Floresa.co – Sebagian kursi di kelas darurat SD Inpres Timung, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, tampak kosong pada 22 September. Kursi-kursi itu semula ditempati murid dari Kampung Wohe, Desa Bangka Jong.
Hari itu, hanya 12 murid asal Kampung Timung, Desa Golo Cador, yang terlihat mengikuti pembelajaran di salah satu kelas.
Murid-murid dari Kampung Wohe memilih tidak masuk sekolah setelah ketegangan antara warga dua kampung itu meningkat akibat perkelahian yang menewaskan seorang pemuda asal Timung.
Ebertus Ngera Sega, salah seorang guru di sekolah itu, menyebut ketidakhadiran murid dari Kampung Wohe merupakan dampak langsung dari ketegangan tersebut.
Ketegangan itu bermula saat sekelompok warga dari kedua kampung terlibat perkelahian dalam Pesta Sambut Baru di jalan raya depan kemah pesta milik AJ, warga Kampung Wohe, pada 18 September malam. Pesta Sambut Baru merupakan sebutan untuk acara usai penerimaan komuni dalam Gereja Katolik.
Dalam peristiwa itu, Benediktus Paang, pemuda berusia 19 tahun asal Kampung Timung, meninggal dunia. Ia meninggal pada 19 September pagi setelah diduga dipukul dengan balok oleh IR, warga Kampung Wohe.
Merespons kabar tersebut, sekitar 100 warga kemudian mendatangi rumah IR.
IR berhasil menyelamatkan diri, tetapi rumahnya mengalami kerusakan berat. Empat sepeda motor yang berada di depan rumah tersebut juga dibakar massa.

Menurut sumber Floresa, sehari setelah Benediktus meninggal, para tetua adat dari Kampung Wohe mendatangi Kampung Timung untuk melayat dan membawa uang duka atau sumbangan belasungkawa (seng wae lu’u).
Dalam kesempatan itu, mereka juga berdiskusi dengan tetua adat di kampung tersebut terkait solusi atas masalah itu.
Dalam diskusi itu, tetua adat dari Kampung Wohe sepakat bahwa mereka akan mengurus pemakaman Benediktus serta acara peringatan lima hari (ceki lima) dan 40 malam meninggalnya pemuda tersebut.
Pada hari yang sama, Tua Golo atau Kepala Kampung Timung, Salesius Brahim, mendesak Polres Manggarai menangani kasus dugaan penganiayaan terhadap Benediktus dengan “baik dan transparan.”
“Saya tetap kawal proses hukum. Kalau tidak adil, maka saya berjanji ini hari akan serang lagi Kampung Wohe,” katanya dalam sebuah video yang diterima Floresa.
Ramai-ramai Minta Surat Mutasi
Bergias Abur (54), warga Kampung Wohe, mengaku takut dengan ancaman tersebut sehingga meminta putrinya yang duduk di kelas V untuk tidak pergi ke sekolah pada 21 September.
Ia juga sempat menelepon Kepala SD Inpres Timung, Kosmas Agul, untuk meminta surat pindah bagi anaknya.
Merespons permintaan itu, kata dia, Kosmas berkata: “mereka tidak boleh sentuh anak-anak” dan “pelaku pasti akan dihukum berat.”
“Tetapi, saya bilang, hukuman itu ada, tetapi nyawa manusia tidak bisa hidup kembali dengan hukuman itu. Dari situ, saya bilang ke kepala sekolah bahwa solusi terbaik adalah mengeluarkan surat pindah untuk anak saya,” katanya kepada Floresa pada 22 September.
Bergias mengatakan Kosmas kemudian meminta izin kepada Tua Golo Timung agar ia dan para guru bisa mendatangi Kampung Wohe untuk menemui para murid, kepala kampung, dan orang tua murid.
Dalam pertemuan tersebut, kata dia, Kosmas memberi kesempatan kepada “anak-anak untuk belajar dari mbaru gendang (rumah adat)” selama dua minggu sesuai dengan imbauan Camat Wae Ri’i.
“Hanya satu pertanyaan saya, apakah anak saya bisa sekolah dari mbaru gendang sampai tamat? Kalau untuk dua minggu mungkin bisa, tapi untuk selanjutnya, bagaimana?” katanya.
“Kepala sekolah bilang ‘sebagai guru, kami tetap rela datang mengajar ke sini. Kami juga rela jika ada yang mau pindah,’” tambahnya.
Bergias mengaku ingin memindahkan putrinya ke SD di Poka, Desa Wae Ri’i, Kecamatan Wae Ri’i.
Ia juga mengaku sudah menelepon Kepala SMP Negeri 1 Wae Ri’i agar mengeluarkan surat pindah untuk putrinya yang duduk di kelas IX.
Ia berencana memindahkan putrinya ke SMP di Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur.
“Kepala sekolah bilang, kalau mereka sudah daftar di sekolah baru, saya akan tanda tangan surat pindah. Dia bilang kami juga tidak bisa menghalangi bapak untuk minta surat pindah,” katanya.
“Saya punya anak sudah daftar di sekolah baru. Mungkin besok atau lusa kepala sekolah keluarkan surat pindah,” tambahnya.
Bergias mengaku tidak memberi tahu orang tua murid yang lain bahwa ia meminta surat pindah kepada Kosmas.
Namun, saat Kosmas dan para guru SD Inpres Timung mendatangi Kampung Wohe, para orang tua murid ramai-ramai meminta surat pindah.
Karena itu, Kosmas akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) terkait permintaan surat mutasi massal tersebut.
“Tapi, untuk kelas VI karena Dapodiknya sudah dikirim, mereka sudah tidak bisa pindah. Kemungkinan setelah dua minggu ini, mereka tetap sekolah ke Timung,” katanya.

Kosmas membenarkan bahwa sejak 21 September, tidak ada satu pun siswa dari Kampung Wohe yang hadir di sekolah.
“Mungkin mereka trauma dengan peristiwa yang mereka saksikan sendiri pada hari Sabtu itu,” katanya merujuk pada kasus perusakan rumah IR dan pembakaran motor pada 19 September.
Kosmas mengaku beberapa orang tua murid menghubunginya terkait situasi tersebut pada 21 September.
Menurutnya, mereka meminta pihak sekolah untuk memberikan kompensasi agar “beberapa hari ke depan para siswa tidak perlu mengikuti pembelajaran di sekolah dulu karena situasi belum kondusif.”
Karena prihatin dengan kondisi tersebut, “kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar dari rumah dulu.”
Ia juga mengaku dihubungi Bergias yang meminta agar ia mengeluarkan surat pindah untuk putrinya.
“Saya memberi penguatan. Jujur, sebagai kepala sekolah, saya tidak bisa cepat memberikan kepastian. Sekolah tidak secepat itu mengeluarkan surat mutasi tanpa sebuah alasan yang mendasar,” katanya kepada Floresa pada 22 September.
“Tetapi, mereka sepertinya cemas dan gelisah dengan peristiwa ini. Akhirnya, saya pertimbangkan untuk mengeluarkan surat pindah,” tambahnya.
Kosmas pun menginformasikan hal tersebut kepada para guru dan “kami sepakat mendekati dan mengunjungi mereka di mbaru gendang.”
Sebelum berangkat ke Wohe, ia menemui Tua Golo Timung, Salesius Brahim supaya “tidak terkesan melampaui dan melangkahi dia.”
“Saya hanya punya niat baik, keprihatinan sebagai orang tua di sekolah. Kami punya keprihatinan bahwa kalau anak-anak terus dibiarkan seperti itu, mereka tidak mendapat pengetahuan yang maksimal,” katanya.
Kosmas mengaku Salesius mengapresiasi langkah tersebut dan tidak mempersoalkan rencana kunjungan ke Kampung Wohe tersebut.
“Saya rasa tidak ada masalah sudah. Kalau ada juga orang yang masih cari masalah, nanti kami yang bertanggung jawab. Silakan bapak mengunjungi atau mendekati anak-anak di Wohe,” kata Kosmas menirukan ucapan Salesius.
Kosmas berkata, terlepas dari semua peristiwa yang mencekam dan menakutkan, “kami datang sebagai orang tua dari sekolah.”
Ia mengaku prihatin dan memberikan peneguhan bagi para murid yang masih merasa takut dan trauma dengan peristiwa tersebut.
Ia mengaku disambut dengan baik oleh orang tua murid dan Tua Golo Wohe, tetapi mereka menghendaki agar anaknya pindah dari SDI Timung.
“Ada satu orang tua tadi yang menghendaki anaknya pindah. Menyusul secara kolektif juga orang tua yang lain,” katanya.
“Ini yang memang tadi agak berat karena kami akan kehilangan 30-an murid. Tapi, kami juga berpikir, kalau kami menahan, pasti ada risikonya juga pada lembaga, terutama kepada guru-guru,” tambahnya.
Merespons permintaan itu, Kosmas berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas PPO terkait rencana mutasi massal tersebut.
Menurutnya, Dinas PPO juga tidak mungkin bisa menahan rencana mutasi itu karena semuanya tergantung pada keputusan orang tua murid.
Ia berkata, kebebasan untuk menentukan pilihan ada pada mereka, apalagi dengan situasi yang mencekam ini.
“Karena itu, sambil menunggu konfirmasi dari dinas, kami tetap akan melaksanakan proses pembelajaran di rumah ini (mbaru gendang),” katanya.
“Saya tetap menugaskan teman-teman guru besok untuk tetap melaksanakan pembelajaran di mbaru gendang, sambil menunggu konfirmasi dari Dinas PPO,” tambahnya.

Dua foto yang diterima Floresa memperlihatkan tiga guru perempuan SD Inpres Timung sedang mengajar murid kelas I-VI di mbaru gendang Wohe pada 23 September pagi. Para murid dibagi dalam tiga kelompok belajar. Masing-masing kelompok didampingi seorang guru.
Kendati belajar dari mbaru gendang, para murid tampak serius mendengarkan arahan dan penjelasan dari para guru.
Apa Kata Dinas PPO?
Kepala Dinas PPO Kabupaten Manggarai, Wensislaus Sedan mengaku prihatin dengan situasi yang terjadi di Kampung Timung dan Wohe.
Ia menyatakan mengutuk keras kejadian tersebut karena pasti mempengaruhi psikologi anak-anak yang ada di sekitar lokasi kejadian.
Karena itu, ia meminta semua pihak memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa kasus tersebut sudah ditangani aparat penegak hukum.
“Ada jalurnya untuk mengadili orang yang melakukan tindakan kekerasan itu. Kita harus berperan untuk memberikan penguatan kepada anak-anak bahwa kejadian itu tidak boleh mempengaruhi keinginan atau niat mereka untuk belajar,” katanya kepada Floresa pada 22 September.
Perihal rencana mutasi massal murid dari Kampung Wohe, Wensislaus berkata, murid yang hendak pindah harus memiliki sekolah tujuan karena “mutasi biasanya dilakukan setelah mendapat persetujuan dari sekolah tujuan.”
Ia juga mengaku khawatir terkait rencana mutasi murid kelas VI SD dan kelas III SMP karena pemutakhiran Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sudah berakhir pada 31 Agustus.
“Jangan sampai nanti mereka kesulitan bersekolah di sekolah lain. Karena mereka pindah pun, kalau se-misalnya sistem Dapodik sudah tutup akan berpengaruh terhadap keberadaan anak-anak. Apalagi sebentar lagi ujian tengah semester,” katanya.

Karena itu, kata Wensislaus, akan lebih baik jika semua pihak, termasuk aparat keamanan, berperan meyakinkan anak-anak bahwa situasi pascakejadian pekan lalu tetap aman.
“Saya berharap aparat keamanan bisa memberi jaminan agar anak-anak ini bisa tetap bersekolah seperti biasa,” katanya.
“Peran orang tua murid dan Gereja juga menurut saya tidak kalah penting untuk memberikan keyakinan kepada mereka,” tambahnya.
Polisi Tahan Dua Tersangka
Kepala Seksi Humas Polres Manggarai, AKP Gusti Putu Saba Nugraha, berkata penyidik sudah memeriksa enam saksi dalam kasus tersebut. Dua di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan sejak 21 September.
Kedua tersangka yang berasal dari Kampung Wohe itu masing-masing berinisial WR (48) dan AIJ (23).
“Bisa saja nanti bertambah kalau memang ada pengembangan lagi,” katanya kepada Floresa pada 23 September.
Gusti mengklaim sejak awal penanganan kasus ini, polisi telah melakukan langkah-langkah hukum secara profesional, dengan gelar perkara, penetapan dua tersangka dan upaya paksa berupa penahanan.
“Kalau berkas perkara sudah lengkap secara formil dan materiil, berkas ini segera dilimpahkan ke kejaksaan untuk diteliti,” katanya.
“Polres Manggarai melalui Satuan Reskrim menjamin bahwa proses ini akan berjalan sesuai dengan prosedur yang ada,” tambahnya.

Gusti mengklaim pihaknya akan menugaskan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) untuk tetap memantau kondisi dan situasi di kedua desa tersebut.
“Kemarin anggota dari Polres juga ke sana dalam rangka menjembatani kedua desa untuk melakukan komunikasi. Itu artinya sudah ada kesepakatan-kesepakatan damai di antara mereka,” katanya.
“Kesepakatan damai untuk menyelesaikan kasus, bukan untuk menghentikan kasus. Artinya, kedua desa sudah sepakat untuk menjaga situasi tetap kondusif. Perkaranya tetap ditindaklanjuti,” tambahnya.
Informasi yang diperoleh Floresa, tetua adat dari Kampung Wohe sudah berusaha memenuhi tanggung jawab untuk mengurus rangkaian acara peringatan kematian Benediktus Paang.
Tanggung jawab itu ditandai dengan penyerahan dua karung beras berukuran 50 kilogram, dua ekor babi, dan uang Rp1 juta pada 23 September. Penyerahan tersebut dikawal ketat oleh polisi.
Editor: Herry Kabut



