Floresa.co – Puluhan orang muda di Kabupaten Flores Timur menggelar kamping edukasi untuk mendiskusikan dampak krisis iklim serta merumuskan sejumlah rekomendasi untuk merespons krisis ekologis di daerah tersebut.
Berlangsung di sepanjang garis Pantai Kawaliwu, Kecamatan Lewolema pada 20–21 Juni, kegiatan yang mengusung tema “Suara Orang Muda dari Pesisir Kawaliwu untuk Keadilan Iklim” itu diinisiasi oleh Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim (Koalisi KOPI) Mura Rame yang berkolaborasi dengan Komunitas Orang Muda Kawaliwu.
Koalisi KOPI Mura Rame adalah wadah kolaboratif orang muda di Flores Timur yang bergerak di bidang literasi, lingkungan, dan isu-isu sosial-kemasyarakatan.
Mereka juga bagian dari gerakan kolektif orang muda yang tergabung di Koalisi KOPI NTT sejak 2021.
Sementara itu, Komunitas Orang Muda Kawaliwu merupakan jejaring pemuda yang aktif bergerak dalam menjaga kelestarian pesisir pantai dan mempromosikan potensi lokal.
Kegiatan itu juga diikuti oleh orang muda dari Kabupaten Lembata dan Sikka.
Ketua Koalisi KOPI Mura Rame, Elsyn Puka berkata, kamping edukasi menjadi gerakan kolektif orang muda di Flores Timur yang hadir melalui ruang dialog kritis.
“Generasi muda didorong untuk tidak sekedar menjadi penonton pasif, melainkan menjadi motor penggerak yang menjembatani kearifan lokal leluhur Lamaholot dengan aksi advokasi lingkungan modern,” katanya kepada Floresa pada 22 Juni.
Lamaholot merujuk pada kelompok etnis yang mendiami Pulau Solor dan Adonara di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.
Elsyn berkata, pihaknya memilih menggelar kamping di pesisir Kawaliwu karena pantai tersebut merupakan ruang aman untuk mengkonsolidasikan gagasan, memetakan masalah lingkungan, sekaligus menyuarakan komitmen untuk merawat laut dan mengklaim hak atas masa depan yang layak.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan dikemas secara inklusif dan ramah lingkungan dengan memadukan unsur edukasi, literasi, seni, dan konservasi langsung.
Pada hari pertama, pihaknya memfasilitasi ruang baca gratis bagi anak-anak dan remaja di sekitar wilayah Kawaliwu melalui agenda Gelar Lapak Baca di pinggir pantai.

Untuk mengasah ekonomi kreatif hijau, para peserta mengikuti workshop atau lokakarya Kriya Pesisir, yaitu pelatihan mengubah sampah plastik dan limbah laut (kerang dan ranting) menjadi barang seni bernilai guna.
“Prinsip berkelanjutan juga diterapkan secara ketat melalui penerapan konsep zero waste. Seluruh peserta diwajibkan membawa alat makan pribadi untuk menghindari sampah plastik sekali pakai,” katanya.
Selain itu, kata Elsyn, para peserta membawa dan berbagi bekal pangan lokal seperti ubi, pisang rebus, jagung, lawar, aneka olahan hasil laut dan olahan sorgum.
“Langkah ini menjadi bentuk kampanye kedaulatan pangan lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim dan efektif memotong jejak karbon,” katanya.
Pada 20 Juni malam, kata Elsyn, suasana pantai yang tenang dijadikan ruang refleksi melalui pemutaran film dokumenter tentang dua orang muda penggerak pangan dan lingkungan di Flores Timur.
Setelah itu, peserta mengikuti sesi Bedah Isu dan Ruang Aman untuk membangun solidaritas antarkomunitas dan individu dalam suasana dialog yang aman.
“Pada sesi Malam Refleksi dan Ruang Aman, peserta berhasil merumuskan sembilan rekomendasi strategis beserta rencana aksi nyata yang ditujukan kepada pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat,” katanya.

Elsyn menyebut, salah satu rekomendasi utama adalah mendorong Dinas Lingkungan Hidup menghadirkan solusi yang lebih efektif untuk mengatasi persoalan sampah plastik di Pantai Kawaliwu.
Menurut peserta, sebagian besar sampah yang mencemari pantai tersebut merupakan “sampah kiriman yang terbawa arus laut, bukan berasal dari aktivitas masyarakat setempat.”
“Karena itu, peserta mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada penyelesaian masalah melalui advokasi yang konsisten dan aksi nyata berbasis masyarakat,” katanya.
Rekomendasi lainnya adalah mendorong penerapan regulasi lokal yang mewajibkan setiap pengunjung dan wisatawan yang datang ke Pantai Kawaliwu “bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan dengan membawa pulang kembali sampah tersebut.”
Langkah tersebut, kata dia, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bersama sekaligus mengurangi penumpukan sampah di kawasan pesisir.
“Gerakan pilah sampah di sekolah menjadi salah satu rekomendasi peserta untuk mendorong seluruh instansi pendidikan atau sekolah agar menyediakan tempat sampah terpilah organik dan anorganik sebagai ruang edukasi praktis sejak dini,” katanya.
“Kami juga mendorong kolaborasi dengan Bank Sampah di Larantuka untuk memperkuat pengelolaan dan daur ulang sampah secara berkelanjutan, juga adanya penguatan sinergi antara orang muda dan kelompok pengawas laut dalam menjaga ekosistem pesisir,” tambahnya.

Peserta juga merekomendasikan program Giat Pangan melalui pelatihan pengolahan pangan lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim sebagai upaya menciptakan peluang ekonomi sekaligus mengurangi pengangguran di desa.
Untuk menghadapi ancaman abrasi, kata dia, peserta merekomendasikan aksi nyata berupa penanaman mangrove secara berkala di kawasan pesisir, terutama di Pantai Kawaliwu yang disertai pengembangan pembibitan bakau.
Di sektor pariwisata, peserta mendorong pengembangan konsep wisata ekologi di Kawaliwu serta penyelenggaraan field trip edukasi iklim antardesa untuk memperluas kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Elsyn berharap pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat menyambut baik poin-poin tersebut demi masa depan Flores Timur yang berdaulat.
“Melalui kegiatan ini, suara dari pesisir Kawaliwu diharapkan mampu bergema lebih luas, mengingatkan semua pihak bahwa menjaga tanah dan merawat laut adalah tanggung jawab mendesak yang harus dipimpin oleh generasi muda hari ini,” katanya.
Editor: Herry Kabut



