Ketika Rumah Nyaris Roboh karena Gempa Flores, Pemerintah Mencatatnya Rusak Sedang

Warga terdampak gempa Flores di Manggarai Barat mempertanyakan verifikasi kerusakan rumah yang menentukan bentuk dan nilai bantuan. Sebagian tak mengetahui adanya masa sanggah, sementara pemerintah menyatakan data akhir tak dapat ditinjau kembali.

Poin Utama:

  • Rumah Fransiskus Lomen dan keluarganya rusak akibat gempa Flores, dengan dinding dan kolom beton yang hancur.
  • Keluarga tinggal di tenda darurat sebelum pindah ke ruang sempit rumah yang tersisa, karena rumah tidak layak dihuni.
  • Verifikasi pemerintah tergolong lambat, dan hasilnya dianggap tidak adil oleh keluarga, sehingga penetapan kategori kerusakan menjadi masalah.
  • Masa sanggah untuk menggugat kategori kerusakan tidak disampaikan dengan baik kepada masyarakat, mengakibatkan banyak yang tidak tahu cara mengajukan.
  • Bantuan untuk perbaikan rumah bergantung pada kategori kerusakan, namun penentuan kategori tersebut tidak jelas dan menimbulkan ketidakpuasan.

Floresa.co – Dinding depan rumah Fransiskus Lomen nyaris habis. Ketika Floresa mendatanginya pada 1 Oktober, tembok yang tersisa hanya setinggi lutut orang dewasa. Puing bata berserakan di dalam dan di luar rumah.

Dinding kamar pada rumah berukuran enam kali delapan meter itu ikut ambruk. Retakan menganga dari kusen pintu hingga ke atap seng yang miring. Empat sudut bangunan ditopang balok agar tidak roboh. Kolom beton di bagian atas pecah memanjang, sementara retakan menjalar di setiap pertemuan dinding. Ketika disentuh, salah satu tembok yang masih berdiri terasa goyah.

Di dalam rumah itu, Fransiskus dan istrinya terbaring sakit. Rumah keluarga di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, tersebut merupakan satu dari ribuan bangunan yang rusak akibat gempa Flores pada 15 Agustus.

Tobias Lomen, putra Fransiskus, mengatakan rumah itu dibangun pada 2023 melalui program rumah layak huni Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. 

Selama tiga pekan pertama setelah gempa, keluarganya tinggal di tenda darurat yang mereka dirikan sendiri di halaman.

“Rumah sudah tidak bisa ditempati,” kata Tobias, 25 tahun.

Tenda itu dingin dan bocor ketika hujan yang beberapa kali mulai turun di kampungnya. Keluarga tersebut kemudian pindah ke ruang sempit yang menghubungkan rumah utama dengan dapur.

Petugas pemerintah daerah baru mendatangi rumah mereka pada 8 September, sehari sebelum masa verifikasi yang berlangsung sejak 28 Agustus berakhir. 

“Mereka tidak menjelaskan apa-apa. Datang, lalu foto,” kata Tobias.

Hasil verifikasi yang diumumkan 9 September menempatkan rumah tersebut dalam kategori rusak sedang. Tobias menilai kondisi rumah keluarganya seharusnya masuk kategori rusak berat.

Masa Sanggah yang Tak Pernah Diketahui

Dalam verifikasi dan validasi rumah terdampak gempa pada 28 Agustus hingga 9 September, pemerintah mencatat 375 rumah rusak berat, 1.400 rusak sedang, 3.892 rusak ringan, dan 8.007 tidak sesuai klasifikasi.

Pendataan itu disebut mengacu pada Peraturan BNPB Nomor 5 Tahun 2017 tentang Penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.

Petunjuk pengkajian kebutuhan pascabencana yang menyertai aturan tersebut menilai tingkat kerusakan rumah berdasarkan kondisi komponen bangunan dan persentase kerusakannya.

Rumah dikategorikan rusak ringan jika kerusakan terutama terjadi pada komponen nonstruktural dan nilainya paling banyak 30 persen. Bangunan umumnya masih dapat dihuni setelah perbaikan ringan.

Kategori rusak sedang dikenakan bila kerusakan bernilai lebih dari 30 persen hingga 50 persen. Sebagian komponen struktural atau nonstruktural rusak, tetapi bangunan masih berdiri dan dapat dipulihkan melalui perbaikan serta penguatan.

Adapun rumah disebut rusak berat bila kerusakannya melebihi 50 persen, sebagian besar komponen utama atau struktur bangunan rusak, bangunan roboh seluruhnya atau sebagian besar, atau tidak lagi layak dihuni. Penanganannya memerlukan pembangunan kembali.

Kategori Kerusakan dan Skema Bantuan
Rumah Terdampak Gempa Flores di Manggarai Barat
Rusak ringan≤ 30%
Maksimal 30%, terutama komponen nonstruktural.
Penanganan
Perbaikan ringan
Bantuan
Rp15 juta
per unit
Rusak sedang> 30–50%
Lebih dari 30% hingga 50%; sebagian struktur atau komponen nonstruktural rusak.
Penanganan
Perbaikan dan penguatan
Bantuan
Rp30 juta
per unit
Rusak berat> 50%
Lebih dari 50%; struktur utama rusak, bangunan roboh, atau tidak layak dihuni.
Penanganan
Pembangunan kembali
Bantuan
Rp70 juta
per unit, hunian tetap
+ Rp600.000/bulan hunian sementara atau dana tunggu

Ketentuan itu membuat penilaian atas rumah Fransiskus menjadi penting: dinding depan dan kamar ambruk, kolom beton pecah, atap miring, dan bangunan harus ditopang agar tidak roboh.

Namun, pemerintah memasukkannya ke kategori rusak sedang tanpa menjelaskan kepada keluarga komponen yang diperiksa, persentase kerusakan yang dihitung, ataupun hasil penilaian teknisnya.

Kategori Kerusakan Menentukan Nilai Bantuan

Penetapan kategori bukan sekadar urusan administratif. Status kerusakan menentukan jenis dan besaran bantuan yang dapat diterima setiap keluarga terdampak.

Pemerintah menetapkan bantuan perbaikan sebesar Rp15 juta per unit untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta per unit untuk rumah rusak sedang. Untuk rumah rusak berat, pemerintah menyiapkan pembangunan hunian tetap senilai Rp70 juta per unit.

Sambil menunggu hunian tetap, keluarga dengan rumah rusak berat dapat memilih hunian sementara yang disediakan pemerintah atau dana tunggu hunian sebesar Rp600.000 per bulan untuk menyewa tempat tinggal.

Bantuan baru disalurkan setelah pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan selesai, data penerima divalidasi, serta pemerintah kabupaten menerbitkan surat keputusan bupati. 

Dengan skema itu, perbedaan penetapan antara rusak sedang dan rusak berat berpengaruh langsung pada nilai bantuan, bentuk pemulihan rumah, dan akses keluarga terhadap tempat tinggal sementara.

Pemerintah kemudian membuka masa sanggah pada 10–12 September dan memperpanjangnya hingga 14 September. Pengajuan dilakukan melalui laman posko bencana Manggarai Barat. 

Setelah masa sanggah, angka kerusakan berubah menjadi 448 rumah rusak berat, 1.589 rusak sedang, 4.580 rusak ringan, dan 7.561 tidak sesuai klasifikasi.

Data Kerusakan Rumah Akibat Gempa Flores di Manggarai Barat
Data Berubah Setelah Masa Sanggah
Rumah rusak: 5.667 → 6.617Bertambah +950 rumah
Sebelum sanggahData final
Rusak berat
375
448
+73
Rusak sedang
1.400
1.589
+189
Rusak ringan
3.892
4.580
+688
Tidak sesuai klasifikasi
8.007
7.561
−446
Total
13.674 → 14.178 rumah
+504

Namun, informasi soal masa sanggah itu tidak pernah sampai kepada keluarga Tobias.

“Tidak ada yang memberi tahu bahwa ada masa sanggah. Petugas yang datang untuk survei juga tidak datang lagi,” katanya.

Kalaupun mengetahui mekanisme tersebut, keluarga itu sulit mengaksesnya. Satu-satunya telepon seluler di rumah—milik Tobias—rusak tertindih bata ketika gempa. 

Keluhan serupa disampaikan Thomas Sehabu, warga Desa Tondong Belang lainnya. Dinding kiri rumahnya roboh, teras depan ambruk total, dan retakan menjalar dari tiang depan ke beberapa tiang lain. Namun rumah itu juga dikategorikan rusak sedang.

“Mengapa masuk rusak sedang?” katanya. Menurut Thomas, tim pendata “hanya memotret” tanpa bertanya atau menjelaskan proses penilaian.

Setelah gempa, Thomas dan keluarganya tidur di tenda buatan sendiri. Ketika hujan mulai datang, mereka pindah ke dapur meski tetap merasa tidak aman. Ia juga mengaku tidak pernah menerima informasi mengenai masa sanggah.

“Yang kami tahu, rumah sudah didata. Setelah itu tidak ada lagi. Dari desa juga tidak ada yang datang menjelaskan,” katanya.

Di kampung yang sama, Agustinus Jalut mendapat kategori rusak berat. Ketika Floresa datang, ia sedang terbaring sakit di tenda berukuran tiga kali tiga meter yang ditempatinya bersama sang istri. Anak-anak mereka bekerja di tempat lain.

“Hampir semua warga di sini demam karena cuaca. Kami terlalu lama tinggal di tenda darurat,” katanya.

Sambil menunggu bantuan pemerintah, Agustinus telah menyiapkan kayu untuk membangun hunian secara mandiri. Musim hujan, katanya, semakin dekat.

Agustinus Jalut warga Kampung Nobo, Desa Tondong Belang saat diwawanca Floresa di tenda darurat pada 1 Oktober 2026. (Dokumentasi Floresa)

Rumah Rata Tanah, Hunian Dibangun Swadaya

Jika rumah Tobias dan Thomas diperdebatkan karena masuk kategori rusak sedang, rumah Maria Magdalena Jeminu tercatat rusak berat. Bangunan yang didirikan pada 2018 itu roboh rata dengan tanah dalam hitungan detik.

Maria, 73 tahun, mengatakan ia menabung puluhan tahun untuk membangun rumah tersebut. 

Di sana ia tinggal bersama putranya, Kanisius Ronaldus, 42 tahun, yang menurut Maria mengalami gangguan kesehatan mental dan tidak dapat bekerja berat.

Ketika gempa terjadi sekitar pukul 05.58, Maria berada di dapur. Ia hendak kembali ke rumah untuk mengambil beras bagi ayam-ayamnya ketika guncangan kuat datang. Ronaldus masih tidur di kamar.

“Gempa, gempa!” Maria menirukan teriakannya saat berusaha membangunkan sang putra. 

“Saya panggil-panggil anak saya. Gempa masih berlanjut. Kami terjebak di dalam rumah dan tidak bisa keluar.”

Dinding depan, belakang, serta sisi kiri dan kanan roboh. Rangka atap kayu jatuh tetapi tetap saling menopang, membentuk ruang menyerupai piramida. 

Maria berlindung di salah satu celah, meski bata tetap menimpa tubuhnya. Ronaldus menyelamatkan diri ke bawah meja.

“Kalau tidak cepat bersembunyi di kolong meja, dia pasti mati,” katanya.

Ia menunjukkan meja itu kepada Floresa. Sebagian papannya patah menahan material bangunan. Tumpukan bata menutup bagian atas meja hingga Ronaldus baru dapat keluar setelah ditolong warga.

Seusai gempa, Maria dan Ronaldus tinggal di tenda darurat di belakang reruntuhan. Pemerintah desa membantu terpal. Pada pertengahan September tenda dibongkar dan keduanya menumpang di rumah tetangga.

Karena hunian sementara dari pemerintah belum terwujud, warga kampung bergotong royong membangun tempat tinggal berukuran tiga kali tiga meter di bekas rumah Maria. Kayunya berasal dari material bekas, sementara seng harus ia beli sendiri.

Hunian sementara berukuran 3×3 meter untuk Maria Magdalena Jeminu dan putranya Kanisius Ronaldus yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada 1 Oktober 2026. (Dokumentasi Floresa)

“Untuk membangun kembali mungkin sudah tidak bisa. Kami tidak punya apa-apa lagi,” katanya.

Maria juga tidak dapat menggarap sawah karena lahan itu masih tertimbun longsor yang melanda kampung pada 2019. Dalam situasi tersebut, ia menggantungkan harapan pada bantuan pemerintah dan solidaritas warga.

“Sekarang kami menunggu saja,” katanya.

Data Dianggap Final, Kriteria Belum Dijelaskan

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Pius Baut, mengatakan data hasil verifikasi setelah masa sanggah bersifat final dan tidak dapat ditinjau kembali.

“Kecuali ada laporan baru terkait gempa susulan,” kata Pius kepada Floresa pada 12 Oktober.

Ketika ditanya tentang warga yang tidak mengajukan sanggahan karena tidak mengetahui mekanismenya, Pius menegaskan pemerintah tidak akan membuka pengajuan baru.

Ia berulang kali menegaskan: “Masa sanggah sudah selesai.”

Pius tidak menjelaskan dasar teknis yang secara rinci membedakan kategori rusak ringan, sedang, dan berat.

Menurutnya, klasifikasi dilakukan tim teknis yang dipimpin Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Perumahan Rakyat.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Manggarai Barat, Oktavianus Andi Bona, mengatakan pemerintah sedang menyiapkan hunian sementara berukuran enam kali enam meter bagi keluarga dengan rumah kategori rusak berat.

Oktavianus menyebut terdapat 488 rumah rusak berat—berbeda dari angka 448 rumah dalam data final yang disebut sebelumnya.

Dari jumlah versi BPBD itu, 458 keluarga memilih bantuan hunian sementara, sedangkan 30 keluarga memilih dana tunggu hunian sebesar Rp600.000 per bulan. Anggarannya bersumber dari BNPB.

“Kami hanya mendata, kemudian membuat berita acara untuk setiap penerima bantuan. Nanti warga sendiri yang memilih,” katanya.

Oktavianus belum dapat memastikan kapan pembangunan dimulai. 

“Kami masih menunggu dari BNPB. Tidak lama lagi sudah dibangun,” katanya.

Oktavianus juga tidak menjelaskan standar penilaian kerusakan rumah dan mengarahkan pertanyaan tersebut kepada Kepala Dinas Cipta Karya. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Oktavianus Andi Bona. (Dokumentasi Floresa)

Hingga 12 Oktober, Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Perumahan Rakyat, Severinus Kurniadi, belum menanggapi upaya konfirmasi Floresa.

Dengan data yang telah dinyatakan final, keluarga Tobias dan Thomas tetap tercatat sebagai pemilik rumah rusak sedang. 

Penetapan itu menentukan apakah rumah yang nyaris runtuh hanya diperbaiki atau dibangun kembali, sementara dasar penilaiannya belum pernah dijelaskan kepada mereka.

“Rumah ini harus dibangun dari awal lagi, tidak bisa hanya direnovasi,” kata Tobias. 

“Sekarang rumah hanya bertahan karena ditopang. Kalau tidak, pasti roboh. Tapi mengapa hanya disebut rusak sedang?”

Doroteus Hartono dan Venansius Darung berkolaborasi dalam penulisan laporan ini

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA