Jasad Perempuan yang Ditemukan Dekat Sungai di Manggarai Dua Bulan Lalu Diautopsi, Keluarga Menanti Hasil Pemeriksaan Forensik

Keluarga terus berharap mendapat kepastian penyebab kematian

Floresa.co – Tenda berdinding terpal berdiri kokoh di tengah pekuburan umum Kampung Purang, Desa Buar, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, NTT pada 26 November.

Di balik terpal itulah jasad Restina Tija, 31 tahun, yang hanya tersisa tulang belulang dengan sedikit daging yang melekat pada rangka bagian pinggang dibaringkan kembali usai digali dari kuburnya (ekshumasi), menanti proses autopsi yang diharapkan memberi titik terang atas kematiannya.

Floresa menyaksikan langsung kondisi di sekeliling tenda itu, di mana warga Purang sudah berkumpul sejak pukul 10.50 Wita. 

Puluhan warga juga memenuhi area pemakaman. 

Hadir pula para tokoh adat, Kepala Desa Buar, Marselinus Ebok serta sejumlah polisi dari Polres Manggarai.

Sembari menanti kedatangan Tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda NTT yang tiba pukul 12.00, keluarga besar memulai upacara adat “tesi” untuk meminta restu Restina sejak pukul 08.00. 

Autopsi pun dimulai pada pukul 12.18, dipimpin dr Edwin Tambunan dan Briptu Saint V Tefnai, didampingi dr Isna Buntanus dari Puskesmas Nanu, Kecamatan Rahong Utara.

Kampianus Raru, suami Restina, bersama beberapa anggota keluarga dekat, diperbolehkan masuk ke dalam tenda untuk menyaksikan jalannya autopsi. 

Sementara itu, warga yang sejak pagi memadati area pemakaman tetap berdiri di luar tenda.

Tenda tempat autopsi jasad Restina Tija. (Dokumentasi Floresa)

Sekitar 13.00, suara mesin potong terdengar jelas dari balik terpal. Suaranya yang tajam memecah keheningan kawasan pemakaman. 

Aroma menyengat dari jenazah yang telah lama dimakamkan itu mulai menguar, membuat beberapa warga menutup hidung dengan tangan dan kain, namun tidak satu pun beranjak dari tempat mereka. 

Semua tetap ingin mengikuti proses tersebut sampai selesai.

Autopsi berakhir pada pukul 13.32. Tim forensik keluar dari tenda, warga dan keluarga menyambut mereka, menanti penjelasan yang bisa membantu mengungkap penyebab kematian Restina.

Ahli forensik, dr Edwin Tambunan berkata, seluruh hasil autopsi nantinya akan diserahkan kepada penyidik Polres Manggarai.

“Visum nanti saya selesaikan dan serahkan kepada penyidik. Dari sana baru bisa menjadi jelas,” katanya.

Edwin berkata hasil autopsi itu cepat, namun banyaknya kasus serupa di Kupang membuatnya meminta tambahan waktu.

“Karena jenazah sudah berbulan-bulan sejak ditemukan, sampel organ sudah tidak lagi layak diperiksa. Jadi, tidak ada organ yang diambil,” katanya.

Ahli Forensik, dr Edwin Tambunan saat memasuki tenda untuk mengautopsi jasad Restina Tija di pekuburan Kampung Purang, Desa Buar, Kecamatan Rahong Utara. (Dokumentasi Floresa)

Keluarga Menunggu Jawaban

Kepada jurnalis yang tak diizinkan masuk ke dalam tenda, Kampianus mengisahkan bahwa ia melihat langsung kondisi jenazah istrinya yang saat itu hanya tersisa tulang belulang dengan sedikit daging di bagian pinggang.

“Saya merasa sedih dan tidak pernah membayangkan harus melihat istri saya dalam keadaan seperti itu,” katanya 

Ia berkata selama pemeriksaan, tim forensik menemukan sejumlah hal pada kerangka istrinya.

“Mereka menjelaskan ada tiga tulang pinggang bagian belakang yang hilang,” katanya. 

“Selain itu, ada juga bagian tulang dada yang terlihat memar menghitam, sehingga dokter harus mencuci bagian tersebut berulang kali untuk memastikan bentuk dan warnanya.”

Pakaian yang dikenakan Restina, kata dia, tampak robek di beberapa bagian.

“Untuk memeriksa kemungkinan adanya luka tusukan di kepala, tim forensik harus membelah tulang kepala menggunakan mesin potong,” katanya.

Ia berkata setelah proses autopsi, tim forensik memintanya mencuci hingga bersih pakaian Restina yang menjadi barang bukti dalam kasus ini.

“Barang bukti itu berupa sweater hitam yang banyak robek, satu pasang sandal hitam dan penjepit rambut. Setelah selesai mencuci, saya diminta polisi untuk menyerahkan kembali barang bukti tersebut,” katanya.

Kampianus Raru memperlihatkan kepada wartawan sweater hitam milik Restina Tija yang robek. (Dokumentasi Floresa)

Kampianus berharap hasil pemeriksaan tersebut bisa menjawab apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya, supaya keluarganya mendapat kepastian.

Hermanus Anca, kerabat Restina yang juga ikut menyaksikan autopsi membenarkan sejumlah temuan yang disebut Kampianus. 

Ia misalnya menyaksikan ”bagian tulang dada terlihat memar menghitam” dan pembelahan tulang kepala dengan mesin potong. 

Sementara itu, Konstantinus Damar, ayah kandung Restina berkata keluarga menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kematian putrinya kepada pihak kepolisian. 

“Saya berharap mereka bisa menemukan titik terang dari kematian anak saya,” katanya. 

Pada 7 November, keluarga besar Restina mendatangi Polres Manggarai meminta kejelasan penyelidikan dan mendesak agar autopsi segera dilakukan. 

Mereka mengaku telah menunggu dua bulan tanpa perkembangan berarti, sementara makam Resti mulai tergenang air hujan karena belum dilapisi semen.

Selain itu, mereka juga meminta polisi melakukan penyelidikan serius, termasuk memeriksa tetangga yang kemungkinan mengetahui kejadian itu.

Kepada polisi, mereka melaporkan adanya orang yang mengetuk rumah salah satu keluarga pada dini hari 18 Oktober, yang mereka curigai berkaitan dengan kematian Restina. 

Restina ditemukan pada 18 September dengan kondisi tak bernyawa dan tubuh membusuk di tepi Sungai Wae Mese, Kecamatan Satarmese Barat.

Saat ditemukan, kepalanya terpisah sekitar 1,5 meter dari tubuhnya. 

Kampianus, yang merantau ke Papua, mengatakan terakhir berkomunikasi dengan istrinya pada 27 Agustus lewat panggilan video dan melihat istrinya tampak sehat. 

Sehari kemudian, ia mengirim uang Rp1.050.000, namun setelah itu pesan WhatsApp-nya hanya centang satu.

Ia diperiksa polisi pada 24 September dan diberi penjelasan bahwa jasad Restina ditemukan dalam kondisi membusuk, perut terbelah dan organ dalam hilang. 

Polisi juga menunjukkan sebilah pisau yang ditemukan di lokasi.

Kampianus menduga istrinya menjadi korban pembunuhan, terutama karena ponselnya tidak ditemukan.

Editor: Anno Susabun

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA