Floresa.co – Lebih dari seminggu menghadapi banjir yang merendam hunian sementara atau huntara, para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki menagih janji bantuan dari Pemerintah Kabupaten Flores Timur.
Zakharias Anthoni Witin, salah satu penyintas, berkata, hujan membuat huntara terendam banjir dan atap tenda di pos lapangan (poslap) bocor sejak intensitas hujan meningkat bulan lalu.
Empat unit huntara itu dibangun pemerintah sebagai tempat pengungsian bagi ribuan warga sejak awal tahun ini. Sedangkan satu unit poslap – semula berjumlah empat – dibangun lebih dahulu sebagai lokasi pengungsian darurat.
Lokasinya sama-sama berada di Desa Konga, Kecamatan Titehena, sekitar 30 kilometer sebelah barat Larantuka, ibukota kabupaten itu.
Pemerintah mewajibkan para penyintas pindah dari pos lapangan ke huntara mulai 1 Desember hingga paling lambat pada 16 Desember.
Zakharias yang berasal dari Desa Nobo, Kecamatan Ile Bura berkata kepada Floresa bahwa banjir merendam huntara unit tiga dan empat. Huntara empat terendam sejak 14 November, sementara huntara tiga sejak 9 Desember.
Namun, katanya pada 17 Desember, bantuan yang dijanjikan Bupati Antonius Doni Dihen seperti pengerjaan parit untuk saluran air “belum ada tanda-tandanya.”
Dalam janjinya pada 12 Desember, Antonius mengklaim pemerintah menyiapkan dana Rp6,6 miliar untuk pencegahan banjir dan longsor.
Seperti dilansir Tribun Flores, Antonius mengklaim dana tersebut diambil dari pos anggaran belanja tak terduga.
Ia juga berjanji mencari sumber pendanaan lain, di antaranya dari Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah pusat.
“Hari ini juga diadakan rapat bersama dengan Forkompimda, ada kejaksaan dan pengadilan supaya lebih aman,” katanya saat itu.
Selain janji membangun jalur air dan cut and fill (meratakan permukaan lahan), Antonius juga berkata bakal menyediakan pompa dan pipa karet untuk membuang air ke kali yang berada di sekitar huntara.
Menurut Zakharias, karena kelamaan menanti janji-janji tersebut, beberapa penyintas memutuskan pulang ke kampung halaman mereka.
“Tadi pagi saya bertemu salah satu penyintas yang tendanya bocor, yang sudah mengantar barang-barang ke kampung,” katanya.
Untuk sementara, kata dia, penyintas itu menginap di rumah pondok kerabatnya di Waidoko, wilayah Kabupaten Sikka yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari lokasi huntara di Desa Konga.
Kondisi Huntara
Dalam sebuah video yang diterima Floresa pada 13 Desember, salah satu rumah di huntara unit tiga dipenuhi air hujan.
Selain itu, sebuah foto menunjukkan fundasi bangunan huntara tergantung karena berdiri di tanah urukan yang terbawa banjir.

Sementara di poslap, terlihat susuan ember dan baskom di dalam tenda yang digunakan penyintas untuk menadah air hujan yang masuk lewat lubang atap tenda.
“Sekarang tinggal warga Desa Nobo saja yang masih bertahan di poslap,” kata Zakharias, “bulan lalu baru 16 kepala keluarga yang pindah ke huntara dari 431 kepala keluarga.”
Bertahan di poslap, kata pria 33 tahun itu, “selain atap tenda bocor, air juga meluap dari bagian bawah tenda.”
“Tikar, pakaian, spon, dan perlengkapan dapur basah semua terkena air,” katanya, “kami tidak bisa tidur.”
Karena itu ia mengaku sangat khawatir terkena penyakit, “palagi saat ini mental penyintas masih sangat terganggu karena erupsi.”
“Tenda yang bocor baru saja dikosongkan, inisiatif penyintas. Namun tidak tahu mereka harus tinggal di mana, karena belum ada tenda baru yang layak digunakan,” tambahnya.
Ia berkata, berapa penyintas memilih menumpang di tenda tetangga dan beberapa lainnya sudah mengamankan barangnya untuk kembali ke kampung halaman.

Zakharias mengaku “belum mengetahui apakah mereka (penyintas yang kembali ke kampung) akan bermalam di kampung atau kembali lagi ke Konga (tempat mereka mengungsi).”
“Kadang bertanya apakah kita harus mengungsi lagi? Adakah tempat yang lebih aman untuk kita?”
Mengapa Terus Direndam Banjir?
Zakharias berkata, “di hunian saya (huntara tiga) terjadi banjir dan longsor karena tidak ada parit dan turap.”
“Banjir meluap dari arah belakang dan depan masuk ke huntara. Sampai saat ini masih terendam banjir,” katanya.
Hal tersebut menyebabkan “air mengalir bebas masuk ke dalam hunian dan mengikis tanah tumpangan itu.”
Zakharias mengaku, pada 11 Desember setelah banjir di huntara tiga, beberapa staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur berjanji akan membantu semen untuk penyintas agar bisa membuat turap penahan longsor.
Namun, “mereka tidak memastikan kapan semen itu kami terima,” katanya, “sampai saat ini belum ada bantuan itu.”
Ia menyayangkan proses pembangunan hunian tersebut tidak memperhatikan medannya, apakah rawan bencana atau tidak.
“Pihak yang membangun huntara harusnya memperhatikan dampak dari pembangunan di medan seperti ini,” kata Zakharias.
“Mestinya diperhatikan parit dan turap untuk hunian yang tepat berada di jalur banjir dan yang dibangun di atas tanah tumpangan,” tambahnya.
Sementara, Romualdus Labi Beraf, penyintas lainnya di huntara unit tiga berkata banjir yang terus menerus menerjang memaksa mereka memotong bambu untuk membuat turap secara mandiri.
Ia berkata, bambu itu akan dipotong di kampung mereka yang berada dalam kawasan rawan bencana yang telah ditetapkan badan geologi.
Pulang kampung untuk potong bambu, katanya, harus melintasi aliran banjir lahar dingin dari puncak gunung tersebut.
Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki melaporkan banjir lahar itu karena curah hujan dengan intensitas tinggi melanda kawasan puncak gunung dan sekitarnya.
Banjir itu terjadi selama beberapa pekan terakhir. Material berupa batu, kerikil, dan lumpur menutupi badan jalan Trans Larantuka-Maumere dan rumah-rumah warga.
Tiga rumah di Desa Dulipali, Kecamatan Ile Bura mengalami rusak berat, dan satu rumah di Desa Klatanlo tertimbun lumpur.

Sementara Damianus Kwuta, warga asal Desa Hokeng Jaya, Kecamatan Wulanggitan yang menghuni huntara unit empat berkata, banjir terjadi di huntara tersebut karena tidak ada saluran pembuangan di setiap kopel untuk mengalirkan air hujan.
“Tidak ada pembuangan dan saluran juga terlalu kecil, sehingga ketika hujan, air tidak mengalir keluar,” katanya, “ketika air di teras ini penuh, dia akan mengalir masuk ke dalam rumah.”
Karena itu, sebagian saluran di teras depan hunian mereka dibongkar.
Ia mengaku membeli semen seharga Rp63 ribu yang didapatkan dari hasil kebun di kampung yang berada dalam kawasan rawan bencana, demi menutup bagian bawah huntara agar air tidak meluap masuk ke dalam .
“Namun beberapa lainnya belum bisa diutup karena tidak ada uang untuk beli semen dan patungan angkut pasir,” katanya.
Selain semen, mereka juga juga patungan membayar mobil untuk mengangkut pasir dari Desa Hokeng Jaya ke huntara.
Penyintas berharap, pemerintah segerah merespons kondisi yang sedang mereka alami itu.
“Semoga pemerintah bisa memberikan tempat aman untuk kami, agar bisa memulihkan trauma supaya kami bisa berjuang bertahan hidup yang berkelanjutan dengan aman,” kata Zakharias.
Hingga kini, belum bisa dipastikan kapan para penyintas bisa kembali ke kampung halaman mereka.
Menurut petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-Laki, Herman Yosef Mboro, saat ini gunung itu masih berstatus level III atau “Siaga”.
“Aktivitas vulkanik Gunung Api Lewotobi Laki-Laki sampai saat ini masih bersifat fluktuatif,” katanya kepada Floresa.
Editor: Anno Susabun




