Polres Manggarai: Pelajar yang Ditemukan Meninggal di Kebun adalah Korban Bunuh Diri

Korban sempat menyampaikan niatnya untuk bunuh diri kepada temannya.

Floresa.co – Polisi menyatakan jasad seorang pelajar yang ditemukan warga di kebun di Kabupaten Manggarai adalah korban bunuh diri.

Kepala Seksi Humas Polres Manggarai, AKP Gusti Putu Saba Nugraha menyatakan kesimpulan tersebut merupakan hasil penyelidikan terhadap kasus penemuan jasad siswa SMA itu pada 12 Oktober sore.

“Kami menemukan satu unit sepeda motor, satu unit ponsel, sepasang sandal berwarna ungu, sebatang rokok Surya yang belum habis, serta botol obat semprot hama. Di dekatnya juga, ditemukan pula dua titik bekas muntahan,” katanya kepada Floresa pada 13 Oktober. 

Ia menjelaskan, hasil olah tempat kejadian perkara dan visum mengonfirmasi bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban maupun indikasi keterlibatan pihak lain. 

Ia menambahkan, keluarga sudah mengikhlaskan kepergian korban dan menandatangani surat pernyataan hasil autopsi. 

Jasad siswa berusia 18 tahun asal Kecamatan Satar Mese itu ditemukan oleh empat warga Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, dalam perjalanan pulang dari kebun.

HP, salah satu warga, mengaku langkah mereka terhenti ketika melihat korban terbujur kaku di kebun dekat Wae Ces. 

Sekitar 15 meter dari tempat itu, katanya, terdapat sebuah sepeda motor terparkir di tepi jalan raya. 

“Kami mencoba mendekatinya. Pria tersebut tidak bergerak,” katanya kepada Floresa pada 12 Oktober. 

Gusti berkata, korban meninggalkan kosnya sejak 10 Oktober sekitar pukul 14.00 Wita. Pada pukul 20.00, ia menghubungi salah seorang temannya, meminta izin untuk menumpang menginap. 

“Keadaan tampak biasa hingga Senin pagi [11 Oktober]. Usai menyantap sarapan sekitar pukul 09.00, ia meminta temannya mengantarnya mengambil sepeda motor, lalu berpamitan dengan alasan hendak pulang ke kampung halaman,” kata Gusti.

Sekitar pukul 13.00, korban mengirim sebuah pesan lewat Facebook kepada temannya yang lain. 

Dalam pesan yang ditulis dalam Bahasa Manggarai itu, ia menyatakan keinginannya untuk bunuh diri karena tidak mau membebani orang tuanya.

 “Kepolisian sengaja membatasi rincian terkait peristiwa ini guna mencegah penularan perilaku serupa di tengah masyarakat. Namun, kisah tragis ini menyisakan duka yang mendalam,” kata Gusti.

“Ini pengingat pahit tentang betapa beratnya beban psikologis yang kadang harus dipikul sendirian oleh anak-anak muda di sekitar kita,” tambahnya. 

Dalam catatan Floresa, kasus ini merupakan yang kedelapan yang terjadi di Kabupaten Manggarai pada tahun ini.

Sejak Januari hingga awal Juni, terdapat tujuh kasus bunuh diri yang tersebar di Kecamatan Langke Rembong, Ruteng, Rahong Utara, dan Wae Ri’i.

Editor: Herry Kabut

Informasi bantuan: Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami krisis atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri, jangan menghadapinya sendirian. Segera hubungi orang terpercaya, tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan terdekat, atau layanan darurat setempat.

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA