Floresa.co – Pada pemutaran perdana film dokumenter Menolak Punah di Balai Budaya Jakarta awal bulan ini, tidak ada adegan bencana yang menggelegar.
Kamera tidak menyorot banjir, kebakaran hutan, atau ledakan pabrik.
Yang hadir di layar justru potongan keseharian yang terasa sangat dekat: orang memilih pakaian murah, menggantinya dengan cepat, lalu membuangnya tanpa banyak pertimbangan.
Namun, dari sanalah film ini mulai bekerja.
Menolak Punah, dokumenter garapan Dandhy Laksono bersama Aji Yahuti Ramyakim, memindahkan isu krisis lingkungan dari lanskap yang jauh ke ruang paling privat: tubuh manusia.
Ancaman yang disorot dalam film ini bukan bencana besar yang datang tiba‑tiba, melainkan sesuatu yang kita kenakan setiap hari—pakaian.
Lebih spesifik, mikroplastik dari serat kain sintetis, yang bekerja perlahan, nyaris tak terasa, namun terus‑menerus.
Film ini diproduksi oleh Koperasi Ekspedisi Indonesia Baru, dengan kolaborator Sunspirit for Justice and Peace, The Body Shop Indonesia, dan Sejauh Mata Memandang.
Ia diputar perdana dalam pekan nobar pada 4-9 April di Balai Budaya Jakarta.
Film ini membawa pesan: krisis lingkungan dan kesehatan bukan sekadar sesuatu yang terjadi “di luar sana.” Ia berlangsung di lemari pakaian, di kamar mandi, dan di kulit manusia.
Dari Mesin Cuci ke Aliran Darah
Berbeda dengan plastik sekali pakai yang mudah dikenali, mikroplastik dalam Menolak Punah digambarkan sebagai ancaman senyap.
Film ini menunjukkan bagaimana pakaian berbahan poliester—turunan langsung dari plastik—melepaskan partikel mikroskopis setiap kali dicuci.
Partikel ini mengalir ke saluran air, masuk ke sungai dan laut, lalu kembali ke manusia melalui udara, air, dan rantai makanan.
Dalam diskusi setelah pemutarannya pada 4 April, Dandhy menegaskan bahwa mikroplastik bukan lagi persoalan lingkungan semata.
Riset Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan di darah manusia, cairan ketuban, urin ibu hamil, hingga cairan semen.
Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini menembus dinding usus dan menyebar ke organ vital, memicu stres oksidatif dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang.
Bagi Dandhy, persoalan ini semakin mendesak karena dampaknya bersifat akumulatif dan lintas generasi.
Jika paparan mikroplastik berlangsung secara masif, sistem jaminan kesehatan publik akan menanggung beban besar penyakit degeneratif.
“Apa yang kita sebut murah hari ini,” katanya, “bisa menjadi biaya kesehatan yang mahal di masa depan.”
Di titik ini, Menolak Punah secara terang mengaitkan budaya fast fashion dengan risiko kesehatan publik.
Pergantian tren yang cepat, produksi massal, dan harga murah memang memberi akses luas, tetapi menyimpan ongkos tersembunyi—baik bagi lingkungan maupun tubuh manusia.

Ironi di Negeri Berlambang Kapas
Namun, film ini tidak berhenti pada kritik konsumsi individu. Ia menyingkap ironi lama dalam industri sandang Indonesia.
Di negara yang lambangnya memuat padi dan kapas, 99 persen kapas justru diimpor, sementara industri tekstil domestik bertumpu pada serat sintetis yang lebih cepat dan murah.
Ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan pilihan struktural yang membentuk cara produksi dan konsumsi selama puluhan tahun, kata Dandhy.
Di sinilah Menolak Punah mengambil jarak dari film peringatan yang sekadar menyalahkan individu.
Sementara mengkritik fenomena ini, kamera juga menoleh ke upaya‑upaya kecil yang kerap luput dari perhatian: penanaman kapas, penggunaan pewarna alami, serta praktik sandang berbasis pengetahuan tradisional.
Film ini merekam komunitas-komunitas yang bertahan dan secara sadar memilih untuk tidak punah.
Komunitas tersebut adalah Yayasan Sekar Kawung di Tuban yang fokus pada pengembangan kapas organik, Rumah Tenun Baku Peduli di Labuan Bajo pada gerakan pewarna alami dan Bidadari Lombok yang fokus pada pengembangan kapas dan pewarna alami.
Selain itu, ada komunitas Bersibersi Lemari, yang sejak 2020 menyortir pakaian layak pakai untuk disalurkan ke masyarakat membutuhkan, atau mengelolanya bersama penyandang disabilitas menjadi barang bernilai jual.
Ada juga Sejauh Mata Memandang yang punya kepedulian khusus pada olah limbah tekstil dan menjadikan fashion berkelanjutan.
Mikroplastik Juga Ada Pada Tenun
Elisabeth Hendrika Dinan, Direktur Sunspirit for Justice and Peace, yang mengelola Rumah Tenun Baku Peduli di Labuan Bajo, menyebut film ini ikut menyampaikan pesan yang sering luput dari diskusi publik: bahwa tenun pun ikut berkontribusi pada persoalan limbah plastik ketika menggunakan benang sintetis.
“Di Flores, banyak tenun sekarang memakai benang poliester dan itu sudah dinormalisasi,” katanya kepada Floresa usai diskusi peluncuran film.
“Padahal, poliester itu berdampak langsung pada limbah plastik dan mikroplastik.”

Namun, Hendrika—yang akrab disapa Ney— menekankan bahwa persoalan ini tidak adil jika hanya dibebankan kepada penenun.
“Benang poliester dulu didistribusikan secara masif, lewat berbagai cara, sampai akhirnya dianggap wajar dan jadi pilihan paling terjangkau.”
Bagi Ney, masalahnya lebih dalam dari sekadar bahan. Tenun adalah medium relasi antara manusia dan alam dan motif‑motif tradisional lahir dari pengalaman sehari‑hari penenun berhadapan dengan lanskap, tumbuhan, dan kehidupan sekitar.
“Ia menyimpan relasi personal, keyakinan, dan cara masyarakat berhubungan dengan alam. Pertanyaannya, apakah relasi itu masih ada ketika benangnya sudah sintetis?”
Ia menyebut penggunaan poliester menciptakan keterputusan makna.
“Kita sering bilang tenun punya relasi kuat dengan alam,” katanya, “tetapi ketika bahannya sintetis, relasi itu putus. Ada jarak antara budaya dan alam.”
Film ini menegaskan keterputusan itu secara visual.
Dalam salah satu adegannya, Ney tambil menguji dengan api: kapas alami terbakar dan menjadi abu, sementara poliester meleleh dan meninggalkan residu plastik.
Perbedaan sederhana, tetapi sarat makna: satu kembali ke tanah, yang lain meninggalkan jejak yang sulit hilang.
Herlina Lenos, penenun dari Rumah Tenun Baku Peduli yang juga ikut dalam peluncuran tersebut berkata, krisis sandang juga adalah krisis relasi dan penghargaan terhadap kerja perempuan.
“Tenun itu bukan sekadar produk ekonomi atau simbol budaya,” katanya kepada Floresa.
“Di dalamnya ada pengetahuan, relasi dengan alam, dan kerja panjang perempuan yang sering tidak dihargai secara adil,” katanta,
“Ketika tenun hanya dianggap sebagai komoditas murah berbahan sintetis, yang hilang bukan hanya kualitas kain, tetapi juga martabat penenunnya,” katanya.
Menurut Herlina, penggunaan benang sintetis dan produksi cepat memutus rantai pengetahuan yang selama ini dirawat turun‑temurun.
“Kalau kita bicara keberlanjutan,” ujarnya, “maka yang harus dijaga bukan hanya lingkungannya, tetapi juga orang‑orang yang selama ini merawat tradisi itu.”

Ajakan Mengubah Perilaku
Dengan mengingatkan ancaman yang melekat pada pakaian, bagi Ney, film ini membawa ajakan konkret: perubahan perilaku.
“Kita mesti menghentikan kebiasaan membeli baju cepat buang serta mengurangi bahan tidak ramah lingkungan seperti poliester,” ujarnya.
Dalam konteks tenun, ia mendorong perubahan yang perlahan namun konsisten.
“Penenun perlu kembali ke benang kapas dan pewarna alami, meski ada dilema ekonomi karena benang poliester lebih murah,” katanya.
Namun, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran agar ekosistem tenun lebih ramah bagi lingkungan dan manusia yang memakainya.
Ekosistem yang sehat, menurutnya, juga harus adil bagi penenun dan pembeli, agar nilai budaya tidak direduksi menjadi komoditas murah.
Sutradara Aji Yahuti Ramyakim sepakat soal pesan konkret film itu pada perubahan perilaku.
“Itu memang tujuannya, sehingga diharapkan bisa relevan untuk semua audiens,” katanya kepada Floresa.
“Film ini sengaja menghadirkan persoalan yang kompleks, lalu menemukan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.”
Di tengah dunia fesyen yang cepat dan murah, kata dia, Menolak Punah menjadi pengingat bahwa ongkos rendah hari ini bisa berubah menjadi beban mahal bagi tubuh dan bumi di masa depan.
Menurut Aji. film ini tidak memerintah penonton untuk segera berubah, tetapi meninggalkan kegelisahan yang sulit dihapus—tentang apa yang kita kenakan, kita cuci, kita buang, dan tanpa sadar kita wariskan.
Film ini mulai diputar di sejumlah komunitas.
Di Flores, pemutaran perdananya berlangsung di Rumah Tenun Baku Peduli pada 18 April sore, yang mengundang perwakilan berbagai komunitas, termasuk dari instansi pemerintah.
Ney dan Benaya Harobu dari Ekspedisi Indonesia Baru akan menjadi pembicara.
Rencananya, pekan depan film ini akan diputar di beberapa lokasi lain di Flores, baik di kampung-kampung yang mewarisi tradisi menenun, maupun komunitas dan sekolah-sekolah.
Editor: Ryan Dagur



