Kepala Sekolah di Satar Mese Meragukan Data Dinas Kesehatan Soal Jumlah Korban MBG

Di sekolahnya saja, kata Kepala SDN Ulu Belang, korban lebih dari seratus siswa

Floresa.coSeorang kepala sekolah meragukan klaim Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai bahwa jumlah korban yang diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Satarmese hanya puluhan orang.

“Tidak masuk akal jika hanya 42 kasus,” kata Lena Lensiana Ije, Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ulu Belang kepada Floresa.

Di sekolahnya saja korban “mencapai 131 orang.”

Jumlah itu belum termasuk anak TK, PAUD, dan balita di Desa Ulu Belang yang juga ikut menjadi korban.

Lena merespons klaim Kepala Dinas Kesehatan Jefrin Haryanto dalam siaran pers pada 12 Februari bahwa “berdasarkan data sementara, terdapat 42 kasus yang teridentifikasi.”

Dari jumlah tersebut “39 kasus ditangani di Puskesmas Ponggeok dan 3 kasus di Puskesmas Iteng,” katanya.

Lena berkata, menurut pengamatannya di Puskesmas Ponggeok, antrean korban yang berobat penuh sejak pagi pada 12 Februari.

Ia menjelaskan, sebagian siswanya memang sudah ditangani langsung oleh perawat di sekolah dan “yang dilarikan ke puskesmas hanyalah yang benar-benar kehabisan cairan.”

Ia pun menyarankan agar Dinas Kesehatan menelusuri langsung ke rumah-rumah korban agar data lebih akurat. 

Lena berharap seluruh siswa yang terdampak segera pulih dan kembali ceria di sekolah. 

“Penting juga transparansi penanganan kasus ini, agar orang tua merasa aman menitipkan anak-anak mereka di sekolah manapun,” katanya.

Kepala Dinas Jefry Haryanto berkata, dari temuan sementara, para korban mencakup berbagai kelompok masyarakat, mulai dari ibu hamil, balita, anak sekolah, guru, hingga orang tua. 

“Seluruh kasus dilaporkan memiliki riwayat konsumsi MBG yang disajikan di sekolah dan posyandu dengan menu yang sama,” katanya.

Menu yang disajikan pada 10 Februari berupa nasi, telur, tempe, kacang panjang dan salak, sementara pada 11 Februari terdiri dari nasi, ayam, labu dan jagung.

“Gejala yang paling banyak dilaporkan antara lain diare, nyeri perut, demam dan sakit kepala,” katanya.

Ia menyatakan, dinasnya bersama tim terkait “sedang melakukan investigasi epidemiologi serta pemeriksaan sampel makanan dan spesimen pasien untuk memastikan sumber penyebab kejadian.” 

Ia menambahkan, pihaknya juga mengantisipasi kemungkinan adanya tambahan kasus, sehingga seluruh fasilitas pelayanan kesehatan telah disiagakan.

“Puskesmas di wilayah terdampak telah diinstruksikan melakukan penelusuran kasus secara aktif di daerah fokus guna menemukan masyarakat yang mengalami gejala serupa, namun belum mendapatkan pelayanan kesehatan,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala seperti diare, nyeri perut, demam atau keluhan lain.

“Masyarakat diharapkan tetap menerapkan prinsip keamanan pangan dan kebersihan makanan, tidak panik, serta menunggu informasi resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai,” katanya.

Informasi mengenai kasus dugaan keracunan MBG ini mencuat setelah Lena Lensiana Ije mengunggahnya di Facebook pada 12 Februari.

Ia menulis bahwa ada “wabah misterius” yang melumpuhkan aktivitas sekolahnya.

“SDN Ulu Belang sedang dilanda krisis kesehatan mendadak,” tulisnya.

Dari total 185 siswa, hanya 54 yang hadir di sekolah pada 11 Februari, sementara yang lainnya “dilaporkan mengalami gejala serupa berupa demam, mual, muntah, dan diare.”

SDN Ulu Belang menerima pasokan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Papang yang beroperasi sejak awal Desember 2025. SPPG itu bernaung di bahwa Yayasan Nircla Putri Angkasa.

Sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang, sekolahnya memutuskan menolak distribusi MBG selama beberapa hari ke depan sambil menunggu kondisi siswa dan guru pulih.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA