Sejumlah Tantangan bagi Alumni Seminari

Nilai-nilai yang dihidupi di seminari mesti menjadi pegangan bagi alumni saat menekuni profesi apapun

Oleh: Siprianus Edi Hardum

“Di luar sana, kejujuran diabaikan. Semoga di sini, di Seminari Kisol ini harus tetap ada. Kejujuran, disiplin dan kerja keras tetap diajarkan, tetap dijunjung tinggi.”

Pernyataan itu menjadi inti pesan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena saat memberikan sambutan pada acara “Temu Alumni Seminari Pius XII  Kisol (Sanpio)” pada 7 September.

Pertemuan itu terjadi sehari menjelang perayaan HUT ke-70 sekolah swasta tersebut pada 8 September.

Gubernur Laka Lena juga tercatat sebagai salah satu alumninya. Ia merupakan satu dari 100 orang alumni-dari total 6.618-yang hadir langsung di Kisol.

Selain itu, ada sejumlah alumni senior seperti Rikard Bagun (mantan Pemimpin Redaksi Harian Umum Kompas), Aleks Jemadu (Pakar Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Pelita Harapan) dan Don Bosko Selamun (Presiden Direktur Nusantara TV) yang hadir di Kisol.

Berbicara dalam pertemuan itu, mereka juga menekankan pentingnya disiplin dan belajar yang tekun.

Bupati Manggarai Herybertus GL Nabit, juga alumnus, ikut memberi pesan tentang pentingnya para seminaris memanfaatkan kesempatan berada di sekolah tersebut. Ia menekankan soal disiplin dan kerja keras, dua kunci untuk bisa eksis di dunia sekarang ini.

Perayaan HUT itu juga dimeriahkan dengan pelaksanaan Festival Lembah Sanpio pada 4-8 September.

Selain itu, ada seminar nasional pada 6 September yang membedah buku “Sanpio Goes Synodal: Revolusi Pendidikan Melalui Spiritualitas Ekaristi Transformatif.”

Para alumni memberi beragam kontribusi pada acara ini. Ada yang berupa materi atau uang, ada juga yang berupa pikiran seperti yang termuat dalam buku bunga rampai.

Pada acara seminar nasional bedah buku itu, Benny Kabur Harman, angggota DPR RI yang juga alumnus berpesan bahwa ada tiga hal penting bagi seminaris selama di seminari maupun ketika nanti memasuki dunia kerja.

Ketiganya adalah disiplin, penguasaan ilmu pengetahuan dan spiritualitas.

Pesan-pesan demikian selaras dengan apa yang dikatakan Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving bahwa hidup itu seni. Ia memaparkan ada tiga kunci agar hidup menjadi seni.

Pertama, disiplin, yakni disiplin waktu tidur, belajar, disiplin dalam melaksanakan janji dan sebagainya.

Kedua, konsentrasi atau fokus. Percuma hadir di ruangan kelas, ruang kuliah atau sebuah pertemuan kalau pikiran ada di tempat lain. Hasilnya akan nihil.

Ketiga, tahan banting atau kesabaran. Banyak orang disiplin yang fokus, namun kalau tidak sabar maka gagal.

Banyak orang gagal dalam hidup karena putus asa bahkan putus harapan. Itu terjadi karena tidak disiplin, tidak fokus dan tidak tahan banting.

Yang diajarkan di Sanpio dan saya yakin semua seminari adalah ketiga nilai itu.

Para seminaris tidak setiap hari memegang ponsel agar mereka fokus dalam belajar dan bekerja.

Berbagai kegiatan fisik dan mental di seminari juga menumbuhkan pribadi yang tahan banting untuk menapaki hidup selanjutnya, entah menjadi pastor maupun menekuni profesi lain.

Sejumlah Tantangan

Manusia lahir bagaikan tabularasa (kertas kosong). Hidup manusia dibentuk dan ditentukan oleh dua hal.

Pertama, lapangan pengalaman (field of experiences). Pengalaman merupakan tahap awal yang membuat manusia dari seperti kertas kosong menjadi terisi “tinta” yang bermakna sehingga bisa disebut sebagai manusia.

Pengalaman pertama yang mengisi “kertas kosong” lewat kedua orang tua atau orang yang berperan sebagai orang tua.

Pengalaman selanjutnya yang membuat manusia menjadi semakin bertumbuh dan berkualitas bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara adalah lingkungan sekolah dan masyarakat.

Kedua, lapangan bacaan  (field of references). Sejumlah bahan bacaan bagi manusia adalah media massa, buku, jurnal dan pengajaran di sekolah dan perguruan tinggi.

Sekolah seperti Sanpio selain sebagai lapangan bacaan, juga sebagai lapangan pengalaman.

Untuk menjadi manusia yang sukses dan bernilai, tentu pendidikan dan pengalaman di Sanpio tidaklah cukup.

Alumni Sanpio harus “bertarung” di  “hutan rimba” Indonesia, bahkan dunia.

Saya melihat ada sedikitnya empat dari begitu banyak tantangan negara Indonesia yang juga menjadi tantangan bagi alumni seminari, termasuk Sanpio.

Pertama, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Kalau tidak melanjutkan ke seminari tinggi, banyak di antara alumni yang bercita-cita menjadi aparat penegak hukum seperti hakim, jaksa, polisi dan advokat dan pejabat publik.

Idealnya, mereka menjunjung tinggi kejujuran dan integritas, sebagaimana dipelajari di seminari.

Ingat, rusaknya dunia peradilan di Indonesia lebih karena rusaknya integritas aparat penegak hukum.

Alumnus seminari yang menjadi kepala daerah juga harus berani menghadapi tantangan karena harta dan urusan dengan kehidupan moral.

Banyak kepala daerah di NTT dan Indonesia umumnya terjebak pada korupsi dan perselingkuhan.

Selain itu, mereka menjalankan politik yang culas, memelihara feodalisme kekuasaan. Mereka  menata birokrasi atas dasar KKN, sebuah patologi birokrasi yang telah bercokol sekian lama.

Penempatan posisi di birokrat mengabaikan meritokrasi, yakni the right people on the right place (menempatkan orang sesuai kapasitasnya).

Alumni Sanpio juga diharapkan menjadi anggota DPRD/DPR yang siap menghadapi tantangan KKN. Mereka harus menjadi anggota dewan yang kritis, berani dan tahan dengan godaan.

Memang, resiko jadi orang yang berintegritas dalam konteks Indonesia saat ini adalah secara ekonomi hidup pas-pasan dan berjalan di lorong yang sepi. 

Namun, itulah jalan yang seharusnya dipilih.

Kedua, maraknya peredaran narkoba. Pengedar dan pemakai narkoba di Indonesia sudah merambah semua profesi dan golongan.

Alumnus seminari kiranya menjauhi kejahatan narkoba. 

Menurut testimoni sejumlah narapidana narkoba yang beragama Katolik kepada saya, mereka mengedar narkoba dengan niat mendapatkan uang yang banyak secara instan.

Ada juga begitu banyak anggota parpol terjebak dalam masalah ini.

Kiranya alumni Sanpio dan seminari umumnya terhindar dari kejahatan narkoba.

Ketiga, kejahatan syber (cyber crime). Yang termasuk dalam cyber crime adalah penyalahgunaan media internet dan media sosial untuk tindakan yang melanggar hukum seperti judi online (judol).

Judi konvensional dan judol merupakan penyakit sosial yang dilarang agama dan hukum, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di banyak negara.

Dalam catatan saya, tidak sedikit juga alumni seminari termasuk Sanpio yang berkubang dalam perjudian. Ada di antaranya harus bercerai karena jatuh miskin akibat judi.

Keempat, politik yang kotor. Politik kotor adalah politik yang mengabaikan etika, moral, ajaran agama dan bahkan hukum. 

Kata-kata gubernur di awal tulisan ini tidaklah berlebihan. 

Banyak pakar etika, politik dan hukum yang menilai di Indonesia sudah terjadi nihilisme, dimana etika dan moral diabaikan, tidak dihargai.

Bahkan, hukum tidak diindahkan, diterabas. Karena itu, berlaku tidak jujur sudah menjadi hal biasa.

Ketika pejabat publik yang seharusnya menjadi sumber ajaran moral suka berbohong dan menipu masyarakat, maka masyarakat pun bingung. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian ikut-ikutan berbohong, melanggar hukum. 

Harapan

Saya berharap, semua alumnus seminari terutama Sanpio haruslah tetap menjadi garam dan terang. 

Pengalaman pendidikan di seminari mesti selalu diingat, jadi pegangan, terutama dalam hal menjunjung tinggi kejujuran dan integritas.

Alumni seminari harus bersedia dibenci dan hidup pas-pasan secara ekonomi karena menjunjung etika dan moral serta menaati hukum.

Sepengetahuan saya, ada banyak alumni Sanpio dan seminari lain di Indonesia yang tidak menjadi pastor dan mengambil peran sebagai awam, namun menjalankan profesi dengan penuh integritas.

Namun, tidak sedikit juga yang terjebak dalam situasi dan keadaan.

Akhirnya, saya mengucapkan Selamat Memasuki Usia ke-70 bagi Sanpio. Dan, Selamat HUT ke-150 Tahun untuk SVD, kongregasi religius yang mendirikan Sanpio.

Viva Sanpio, Viva Forever!

Siprianus Edi Hardum adalah alumnus SMP Seminari Pius XII Kisol (1988 – 1991), salah satu penulis buku “Sanpio Goes Synodal.” Ia bekerja sebagai advokat dan dosen ilmu hukum di Jakarta

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING