Floresa.co – Perusahaan konsumer otomotif dan transportasi PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) meluncurkan program transplantasi terumbu karang di Pulau Messah, Desa Pasir Putih, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Program tanggung jawab sosial perusahaan yang menyasar kawasan penyangga Taman Nasional Komodo itu merupakan bagian dari inisiatif MPM Green Action 2026, yang bertujuan melestarikan lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat di wilayah operasional perusahaan.
Upaya ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem terumbu karang di perairan Taman Nasional Komodo.
Dalam beberapa tahun terakhir, terumbu karang di kawasan ini menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kenaikan suhu laut akibat perubahan iklim yang memicu pemutihan karang (coral bleaching), aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, hingga tekanan pariwisata bahari yang terus meningkat. Selain itu, sedimentasi dan pencemaran dari aktivitas pesisir juga ikut mempercepat degradasi ekosistem laut.
General Manager Corporate Communication & Sustainability MPMX, Natalia Lusnita, mengatakan program ini yang diluncurkan pada 15 April merupakan langkah konkret perusahaan dalam menciptakan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.
“Kami menyadari bahwa keberlanjutan lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan keberlanjutan sosial dan ekonomi masyarakat,” katanya dalam pernyataan yang diterima Floresa pada 18 April.
“Melalui program transplantasi terumbu karang ini, MPMX tidak hanya berupaya menjaga ekosistem laut, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” tambah Natalia.
Pemilihan Pulau Messah, kata dia, mengacu pada rekomendasi dan hasil kajian Balai Taman Nasional Komodo. Kawasan tersebut diidentifikasi mengalami kerusakan terumbu karang yang cukup signifikan, sekaligus memiliki peran strategis sebagai kawasan penyangga ekosistem konservasi komodo, yang menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan karang dan biota laut bernilai ekologis maupun ekonomis.
Pada tahap awal, MPMX menargetkan penanaman 500 bibit terumbu karang, menggunakan 20 unit spider frame sebagai media transplantasi.
Ke depan, jelasnya, program ini akan terus dikembangkan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui identifikasi potensi lokal yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi warga secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga ekosistem laut dari ancaman kerusakan.
Natalia berkata, terumbu karang memiliki peran penting sebagai habitat biota laut, pelindung garis pantai dari abrasi, serta penopang sektor perikanan dan pariwisata bahari yang menjadi andalan wilayah NTT. Rusaknya terumbu karang berpotensi menurunkan hasil tangkapan nelayan dan mengancam keberlanjutan pariwisata alam di kawasan Taman Nasional Komodo.
Menurutnya, program ini dirancang sebagai inisiatif jangka panjang agar manfaat yang dihasilkan dapat terukur dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan silaturahmi bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat, dilanjutkan dengan edukasi mengenai pentingnya pelestarian terumbu karang dan ekosistem laut, khususnya bagi nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Taman Nasional Komodo.

Selain itu, MPMX juga menggelar pelatihan pembuatan media coral nursery yang diikuti oleh perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pasir Putih, sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi ancaman kerusakan ekosistem laut.
Kepala Desa Pasir Putih, Mustaming, menyatakan kesiapan pemerintah desa dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam mendukung pelaksanaan program tersebut.
“Upaya pelestarian ekosistem laut yang disertai dengan pengembangan potensi ekonomi masyarakat sangat kami harapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan kesejahteraan warga Pulau Messah,” katanya.
Natalia berkata, program di Pulau Messah merupakan kelanjutan dari komitmen lingkungan MPMX di wilayah NTT.
“Pada 2022 hingga 2025, kami telah melakukan penanaman 100.000 mangrove di Desa Golo Sepang yang terintegrasi dengan budi daya kepiting bakau dan pembinaan UMKM berbasis potensi lokal,” katanya.
Editor: Ryan Dagur



