Pertemuan Orang Muda Katolik Se-Nusa Tenggara dan Bali di Sikka Bakal Bahas Khusus Soal Dampak AI

Kegiatan ini akan diikuti lebih dari 800 orang muda Katolik dari sembilan keuskupan

Floresa.co – Forum yang mempertemukan ratusan orang muda Katolik se-Nusa Tenggara dan Bali akan membahas berbagai persoalan sosial, termasuk dampak penggunaan kecerdasan buatan (AI), selain upaya pencegahan perdagangan orang.

Forum Nusra Youth Day (NYD) itu diikuti 835 peserta dari sembilan keuskupan dan digelar di Keuskupan Maumere pada 2–5 Juli.

Uskup Maumere, Mgr. Martinus Ewaldus Sedu, mengatakan sebagian orang muda Katolik menghadapi perkembangan teknologi AI yang menawarkan kemudahan, namun juga memunculkan kekhawatiran akan melemahnya daya kritis, kreativitas, dan tanggung jawab generasi muda.

Dalam kondisi itu, menurut dia, hal terpenting adalah kesadaran untuk menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.

“Jangan sampai penggunaan AI mematikan kreativitas orang muda dalam membangun dirinya, gereja, dan bangsa,” katanya dalam konferensi pers di Lepo Bispu, Kota Maumere, pada 18 Juni.

Karena itu, pengaruh AI menjadi salah satu topik penting yang akan dibahas, baik dalam seminar maupun diskusi kelompok kecil di setiap stasi, di mana peserta berbaur bersama keluarga setempat.

“Kita berharap penggunaan AI bukan dipakai secara sembarangan, bahkan hingga merugikan atau mematikan ruang hidup orang lain,” ujar Ewaldus.

Ketua Panitia NYD, Adrianus Firminus Parera, menilai tantangan terbesar yang dihadapi orang muda saat ini adalah menurunnya kepekaan sosial akibat ketergantungan yang semakin kuat pada teknologi dan media sosial.

“Persoalan utama orang muda sekarang adalah sikap. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan teknologi sehingga sosialisasi dengan sesama menjadi semakin minim,” katanya.

Karena itu, salah satu materi yang akan dibahas dalam NYD berkaitan dengan pemanfaatan teknologi secara bijak serta dinamika pergaulan remaja, agar orang muda mampu membangun relasi yang sehat sekaligus tetap peka terhadap lingkungan sosialnya.

NYD akan menghadirkan tiga pemateri utama. Pertama, Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, SVD, teolog yang aktif menyuarakan isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan perlindungan lingkungan. Kedua, Romo Patris Allegro, imam di Keuskupan Agung Kupang yang aktif menjelaskan iman Katolik melalui media sosial. Ketiga, Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus, imam Katolik dari Keuskupan Pangkalpinang sekaligus aktivis yang kerap mengadvokasi isu perdagangan manusia melalui pendidikan, pendampingan korban, dan kampanye publik.

Adrianus berharap NYD di Keuskupan Maumere tidak hanya menjadi momen penguatan iman, tetapi juga membangun kesadaran agar generasi muda tidak mudah terpengaruh berbagai doktrin yang tersebar melalui media sosial.

“Harapan kami, kegiatan ini dapat membangun kesadaran orang muda sehingga iman mereka tidak mudah goyah oleh berbagai doktrin yang tersebar melalui media sosial,” ujarnya.

Selain sesi diskusi dan seminar, NYD juga menampilkan pentas budaya dan sesi tanya jawab bersama para uskup.

Para peserta berasal dari Keuskupan Ruteng, Keuskupan Labuan Bajo, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Atambua, Keuskupan Weetebula, Keuskupan Denpasar, dan Keuskupan Maumere.

Editor: Herry Kabut

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA