Pencarian Korban Banjir di Nagekeo Ditutup, Tiga Korban Dinyatakan Hilang, Kerugian Material Lebih dari Rp90 Miliar 

Penutupan ini mengikuti ketentuan UU yang menetapkan pencarian korban berlangsung selama tujuh hari

Floresa.co – Pemerintah secara resmi menutup operasi pencarian korban banjir bandang di Kabupaten Nagekeo, NTT, dengan tiga korban dinyatakan hilang.

Selain itu, kerugian material bencana ini lebih dari Rp90 miliar.

Kepala Kantor Basarnas Maumere, Fathur Rahman mengumumkan penutupan operasi pencarian korban dalam konferensi pers pada 15 September. 

Ia berkata, keputusan Tim SAR itu merupakan hasil rapat evaluasi bersama Basarnas Maumere, TNI-Polri, pemerintah daerah dan keluarga korban pada hari yang sama.

Penghentian tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. Aturan tersebut menetapkan operasi SAR dapat dihentikan jika seluruh korban telah ditemukan atau setelah tujuh hari tidak ada tanda-tanda ditemukan korban.

Setelah pencarian berlangsung tujuh hari, kata dia, tiga korban masih belum ditemukan, yakni Mariano Tom Busa Jago (29), Sebastianus So’o (42) dan Desiderius Geraldi, bayi berusia 14 bulan.

Ia berkata, selama pencarian Tim SAR Gabungan mengerahkan berbagai sumber daya, termasuk alat berat ekskavator dan bantuan anjing pemburu lokal. 

Namun, “tidak ditemukan lagi tanda-tanda penemuan korban.”

Kendati demikian, tambahnya, apabila ditemukan tanda-tanda penemuan korban setelah ini, operasi dapat dibuka kembali.

Fathur menyampaikan “turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya” kepada keluarga yang ditinggalkan.

Banjir yang terjadi di Nagekeo dipicu hujan deras dengan intensitas tinggi pada 8 September karena gelombang Equatorial Rossby, menurut Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang.

Gelombang tersebut termasuk fenomena atmosferik yang signifikan dalam dinamika cuaca dan iklim, berdampak pada pola cuaca, seperti hujan, angin dan perubahan tekanan udara. 

Gelombang ini dapat memicu hujan lebat dalam waktu singkat.

Wilayah terdampak di Nagekeo mencakup 20 desa di tiga kecamatan — Mauponggo, Nangaroro dan Boa Wae.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo menyebut kerugian material ditaksir mencapai Rp90,69 miliar 

Di sektor infrastruktur, kerugian sekitar Rp82,45 miliar, meliputi tiga unit jembatan yang putus, 28 kilometer jalan rusak berat, 18 jaringan irigasi yang hancur dan kerusakan sistem air bersih dan perpipaan.

Di sektor permukiman, tercatat 33 unit rumah warga, 23 pondok, enam dapur dan satu kios ambruk. Nilai kerugian ditaksir Rp4,18 miliar.

Kerusakan di sektor pertanian dan perkebunan meliputi lebih dari 94 hektare sawah terendam atau hanyut, ratusan pohon cengkih, pala, kelapa, kakao dan kopi hanyut. Nilai kerugian ditaksir sekitar Rp3,49 miliar.

Untuk sektor perikanan dan kelautan, delapan kolam ikan air tawar yang hancur dan enam kapal motor rusak berat. Total kerugiannya mencapai Rp568,66 juta.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img