnya.
Ia menegaskan, forum ini juga menjadi ruang refleksi agar orang muda “menyusuri kembali apa yang mereka perjuangkan dan bagaimana memperjuangkannya secara lebih efektif.”
Bali dan Nusra: Simpul Penting Gerakan Lintas Isu
Kupang menjadi lokasi kedua rangkaian Muda Bersua(ra) setelah sebelumnya digelar di Palu, Sulawesi Tengah pada Mei.
Pemilihan Kupang sebagai simpul regional Bali-Nusa Tenggara menegaskan pentingnya peran daerah ini dalam pengembangan gerakan kolektif orang muda di Indonesia timur, menurut WeSpeakUp.org.
Selama lima hari, peserta mendalami isu-isu strategis di daerahnya sembari memperluas jejaring dengan komunitas lokal. Mereka juga belajar dari pegiat seni di Kupang yang karya-karyanya dikenal sebagai media advokasi yang kuat.
Adriani Miming, jurnalis Floresa yang menjadi salah satu peserta acara berkata, ruang seperti ini menjadi penting karena bersentuhan langsung dengan “isu-isu mendesak yang kami hadapi.”
Ia mencontohkan masalah yang kini mengancam Taman Nasional Komodo (TNK) karena rencana pembangunan 619 fasilitas pariwisata di Pulau Padar oleh PT Komodo Wildlife Ecotourism (KWE).
Rencana itu, yang menjadi salah satu fokus perhatian Floresa, menuai penolakan dari berbagai elemen sipil dan warga karena menduga ada kongkalikong dalam pemberian izin maupun kebijakan pemerintah yang memuluskan langkah korporasi.
Salah satu alasannya adalah izin PT KWE terbit pasca perubahan zonasi Taman Nasional Komodo pada 2012 yang mengubah status Pulau Padar dari sebelumnya hanya terdiri atas zona inti dan zona rimba menjadi zona pemanfaatan seluas 303,9 hektare. Izin PT KWE terbit dua tahun kemudian, mencakup 274,13 hektare zona pemanfaatan di sepanjang pesisir utara pulau itu.
Adriani menyinggung kompleksitas isu semacam ini, termasuk terkait dengan dimensi ekonomi politik yang berkelindan dengan kepentingan aktor kuat di balik korporasi, hal yang membuat advokasi menjadi menantang.
Mathilde, Koordinator Program Muda Bersua(ra) di Kupang berkata, “acara ini tidak hanya ruang bertemu, tetapi benar-benar ruang berbagi gagasan dan pengalaman di mana orang muda penggerak dari Bali dan Nusa Tenggara saling menemukan kekuatan kolektif.”
“Dengan menghubungkan gagasan, cerita dan strategi, kami berharap acara ini memberi napas baru bagi gerakan muda di wilayah ini,” katanya.

Fondasi Gerakan Akar Rumput
Selain pelatihan intensif bagi 26 peserta, panitia juga membuka Coaching Clinic Muda Bersua(ra) untuk masyarakat umum. Sesi ini mengajak peserta mengenali isu sosial di Bali-Nusa Tenggara dan menerjemahkannya ke dalam kampanye sosial yang berdampak.
Pembicara yang dihadirkan antara lain Frida Kurniawati dari WeSpeakUp.org yang bicara soal penguatan kapasitas orang muda dan perempuan; Sakdiyah Ma’ruf, komika dari Our Comedy For Change tentang kekuatan seni dan komedi sebagai media advokasi; Thalitha Avifah Yuristiana dari Think Policy dan Bijak Memantau tentang kerja advokasi kebijakan; dan Elsy Grazia, penulis dan pembuat film yang berbagi praktik mengubah keresahan sosial menjadi karya kreatif.
Coaching Clinic ini juga menggelar kompetisi konten media sosial untuk mendorong peserta menuangkan gagasan menjadi karya inspiratif.
Dengan hadirnya Muda Bersua(ra) di Kupang, Mathilde berharap lebih banyak orang muda terlibat bukan hanya sebagai penonton perubahan, tetapi sebagai penggerak aktif yang percaya suara dan karya mereka mampu membangun masyarakat inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan.
Muda Bersua(ra), kata Mathilde, bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari visi besar menyiapkan platform berkelanjutan bagi gerakan orang muda.
Hingga 2027, program ini menargetkan hadir di empat regional besar—Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan dan Maluku-Papua.
Saat ini ada lebih dari 200 alumni program kepemimpinan Muda Bersua(ra) yang telah meluncurkan kampanye sosial di 28 provinsi dengan isu beragam, mulai dari lingkungan, ruang sipil hingga kesetaraan gender.
“Jika kita berbicara tentang perubahan, maka kita sedang berbicara tentang mereka, orang-orang muda yang bergerak di akar rumput dengan semangat yang terus menyala. Kami percaya bahwa perubahan besar dimulai dari gerakan kecil dengan fondasi yang kuat dan melalui Muda Bersua(ra), kami ingin menguatkan fondasi itu,” kata Mathilde.
Sebagai bentuk dukungan dan apresiasi terhadap kerja keras penggerak muda, jelasnya, Muda Bersua(ra) diharapkan mampu menjadi energi baru bagi mereka untuk terus bergerak di tengah tantangan yang ada.
“Kami tidak hanya ingin mendukung, tetapi juga merayakan peran penting anak muda dalam gerakan sosial. Muda Bersua(ra) adalah simbol apresiasi dan harapan bagi mereka yang terus bergerak di akar rumput dengan idealisme dan keberanian besar,” katanya.
“Ini adalah awal dari perjalanan besar kita bersama untuk menciptakan masyarakat yang inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan,” tambah Mathilde.
Editor: Herry Kabut




