Floresa.co – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo mengklaim telah melakukan evaluasi buntut kecelakaan kapal wisata yang menewaskan beberapa wisatawan asal Spanyol.
Kepala KSOP, Stephanus Risdiyanto menyatakan evaluasi bersama pihak terkait itu dalam rangka mencegah kejadian serupa terulang lagi.
Salah satu hasil evaluasi, kata dia, “mengeluarkan pengumuman petunjuk teknis yang isinya antara lain melarang kapal bergerak pada malam hari, terutama pada saat memasuki sepuluh titik rawan bahaya.”
Kesepuluh titik rawan itu, kata Stephanus dalam konferensi pers pada 9 Januari, mencakup perairan Pulau Kelor, perairan Batu Tiga, Selat Molo, Selat Padar, perairan Loh Kima, perairan Pulau Luwu, perairan Pulau Kerangga, perairan Pulau Mauwang, perairan Pulau Tatawa dan perairan Pulau Siaba Kecil.
Titik rawan itu, kata dia, juga tidak boleh dilewati kapal saat jarak pandang terbatas.
Saat memasuki area-area itu, kata dia, nahkoda juga harus menyampaikan kepada penumpang dan menyiagakan keadaan darurat.
“Itu yang paling penting,” kata Stephanus.
Ia mengklaim KSOP akan rutin melakukan safety briefing atau pengarahan keselamatan sebelum keberangkatan kapal.
Selain itu, katanya, inspeksi kapal akan terus diperketat selama sekali dalam tiga bulan.
“Sebenarnya inspeksinya boleh enam bulan, tetapi KSOP Labuan Bajo membuat interval yang lebih pendek dengan maksud untuk pengawasan yang lebih ketat,” kata Stephanus.
Ia berkata, banyak kapal di Labuan Bajo merupakan kapal tradisional pengangkut penumpang yang sangat rawan apabila inspeksinya dalam jangka panjang, dengan interval terlalu jauh.
Langkah lain, kata dia, patroli yang lebih sering, baik mandiri maupun gabungan bersama TNI Polri.
Pernyataan Stephanus muncul usai ia bersama sejumlah pejabat terkait menggelar upacara penutupan pencarian korban kecelakaan kapal KM Putri Sakinah.
Hingga belasan hari pasca kejadian pada 26 Desember malam, satu korban masih dinyatakan hilang. Baru tiga yang ditemukan, semua dalam keadaan meninggal.
Para korban adalah bagian dari enam wisatawan asal Spanyol, anggota keluarga pelatih sepakbola putri Valencia C, Martin Fernando Carreras.
Mesin kapal itu dilaporkan mati sebelum dihantam gelombang tinggi.
Polda NTT sedang menangani kasus ini dan telah mengumumkan penetapan dua tersangka, yakni nahkoda kapal dan satu ABK karena dianggap lalai.
KSOP yang Antikritik
Salah satu sorotan dalam kecelakaan ini adalah penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dari Kepala KSOP pada 25 Desember pukul 23.06 Wita.
Penerbitan SPB itu terjadi di tengah munculnya peringatan dari Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) mengenai potensi gelombang setinggi 1,5 hingga 2,5 meter di wilayah Nusa Tenggara Timur pada periode 22–28 Desember 2025.
Dalam penjelasan klarifikasinya soal SPB itu, Stefanus mengklaim tahu tentang peringatan dari BMKG, namun mereka berpatokan pada informasi spesifik cuaca di Labuan Bajo yang masih dalam batas aman.
Ia juga berkata, pada hari keberangkatan KM Putri Sakinah tercatat sebanyak 189 kapal wisata berlayar dari Labuan Bajo.
“Sebanyak 188 kapal berlayar dengan selamat. Hanya KM Putri Sakinah yang mengalami kondisi darurat,” katanya.
Argumen Stephanus yang dianggap menunjukkan bahwa KSOP tidak punya itikad untuk berbenah membuat lembaga itu menjadi sorotan dari dari banyak pihak. Apalagi, klaim bahwa kapal yang celaka hanya sebagian kecil dianggap bentuk penyederhanaan masalah dan tidak menunjukkan keseriusan tentang pentingnya keselamatan berwisata.
BACA JUGA: Hai Pejabat KSOP Labuan Bajo, Kami Bukan Humas Lembaga Anda
Marcellus Hakeng Jayawibawa, pengamat kemaritiman dari IKAL Strategic Center (ISC) menyatakan kecelakaan kapal wisata di perairan Labuan Bajo yang sudah terjadi berulang kali tidak semata karena masalah cuaca.
Ia menilai ada kelalaian dari para pihak terkait, seperti KSOP,, operator kapal dan nahkoda untuk memprioritaskan keamanan berwisata.
Menurutnya, KSOP seharusnya melakukan pengecekan kapal sebelum dinyatakan layak melaut.
“Jika sudah dicek, baru dapat mengeluarkan surat izin berlayar,” katanya.
Marcellus mendesak KSOP untuk berpegang teguh pada aturan pelayaran agar ke depan tidak terjadi lagi kasus serupa.
Pegiat sosial, Doni Parera berpendapat, kecelakaan KM Putri Sakinah sebagai momentum untuk berbenah.
“Banyak hal yang mesti dibenahi, tapi yang paling utama adalah pembenahan di KSOP,” kata Doni kepada Floresa pada 8 Januari.
Menurutnya, dalam sejumlah insiden kecelakaan kapal wisata, KSOP cenderung menunjukkan sikap anti-kritik, tidak mau menerima masukan dan menggunakan argumen statistik untuk membela diri, seperti klaim bahwa banyak kapal yang aman-aman saja dan hanya sedikit yang bermasalah.
“Selalu tidak merasa bersalah, (mengklaim) sudah benar, sesuai prosedur dan menolak untuk disalahkan, apalagi bertanggung jawab,” katanya.
Padahal, kata dia, insiden kecelakaan kapal, termasuk kapal tenggelam merupakan kejadian yang terus berulang.
“Jika KSOP terus seperti ini, tanpa ada upaya pembenahan, maka Taman Nasional Komodo akan mendapat citra buruk, karena keindahannya hanya menjadi kuburan bagi kapal wisata dan turis,” ujarnya.
Citra buruk, tambahnya, akan membuat daya saing pariwisata Labuan Bajo menjadi lemah.
Menurutnya, menyalahkan alam sebagai penyebab kecelakaan adalah hal yang sangat naif.
“Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk mendeteksi gejala alam yang bisa mendatangkan bencana dan kemudian antisipasi dini untuk tidak menimbulkan korban jiwa,” katanya.
Alih-alih menyalahkan faktor alam, Doni menyoroti konstruksi dan kesehatan kapal wisata yang beroperasi di Labuan Bajo sebagai faktor yang penting untuk diperhatikan oleh KSOP.
Ia mendorong KSOP untuk memiliki kajian khusus mengenai desain badan dan struktur kapal yang layak untuk beroperasi.
“Dengan data hasil studi itu, KSOP bisa memberikan koreksi kepada pemilik kapal wisata yang akan beroperasi, bagaimana sebaiknya bentuk dan struktur kapal disesuaikan dengan karakteristik perairan yang arusnya deras dan banyak terbentuk pusaran-pusaran air,” katanya.
Selain aspek konstruksi kapal, kesehatan kapal juga harus rutin diperiksa KSOP.
Ia menyebut, KSOP seharusnya melakukan inspeksi wajib dan menyeluruh pada kelaikan tiap-tiap kapal wisata yang akan beroperasi.
“Pastikan mesin cadangan dalam keadaan siap operasi dan siap dipakai sewaktu-waktu mesin utama mati,” katanya.
“KSOP jangan terima amplop untuk kompromi terhadap ketidaklaikan operasi kapal,” tambahnya.
Editor: Ryan Dagur





