Telan Anggaran Lebih dari Rp3 Miliar, Fasilitas Wisata di Pantai Cepi Watu, Manggarai Timur Kini Tak Terawat

Dinas Pariwisata mengakui kerusakan fasilitas tersebut, namun penataan ulang baru bisa direncanakan pada 2027.

Floresa.co – Bangunan-bangunan yang dibangun dengan anggaran sekitar lebih dari Rp3 miliar di kawasan wisata Pantai Cepi Watu, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, kini banyak yang rusak dan terbengkalai.

Saat Floresa mengunjungi kawasan wisata itu pada 2 Juli pagi, tak ada petugas berjaga di loket masuk dekat gerbang. Beberapa pegawai terlihat berkumpul di ruang petugas di bagian tengah kawasan itu.

Di sisi kanan gerbang, bangunan Tourist Information Center (TIC) nyaris tak terlihat. Ranting-ranting pohon beringin menjalar hingga ke atap, sementara daun-daun kering menumpuk di sekeliling bangunan – tanda tempat itu sudah lama tak dibersihkan.

Tak jauh dari sana, di depan ruang petugas, bagian menara bangunan itu telah rusak parah. Atapnya ambruk, seng-seng terlepas, dan rangka kayunya mulai lapuk.

Enam bangunan Art Shop berukuran 3 x 4 meter yang dibangun untuk pelaku UMKM pun bernasib serupa. Bagian depannya dipenuhi rerumputan liar. Salah satu pintunya masih terbuka dan didalamnya hanya terdapat tumpukan barang bekas.

Deretan bangunan beratap ijuk di sisi utara itu bahkan tidak lagi dikenali fungsinya oleh pengunjung.

“Sudah lama itu, tapi saya tidak itu bangunan apa,” kata Onis, pengunjung yang ditemui Floresa di lokasi.

Panggung amphiteater yang pernah digadang-gadang menjadi ikon Cepi Watu juga tak luput dari pengabaian. Anak tangganya ditumbuhi rumput liar, catnya memudar, dan kondisi sekitarnya dipenuhi sampah.

Panggung amphiteater di kawasan wisata Pantai Cepi Watu ditumbuhi rumput liar di sepanjang anak tangganya. (Dokumentasi Floresa)

Pantauan Floresa sejumlah nelayan membersihkan perahu mereka di depan panggung amphiteater yang mubazir itu.

Onis menyebut, selain akhir pekan, kawasan wisata itu memang sepi pengunjung. 

“Makanya saya masuk tanpa tiket,” katanya.

Pendapatan Belum Sampai 10 Persen dari Anggaran Pembangunan

Pembangunan destinasi wisata Cepi Watu dilakukan pada 2021 dengan menelan anggaran sekitar Rp3,3 miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus  Kementerian Pariwisata.

Anggaran itu dibagi ke dalam lima paket pekerjaan, yakni pembangunan toilet dengan nilai kontrak Rp560.877.000, panggung kesenian atau amphiteater Rp1.144.893.000, gazebo Rp324.767.000, TIC Rp388.811.000, dan kios cenderamata Rp288.941.000.

Kala itu, Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Timur, Albertus Rangkak menyebut bahwa pembangunan tersebut sebagai upaya meningkatkan daya tarik wisata sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

“Geliat ekonomi mulai tumbuh sudah di sana,” katanya seperti dikutip dari Voxntt.com.

Retribusi dari Pantai Cepi Watu memang masih menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Namun, pendapatan dari kawasan wisata itu justru cenderung menurun usai pembangunan sejumlah fasilitas itu.

Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Timur menunjukkan retribusi dari Pantai Cepi Watu mencapai Rp66,13 juta pada 2020, Rp67,20 juta pada 2021. 

Namun, sejak 2022, realisasi retribusi tidak pernah lagi mencapai target pemerintah daerah. Pada tahun itu realisasinya hanya Rp61,2 juta dari target Rp73,9 juta. Pada 2023 turun menjadi Rp53,5 juta dari target Rp80,6 juta.

Penurunan paling tajam terjadi pada 2024 ketika target dipatok Rp123 juta, tetapi realisasinya hanya Rp24,7 juta. Pada 2025, dengan target yang sama, realisasi hanya naik menjadi Rp31,31 juta.

Secara keseluruhan, total retribusi yang dipungut dari Pantai Cepi Watu sepanjang 2020–2025 baru sekitar Rp304 juta – belum mencapai 10 persen dari nilai pembangunan kawasan tersebut.

Dengan rata-rata penerimaan seperti sekarang, dibutuhkan sekitar 65 tahun hanya untuk menutup biaya pembangunan, sementara sebagian bangunannya sudah rusak dalam waktu sekitar empat tahun.

Bangunan Tourist Information Center (TIC) di kawasan wisata Pantai Cepi yang tampak tak terawat. Ranting pohon beringin merambat hingga ke atapnya.(Dokumentasi Floresa)

Data dinas juga menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan ke Pantai Cepi Watu mencapai 14.318 orang pada 2020, 14.160 orang pada 2021, 12.281 orang pada 2022, 10.760 orang pada 2023, 5.020 orang pada 2024, dan 20.019 orang pada 2025.

Lonjakan kunjungan pada 2025 terjadi karena angka tersebut digabung dengan jumlah pengunjung Festival Pantai Ligota.

Festival Pantai Ligota merupakan agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur untuk mempromosikan pariwisata daerah. Berlokasi di Pantai Ligota, Desa Compang Ndejing, Kecamatan Borong, festival ini mulai digelar sejak dua tahun lalu. 

Penataan Baru Direncanakan Tahun Depan

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Timur, Rofinus Hibur, mengakui bahwa sebagian sarana dan prasarana di Cepi Watu telah mengalami kerusakan.

“Sebagian sudah rusak karena konstruksinya terbuat dari besi sehingga sudah berkarat,” katanya kepada Floresa pada 6 Juli.

Rofinus berkata, panggung seni di sisi timur kawasan sempat digunakan untuk pergelaran musik pada 2022, 2023, dan 2024 dengan menghadirkan kelompok musik lokal seperti Borong Bermusik dan Ring Roots.

Namun, sejak itu, kata dia, tidak ada lagi kegiatan serupa karena pada 2024 dan 2025 dinas memusatkan kegiatan pada Festival Pantai Ligota– event tahunan yang diselenggarakan Pemkab Manggarai Timur. 

Terkait enam bangunan art shop yang sedianya diperuntukkan bagi pelaku UMKM untuk berjualan, ia berkata, kios-kios itu sempat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM di sekitar Cepi Watu, namun tidak bertahan lama.

Bangunan Art Shop yang dibangun untuk pelaku UMKM di kawasan wisata Pantai Cepi Watu kini kosong dan tak lagi difungsikan. (Dokumentasi Floresa)

Mengenai pemanfaatan kembali bangunan-bangunan yang kini terbengkalai, ia berkata, ruang fiskal pemerintah daerah pada 2026 masih sangat terbatas sehingga penataan ulang kemungkinan baru dapat direncanakan pada 2027.

Padahal, dalam laporan TribunFlores pada April 2024, ia sempat berjanji segera memfungsikan kembali bangunan-bangunan itu. 

“Kami akan segera ditindaklanjuti,” katanya merespons temuan bahwa bangunan tempat jualan di kawasan itu terancam mubazir.

Lebih dari setahun kemudian, belum terlihat adanya perbaikan. 

Saat Floresa kembali mendatangi Pantai Cepi Watu pada 15 Juli, lima orang  pegawai – tiga laki-laki dan dua perempuan — terlihat duduk santai di depan ruang petugas sambil merokok dan minum kopi. Salah satu dari mereka semula bertugas di loket masuk, sebelum akhirnya ikut bergabung duduk santai di depan ruangan itu.

Pantauan Floresa, tidak ada satu pun pengunjung di kawasan itu.

Floresa mencoba meminta keterangan para pegawai terkait alasan mereka tidak membersihkan dan merawat bagunan-bagunan tersebut.

Namun, salah seorang pegawai mengklaim mereka tidak bisa memberi keterangan apapun karena “informasi harus satu pintu.”

Saat diberi tahu bahwa Floresa sudah meminta keterangan Rofinus, pegawai tersebut berkata, “keterangan kepala dinas hanya mencakup hal-hal umum, bukan persoalan teknis semacam ini.”

Antonius Cangkung, Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Manggarai Timur. (Dokumentasi Floresa)

Ia menyarankan Floresa agar menghubungi Kepala Bidang Destinasi, Antonius Cangkung.

Sementara itu, Antonius membantah TIC dibiarkan tak terawat.

“Gedung TIC itu rutin dibersihkan dan sudah ada pembagian tugas bagi para pegawai ASN P3K di Cepi Watu,” katanya.

Terkait pemanfaatan kembali bangunan-bangunan yang kini terbengkalai itu, Antonius meminta Floresa agar menanyakannya kepada Rofinus Hibur. 

Editor: Herry Kabut

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA