Di Lokasi Semburan Uap dan Lumpur Panas Mataloko yang Sebelumnya Terlarang, PLN Bangun Kawasan Geowisata

Lokasi di Desa Wogo, Kabupaten Ngada, itu sempat dipagari dan diberi peringatan bahaya gas H2S. Pembangunan geowisata ditargetkan rampung pada awal tahun depan.

Floresa.co — Di lokasi yang pernah diberi tanda “Awas Gas H2S” dan larangan masuk bagi warga, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero kini membangun situs geowisata.

Kawasan di Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, itu merupakan lokasi semburan liar uap dan lumpur panas yang, menurut riset pemerintah pada 2004, dipicu kegagalan pengeboran awal proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko.

PLN menyebut pembangunan wisata geologi tersebut sebagai upaya edukasi berbasis manifestasi panas bumi. Menurut pemberitaan Pos Kupang, pengerjaannya memasuki tahap akhir dan ditargetkan rampung pada awal 2027.

Selain diklaim sebagai wahana edukasi dan pengembangan ekonomi, proyek itu disebut sebagai pemenuhan rekomendasi Satuan Tugas Penyelesaian Masalah Pengembangan PLTP di Pulau Flores dan Lembata. Satgas tersebut dibentuk Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena pada Mei 2025.

Dalam video yang diunggah akun Warta NTT ke Facebook pada 29 Oktober, tampak sejumlah orang berdiri di atas jembatan kayu panjang yang ditopang tiang-tiang beton. Selokan beton membentang di antara jembatan dan lahan yang telah digusur.

“Tempat ini akan menjadi laboratorium alam terbuka, tempat masyarakat juga peneliti belajar tentang sejarah bumi, mitigasi bencana, juga perubahan iklim,” kata seseorang yang berbicara di balik layar video tersebut.

Peringatan Bahaya di Bekas Lahan Warga

Lokasi geowisata berada sekitar 300 meter di sebelah barat atau belakang permukiman Kampung Turetogo.

Kawasan bekas persawahan dan kebun warga itu sebelumnya dipagari kayu oleh PLN karena dianggap berbahaya: lubang-lubang semburan liar uap dan lumpur panas bermunculan di sana.

Lahan seluas 49.360 meter persegi tersebut kini telah dibeli dan disertifikasi oleh PT PLN.

Saat Floresa mengunjungi lokasi pada September 2025, salah satu plang PLN di sisi lubang semburan terbesar berbunyi: “Area Terbatas. Dilarang Masuk Bagi yang Tidak Berkepentingan. Dilarang Mengikat Hewan Ternak di Area ini”.

Plang lain bertuliskan “Awas Gas H2S”, disertai peringatan untuk menggunakan pelindung wajah di dekat lokasi.

Laporan Floresa pada 2023 menelusuri kemunculan lubang-lubang tersebut ke kegagalan pengeboran awal geotermal Mataloko pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Riset Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2004 menyatakan semburan liar uap dan lumpur panas semula dipicu pengeboran sumur MTL-01 dan MT-1 yang gagal. Kedua sumur kemudian ditutup menggunakan campuran semen.

Sumur landaian suhu dan sumur eksplorasi itu terletak dekat mata air panas yang sebelumnya digunakan warga untuk mandi dan pengobatan penyakit kulit.

Dokumen evaluasi tersebut menyimpulkan kedua sumur “tidak memenuhi syarat sebagai pemasok uap PLTP Mataloko.” Saat itu, kebutuhan pasokan uap ditargetkan sekitar 40 ton per jam untuk kapasitas listrik 2,5 MW.

“Perlu dilakukan pengeboran sumur-sumur tambahan dengan total kedalaman antara 1000 meter hingga 1500 meter,” tulis dokumen itu.

Penutupan sumur MT-1 juga diakui Arifin Kana, Pelaksana Harian PLTP Mataloko, dalam pemberitaan Swara NTT.

“Kondisi uap yang tidak sesuai maka sumur MT-1 ditutup kembali oleh pihak pengebor,” ungkapnya.

Felix Pere, warga Turetogo, menyebut manifestasi liar mulai muncul pada 2006 dan terus bertambah dari waktu ke waktu.

Dalam catatan Floresa, semburan pada Desember 2024 muncul disertai bunyi gemuruh besar. Lumpur panasnya mengalir di permukaan kebun yang telah ditanami jagung oleh warga.

Lokasi semburan liar lumpur dan uap panas dampak proyek geotermal Mataloko di Desa Wogo, Kabupaten Ngada, sekitar 300 meter di belakang pemukiman warga Turetogo. (Dokumentasi Floresa)

Riwayat Operasi dan Pengembangan PLTP Mataloko

Pembangunan geowisata berlangsung bersamaan dengan pengembangan PLTP Mataloko. Proyek pembangkit ini semula dimulai pengeboran awal pada akhir 1990-an.

Setelah kegagalan pengeboran sumur MTL-01 dan MT-1 serta upaya perbaikan proyek, PLTP Mataloko mulai beroperasi pada 2010.

Operasi itu tidak bertahan lama. Pada 2011 terjadi kerusakan sistem pembangkit. PLTP kembali beroperasi pada 2013 hingga 2015, sebelum kembali tidak berfungsi.

Pemberitaan Swara NTT menyebut penyebabnya karena uap berkapasitas 5 MW yang tidak dapat menggerakkan turbin.

Pengerjaan proyek dimulai lagi pada 2019. Namun, menurut laporan Tirto, pada tahun berikutnya upaya tersebut kembali terhenti setelah muncul belerang. Laporan itu menyebut Mataloko memiliki potensi panas bumi 60 MW dalam kategori cadangan terduga.

Kini, di bawah kendali PT PLN, proyek membuka empat wellpad atau lokasi pengeboran baru di tiga desa: Radabata, Dadawea, dan Ulubelu. Pengembangan juga mencakup satu laydown area, tempat penyimpanan peralatan.

Pengembangan PLTP Mataloko menargetkan kapasitas listrik 2×10 MW dan disebut sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional. Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), dalam publikasi pada 2016, menyatakan pengembangannya masuk program elektrifikasi nasional 35 ribu MW.

Riwayat kegagalan proyek menjadi salah satu alasan warga terus menolak pengembangannya. Penolakan terhadap proyek geotermal juga mendapat dukungan Keuskupan Agung Ende.

Penolakan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, pertama kali disampaikan pada Januari 2025.

Laporan Floresa mencatat sikap tersebut menjadi pendorong demonstrasi besar-besaran umat Katolik, organisasi keagamaan, dan mahasiswa lima bulan kemudian.

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA