Komunitas Kaum Muda di Ruteng Bakal Gelar Pameran Seni Rupa, Angkat Isu Ruang Hidup dan Perspektif Masyarakat Adat

Hari terakhir agenda tahunan ini diisi diskusi publik yang bertujuan mendorong Perda Masyarakat Adat di Kabupaten Manggarai

Floresa.co Komunitas kaum muda di Ruteng, Kabupaten Manggarai bakal menggelar pameran seni rupa yang mengangkat isu ruang hidup dan perspektif entitas masyarakat adat di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan akan berlangsung di Rumah Baca Aksara, Kecamatan Langke Rembong, pada 26–28 Februari.

Pameran ini merupakan agenda tahunan komunitas yang menjadi ruang ekspresi bagi para seniman yang terlibat dalam gerakan sosial, advokasi, literasi serta kampanye isu-isu publik. 

Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan pra-pameran Kelas Bikin Zine pada 26–27 Januari bersama Reza Pahlevi dan Nadira Zakaria dari Art N’Rose Studio dan Media. 

Selain itu Kelas Bikin Arsip Audio-Visual bersama Eko Kristina dan Khairul Abdi dari Mata Nusantara (Matata) untuk memperkuat kapasitas peserta dalam dokumentasi visual pada 31 Januari.

Selain Rumah Baca Aksara, jejaring kolaborasi yang terlibat dalam pameran ini antara lain We Speak Up, JPIC SVD Ruteng, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), ArtnRose, Matata, serta Floresa.co dan EkoraNTT sebagai media partner.

Kurator pameran dari Rumah Baca Aksara, Abim Gondrong berkata pameran seni rupa ini bertajuk “Aku, Karya dan Rupa” dan kini memasuki tahun keempat penyelenggaraan.

“Pada 2026, kami mengangkat isu “Rawat Ingatan; Ruang Hidup dan Perspektif Entitas Masyarakat Adat” sebagai tema utama,” katanya.

Abim berkata tema tersebut lahir dari keprihatinan terhadap berbagai kasus peminggiran masyarakat adat di berbagai wilayah di NTT yang dinilai masih jauh dari rasa keadilan.

“Proyek-proyek multinasional dipaksakan hadir di tengah masyarakat adat tanpa memperhitungkan keberlanjutan ritual, keanekaragaman hayati, terutama manusianya,” ujarnya.

Menurutnya, isu ini penting diangkat di tengah situasi politik yang tidak berkeadilan dan kondisi ekonomi yang tidak stabil. 

“Pada akhirnya ruang hidup masyarakat adat dipaksa menjadi ladang keuntungan bagi segelintir orang. Kesadaran ini perlu terus diangkat agar kita tidak terbius dalam ketidakpastian,” katanya.

Pameran ini, jelasnya, hadir sebagai medium untuk menyuarakan hak-hak masyarakat adat yang semakin tergerus oleh arus modernisasi dan pembangunan atas nama kesejahteraan.

“Seni rupa menangkap realitas dalam goresan kuas dan warna, lalu direfleksikan secara mendalam dan didiskusikan secara kritis melalui pameran ini,” ujarnya.

Adrian Subiasy, perupa yang akan menampilkan karyanya dalam pameran “Rawat Ingatan; Ruang Hidup dan Perspektif Entitas Masyarakat Adat” di Rumah Baca Aksara, Ruteng pada 26-28 Februari 2026. (Foto: Rumah Baca Aksara)

Adrian Subiasy, perupa yang terlibat dalam pameran ini, menyebut tema “Rawat Ingatan: Ruang Hidup dan Perspektif Entitas Masyarakat Adat” sebagai sebuah semiotik yang merangkum beragam pendalaman makna.

“Perspektif tentang nilai kebebasan berekspresi hingga melampaui keterbatasan turut hadir untuk menarasikan kondisi sekitar secara spontan, apa adanya, jujur dan emosional serta tidak terikat aturan yang mengekang,” katanya.

Adrian menilai, seni sejati justru kerap lahir dari mereka yang tidak terlalu terpaku pada aturan, tetapi berani menyuarakan gagasan secara tegas, liar dan penuh energi.

“Makna visual dari logo tema pameran ini diartikan sebagai bentuk tangan sekaligus kaki yang panjang dan melingkar. Itu melambangkan pertahanan diri, karakter yang protektif, serta kesadaran untuk mengenal batas,” ujarnya.

Simbol satu kaki yang berdiri, kata dia, menggambarkan cara ia berpijak dan tetap berjalan sesuai pendirian, sekaligus menjadi tumpuan pada keyakinannya dalam bingkai kesenian.

“Saya berterima kasih kepada Bapak dan Mama di Bajawa. Dulu saya sering merasa didikan mereka terlalu keras. Tapi sekarang saya sadar, justru dari situlah saya ditempa menjadi pribadi yang kuat, tahan banting dan berani berdiri pada pilihan saya dalam berkesenian,” katanya.

Pria kelahiran Bajawa, Kabupaten Ngada itu telah terlibat dalam berbagai kompetisi dan ekshibisi seni rupa bersama kolektif di Jakarta sejak 2014. 

Pada 2019, ia memilih kembali ke kampung halaman dan aktif berkarya di Komunitas Suka Main Cat, ruang bersama para pegiat seni rupa di Ngada.

Lingkungan pertemanan tersebut memberinya ruang untuk mengeksplorasi karya. 

Selain melukis, Adrian yang terinspirasi oleh dua seniman Jepang, Masashi Kishimoto dan Eiichiro Oda, juga merambah karya mural dan grafiti.

Saat ini, ia tengah mengembangkan studio pribadi bagi para pecinta tato yang dikenal dengan nama Freak Ink.

Abim berkata rangkaian pameran akan berpuncak pada 28 Februari dengan diskusi publik bertema ‘Mendorong Perda Masyarakat Adat di Manggarai’.

Diskusi tersebut merupakan ruang dialog untuk mendorong kebijakan daerah yang berpihak pada pengakuan dan perlindungan masyarakat adat.

Pilihan tema diskusi, menurutnya, karena masyarakat adat perlu terus didukung untuk mempertahankan kedaulatannya sebagaimana diamanatkan konstitusi.

“Penjaminan dan perlindungan terhadap masyarakat adat harus terus disuarakan melalui berbagai media apapun karena ini adalah tanggung jawab sosial, politik, ekonomi dan hukum kita bersama,” katanya.

Ia juga berkata pameran terbuka untuk umum, terutama para pecinta seni rupa. Selain itu penyandang disabilitas diundang secara khusus.

“Harga tiket Rp20.000 untuk tiga hari sebagai bentuk dukungan bagi kami dalam melaksanakan kegiatan ini, dan semua kalangan dan umur boleh ikut menyaksikan pameran,” katanya.

Editor: Anno Susabun

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA