Dari Maumere, Orang Muda Katolik Diajak Melawan Perdagangan Orang dan Menjaga Ruang Digital

Nusra Youth Day tahun ini mempertemukan 835 orang muda Katolik dari Nusa Tenggara dan Bali. Di sana, isu media sosial, migrasi aman, perdagangan orang, dan lingkungan dibicarakan sebagai bagian dari panggilan iman yang harus dijalankan di komunitas masing-masing.

Floresa.co – Selama empat hari pada awal Juli, Maumere menjadi titik temu ratusan orang muda Katolik dari Nusa Tenggara dan Bali.

Mereka datang dari sembilan keuskupan, membawa cerita kampung masing-masing: anak muda yang akrab dengan media sosial, keluarga yang hidup dari perantauan, dan komunitas yang berhadapan dengan krisis lingkungan.

Dalam Nusra Youth Day (NYD) yang digelar di Keuskupan Maumere, Kabupaten Sikka, pada 2–5 Juli, 835 peserta diajak melihat kembali peran mereka di tengah perubahan zaman.

Teknologi digital, perdagangan orang, migrasi, dan kerusakan lingkungan tidak dibahas sebagai isu jauh, melainkan sebagai persoalan yang dekat dengan hidup orang muda di paroki, sekolah, kampus, dan kampung.

Para peserta berasal dari Keuskupan Ruteng, Labuan Bajo, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Kupang, Larantuka, Atambua, Weetebula, Denpasar, dan Maumere.

Tidak Menjadi Budak Teknologi

Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Sedu, membuka pertemuan itu dengan peringatan tentang dunia digital. Ia meminta kaum muda menggunakan media sosial secara bijak, tidak mudah terkurung dalam arus informasi yang hanya menguatkan pandangan sendiri.

Menurut Ewaldus, algoritma media sosial seperti Facebook, X, dan TikTok dapat menciptakan echo chamber, ruang gema yang membuat pengguna lebih banyak menerima informasi sejalan dengan keyakinannya sendiri.

Dalam situasi seperti itu, emosi dan sentimen mudah mengalahkan fakta.

“Sebaliknya, emosi, sentimen, dan keyakinan pribadi lebih menentukan cara seseorang memahami suatu persoalan,” kata Ewaldus dalam homili misa pembukaan NYD di Lapangan Gelora Samador, Kota Maumere, pada 2 Juli.

Ia juga menyinggung ensiklik pertama Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, yang menekankan perlindungan martabat manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau AI. 

Bagi Ewaldus, pesan itu relevan bagi orang muda yang hidup berdampingan dengan teknologi setiap hari.

“Teknologi harus melayani manusia, bukan menggantikan atau mengendalikan manusia,” katanya.

Karena itu, ia meminta peserta membiasakan diri memverifikasi informasi, berpikir kritis, dan memeriksa berbagai sudut pandang sebelum membagikan sesuatu di media sosial.

“Ingat, posting yang penting, bukan yang penting posting. Biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa,” tambahnya.

Peringatan tentang teknologi itu kemudian ditautkan Ewaldus dengan krisis solidaritas.

Mengutip Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium, ia menyebut “globalisasi ketidakpedulian” sebagai kecenderungan masyarakat modern yang semakin abai terhadap penderitaan sesama.

Ia mengajak kaum muda melawan ketidakpedulian itu melalui solidaritas akar rumput, dimulai dari Komunitas Basis Gereja, paroki, sekolah, dan lingkungan tempat mereka hidup.

Perdagangan Orang di Dekat Orang Muda

Tema lain yang kuat dalam NYD adalah perdagangan orang. Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus, imam Keuskupan Pangkalpinang yang lama mengadvokasi korban perdagangan orang, mengatakan ruang digital kini menjadi salah satu pintu masuk perekrutan korban.

Kemiskinan, minimnya pendidikan, dan impian memperoleh pekerjaan layak di luar daerah kerap membuat anak muda rentan menerima tawaran kerja tanpa prosedur resmi.

Kondisi itu dimanfaatkan jaringan perdagangan orang dengan janji gaji tinggi dan pekerjaan aman.

“Ruang digitalisasi, kemiskinan, dan pendidikan menjadi sarana bagi mafia untuk melakukan jeratan-jeratan sehingga orang bisa masuk dalam sistem perdagangan orang,” kata Paschalis pada 3 Juli.

Menurut Paschalis, NTT masih menjadi salah satu daerah pengirim pekerja migran non-prosedural, dan banyak di antaranya berusia muda.

Karena itu, Gereja perlu memperkuat edukasi agar kemiskinan dan keterbatasan pendidikan tidak dijadikan alasan untuk membiarkan perdagangan orang.

Ia mengapresiasi NYD karena mempertemukan orang muda dari berbagai keuskupan untuk membicarakan perdagangan orang dan digitalisasi secara terbuka.

“Kegiatan ini setidaknya menjadi pemicu semangat. Kita berharap masing-masing keuskupan Nusra bisa mengambil langkah konkret terkait hal-hal yang merusak kemanusiaan,” katanya.

Paschalis berharap peserta pulang dengan kemampuan melindungi diri sendiri, menjaga teman sebaya, dan membangun komunitas yang berani menyuarakan isu kemanusiaan.

“Anak-anak muda harus semakin peka bahwa kejahatan itu ada di depan mata mereka. Kita perlu saling mengingatkan dan mengedukasi agar orang muda tidak terjebak dalam perangkap perdagangan orang,” katanya.

Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus (kiri), Romo Donisius Migo (tengah) dan Romo Frans Kristi Adi Prasetya (kanan) saat memberikan keterangan kepada Floresa pada 3 Juli 2026 di sela-sela kegiatan Nusra Youth Day. (Dokumentasi Floresa)

Sekretaris Jenderal Keuskupan Maumere, Romo Yakobus Donisius Migo, mengatakan isu migran dan perantau sengaja diangkat karena menjadi salah satu persoalan penting orang muda di Nusa Tenggara.

“Kalau mereka ingin merantau, kita perlu mempersiapkan mereka. Kegiatan ini menjadi langkah nyata Gereja untuk menjangkau orang muda, memberikan pemahaman yang benar mengenai migrasi, sekaligus memperkenalkan berbagai realitas yang dapat menjerumuskan mereka,” katanya.

Keuskupan Maumere, kata Doni, akan memperkuat komitmen itu melalui dunia pendidikan, termasuk rencana membuka balai latihan kerja bagi orang muda yang hendak merantau.

Program itu diharapkan tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan kerja, tetapi juga pengetahuan tentang pengelolaan keuangan, kesehatan, dan jaringan yang aman agar mereka lebih terlindungi dari berbagai modus perdagangan orang.

Dari Migrasi ke Krisis Lingkungan

Percakapan orang muda dalam NYD tidak berhenti pada migrasi dan perdagangan orang.

Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, Romo Frans Kristi Adi Prasetya, mendorong orang muda Nusra berani berbicara tentang kerusakan lingkungan dan martabat manusia.

Menurut Frans, Indonesian Youth Day (IYD) di Sorong, Papua Barat Daya, tahun depan dapat menjadi ruang bagi orang muda menyuarakan kepedulian mereka terhadap persoalan bangsa, terutama lingkungan hidup dan martabat manusia.

“Anak muda harus menerapkan sense of crisis, punya kepedulian dan kesanggupan menjawab persoalan-persoalan dan krisis yang terjadi di sekitarnya,” katanya.

Frans juga menekankan pentingnya perhatian Gereja terhadap orang muda yang menjadi korban perdagangan orang, termasuk dengan memberi pengetahuan tentang migrasi yang aman.

Cerita yang Dibawa Peserta

Bagi Ben De Lewar, peserta asal Keuskupan Agung Kupang, tema NYD terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari di NTT.

Ia menyebut media sosial, migrasi, perdagangan orang, dan lingkungan bukan isu abstrak, melainkan pengalaman yang muncul di sekitar anak muda.

“Setiap dua tiga bulan sekali, kita bisa lihat di media sosial pengiriman jenazah para migran asal NTT yang meninggal di tanah rantau. Ada yang kecelakaan saat kerja, ada juga yang karena jadi korban perdagangan orang,” katanya.

Data Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT per 20 Juni menunjukkan 77 jenazah pekerja migran telah dipulangkan sepanjang tahun ini. Sebanyak 75 di antaranya merupakan pekerja migran non-prosedural.

Bagi Ben, angka itu menunjukkan bahwa perdagangan orang dan migrasi non-prosedural membutuhkan perhatian bersama dari orang muda, Gereja, dan pemerintah.

Menurutnya, orang muda Katolik di setiap paroki dan keuskupan dapat membantu Gereja menyuarakan isu kemanusiaan di komunitas lokal.

Di kampung-kampung, kata Ben, masih banyak anak muda merantau tanpa dokumen resmi. Mereka perlu diarahkan agar memahami risiko dan menempuh jalur yang aman.

Peserta lain, Valerianus Lalong, siswa Sekolah Menengah Agama Santo Yosef Tana Ai, Keuskupan Maumere, mengaku sudah sering mendengar tentang online scam atau penipuan daring dalam katekese di komunitas umat basis.

Menurutnya, anak muda mudah tergiur tawaran kerja bergaji besar melalui Facebook jika tidak dibekali pengetahuan yang cukup.

“Dengan seminar yang diadakan panitia, kami merasa ada manfaat karena mendapat pengetahuan baru dari pastor-pastor yang menangani isu tersebut secara langsung,” katanya.

Di luar sesi diskusi dan seminar, NYD juga menjadi ruang perjumpaan budaya. Para peserta mengikuti ziarah ke sejumlah situs rohani di Kabupaten Sikka serta menampilkan tarian daerah, musikalisasi puisi, dan mini drama dari daerah masing-masing.

Rangkaian NYD ditutup dengan perayaan Ekaristi di Aula Santo Petrus Ritapiret. Panitia mengumumkan Keuskupan Labuan Bajo sebagai tuan rumah NYD IV pada 2029.

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA