Umumkan Hasil Investigasi Independen, TAUD Ungkap Dugaan Keterlibatan Belasan Pelaku dalam Serangan terhadap Aktivis KontraS 

Mereka menilai serangan tersebut merupakan operasi terstruktur dan mendesak Presiden membentuk tim pencari fakta independen

Floresa.co – Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) mengungkap adanya indikasi keterlibatan belasan pelaku dalam serangan terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator Eksternal Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

Dalam keterangan bertajuk “Percobaan Pembunuhan Berencana Andrie Yunus: Operasi Intelijen Besar yang Libatkan Belasan Pelaku” yang diperoleh Floresa pada 20 Maret, tim tersebut mengumumkan hasil investigasi independen di mana mereka memperoleh bukti permulaan bahwa “operasi ini dilakukan oleh belasan orang, termasuk unsur sipil.” 

Mereka menyebut temuan itu sejalan dengan penyelidikan polisi di mana dua di antara terduga pelaku, masing-masing berinisial MAK sebagai pengendara motor dan BHC sebagai penyiram air keras.

Namun, mereka menilai “Polri masih harus membuktikan komitmennya dengan mengungkap kasus ini hingga terang benderang dan tidak melempar tanggung jawab ke pihak lain.”

Tim tersebut juga menyoroti langkah Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI yang menyatakan telah “mengamankan” empat anggotanya yang berinisial NDP, SL, BWH dan ES yang diduga terlibat dalam serangan itu. 

Komandan Puspom Mayjen Yusri Nuryanto, para tersangka merupakan anggota Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis yang juga berasal dari mantra Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Tiga di antaranya berpangkat perwira.

Kendati demikian, TAUD menyebut pernyataan itu belum dapat dipastikan kebenarannya karena tidak disertai informasi memadai mengenai bukti permulaan. 

Karena itu, mereka mendesak “Puspom TNI untuk bersikap transparan dan akuntabel dengan merilis foto atau menunjukkan pelaku secara langsung agar dapat diverifikasi kebenarannya oleh masyarakat secara independen.”

Perbedaan keterangan antara kepolisian dan Puspom TNI, menurut TAUD, menunjukkan perlunya mekanisme penyelidikan yang terbuka dan akuntabel melalui Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen dan memiliki kewenangan yang jelas diatur melalui hukum.” 

Terkait dugaan keterlibatan unsur sipil, mereka merujuk pada seseorang yang terlihat di sekitar kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), saat Andrie menghadiri siniar yang membahas isu militerisme.

“Pelaku yang disebut sebagai OTK (Orang Tak Dikenal) tiga terlihat di sekitar YLBHI beberapa jam sebelum kejadian mengenakan jaket atribut ojek online berwarna hijau,” tulis TAUD. 

Rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi yang dikantongi TAUD menunjukkan adanya dugaan koordinasi yang melibatkan lebih banyak orang. 

Mereka juga mengidentifikasi dugaan keterlibatan belasan pelaku, di luar dari jumlah yang disampaikan kepolisian maupun Puspom TNI. 

Merujuk pada temuan itu, mereka menilai serangan tersebut merupakan “operasi besar, terstruktur dan terorganisir yang digerakkan oleh pihak yang memiliki otoritas.”

Karena itu, mereka mendesak agar penyelidikan kasus tersebut tidak berhenti pada pelaku lapangan, tetapi juga aktor intelektual yang bertanggung jawab serta aktor-aktor yang memberikan dukungan operasional pada para pelaku.

Tim tersebut menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terhadap warga sipil dan seharusnya diproses melalui peradilan umum. 

“Tidak ada alasan yang cukup untuk menarik perkara ini ke peradilan militer. Mekanisme peradilan militer berpotensi menghambat akuntabilitas,” tulis TAUD.

Mereka juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto menyebut serangan tersebut sebagai “terorisme dan tindakan biadab. Harus kita kejar, harus kita usut. Siapa yang nyuruh, siapa yang bayar.” 

Menurut mereka, pernyataan tersebut perlu diikuti langkah konkret dengan  “memberikan perintah untuk segera mengungkap pelaku lapangan hingga aktor intelektual serta membentuk TGPF.” 

“Segera bentuk TGPF independen dengan melibatkan unsur masyarakat sipil melalui penerbitan Keputusan Presiden (Keppres) yang memberikan mandat dan wewenang jelas,” tulis TAUD. 

Tim tersebut juga mendesak kepolisian untuk mengusut kasus tersebut secara menyeluruh serta menjamin proses peradilan dilakukan melalui mekanisme peradilan umum.

Kronologi Kejadian

Dalam keterangan tertulis, Koordinator KontraS, Dimas Bayu Arya mengatakan Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras oleh Orang Tidak Dikenal yang menyebabkan luka di sejumlah bagian tubuh, terutama tangan, wajah, dada, dan mata.

Pada 9–12 Maret, ponsel Andrie dilaporkan menerima delapan panggilan dari nomor tak dikenal, sebagian di antaranya diduga berkaitan dengan modus penipuan.

Pada 12 Maret pukul 15.30 WIB, Andrie berangkat dari kantor KontraS menuju kantor Celios di Menteng, Jakarta Pusat, untuk menghadiri pertemuan terkait tindak lanjut laporan investigasi Komisi Pencari Fakta atas rangkaian aksi Agustus 2025.

KontraS terlibat dalam komisi itu bersama YLBHI dan LBH Jakarta untuk menginvestigasi kekerasan, kerusuhan, penangkapan hingga pemidanaan aktivis dan warga usai unjuk rasa yang memprotes kebijakan pemerintah dan DPR di Jakarta dan sejumlah daerah selama Agustus-September tahun lalu. 

Salah satu temuan mereka yang dirilis pada 18 Februari mengungkap dugaan militerisasi atau keterlibatan TNI dalam penanganan aksi, di antaranya dengan pengerahan ribuan personil yang bahkan dilakukan sebelum ada surat permohonan bantuan resmi dari Kapolri Listyo Sigit Prabowo.Usai pertemuan, ia melanjutkan kegiatan ke kantor YLBHI sekitar pukul 19.30 WIB untuk perekaman siniar, sebelum meninggalkan lokasi sekitar pukul 23.00 WIB.

Saat melintas di Jalan Salemba I–Talang, Jakarta Pusat pada pukul 23.37, ia melihat dua orang laki-laki menggunakan sebuah sepeda motor warna hitam dari arah berlawanan.

Saat berpapasan, penumpang belakang yang mengenakan penutup wajah tiba-tiba menyiram air keras ke tubuh Andrie. 

Andrie yang kesakitan lalu berteriak minta tolong, menjatuhkan sepeda motornya dan meninggalkan bajunya yang meleleh akibat air keras di lokasi itu.

Ia kemudian meneruskan perjalanan menuju kontrakannya di Menteng sebelum diantar oleh dua rekannya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Berdasarkan diagnosis dokter, ia mengalami luka bakar 24 persen dan kini sedang menanti tindakan medis berupa operasi mata untuk mengganti jaringan membran amnion atau cangkok dengan bius lokal.

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA