Floresa.co — Kelompok masyarakat sipil di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat bakal menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi pada 7 Mei terkait film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang menyoroti kondisi masyarakat adat di Papua Selatan.
Kegiatan ini akan menghadirkan dua sutradara film tersebut, Dandy Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale.
Dandy akan hadir secara langsung, sementara Cypri secara daring dalam acara yang digelar di Youth Center, kompleks Gereja Katedral Keuskupan Labuan Bajo.
Kegiatan ini terbuka bagi pelajar, mahasiswa, pemuda, serta masyarakat umum.
Pemutaran film ini berlangsung di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap Pesta Babi di sejumlah kota di Indonesia.
Di beberapa daerah, pemutaran dan diskusi film ini memicu respons luas—mulai dari antusiasme peserta hingga dinamika pembatasan ruang diskusi—yang menandakan krusialnya isu yang diangkat.
Film Pesta Babi merekam perlawanan masyarakat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu terhadap proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dokumenter ini juga menyingkap isu separatisme serta jejak panjang operasi militer yang berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam di Papua.
Melalui rekaman lapangan dan riset investigatif, film ini mengungkap keterkaitan kepentingan industri, politik, dan pembangunan, sekaligus memperlihatkan benturan antara kekuasaan dan gerakan masyarakat adat.
Kegiatan di Labuan Bajo ini diselenggarakan oleh Sunspirit for Justice and Peace bekerja sama dengan JPIC SSpS Flores Barat.
Selain kedua sutradara, diskusi juga menghadirkan Suster Frederika Tanggu Hana dari JPIC SSpS Flores Barat yang juga dikenal sebagai aktivis Perempuan dan anak serta Yosef Erwin Rahmat, tokoh masyarakat adat dari Desa Wae Sano.

Diskusi akan dipandu oleh Elisa Lehot dari Forum Titik Temu Masyarakat Sipil Flores. Acara juga akan diramaikan dengan pementasan teater oleh siswa SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo.
Ketua panitia, Adriani Miming, berkata, krisis ekologis, konflik agraria, dan ekspansi proyek skala besar semakin memperlihatkan wajah ekstraktivisme yang berdampak langsung pada masyarakat adat dan komunitas lokal.
Melalui kegiatan ini, kata dia, publik khususnya anak muda diharapkan dapat memahami lebih dalam relasi antara pembangunan, kekuasaan, dan ketidakadilan sosial-ekologis, sekaligus membangun refleksi kritis atas situasi serupa di berbagai wilayah, termasuk Nusa Tenggara Timur.
Adriani berkata, mengatakan kegiatan ini menargetkan sekitar 200 peserta yang terdiri dari pemuda, pelajar, mahasiswa, rohaniwan, dan masyarakat umum.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang refleksi bersama yang mendorong solidaritas dan kesadaran kritis, sehingga ada keberpihakan nyata terhadap masyarakat adat, termasuk di Flores,” jelasnya.
Ini merupakan acara kedua di Labuan Bajo terkait film ini, setelah sebelumnya pada 25 April yang difasilitasi para mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).
Editor: Ryan Dagur




