airnya yang bening terhanyut ke lubang-lubang sepi
wae teku kami sudah ke mana?
airnya yang bening sudah ke mana?
wae teku telah berubah rupa menjadi lubang hitam
beningnya sudah digantikan limbah pekat mangan
minum dan berak kami pun semuanya hitam-mangan
ketika wae teku mengering
air mata kami sudah habis
mengering….
tinggal tetesan air mata darah ke titik penghabisan
ke mana lagikah kami menimba air
ketika gung-gendang bertalu-talu mengiringi hentakan kaki dan betis putri-putri nusa bunga yang meliuk-liuk atas-bawah-kanan-kiri
ketika caci sedang dipentas di tengah-tengah natas labar
tiba-tiba datang segerombolan orang berseragam, menghentak:
“gantungkan larik, nggiling dan giring-giring di pohon-pohon sita;
mengapa caci diusir?
nenek moyang kami mewarisi caci
ketika kami diusir dari sini
ke mana lagikah kami akan bermain caci?
5.
dan putri-putri kami menyiang rumput di sekitar akar-akar umbi
tiba-tiba datang segerombolan orang berpangkat besar, menghentak:
mengapa kesejahteraan dipaksakan?
ketika kami dipaksa menjadi buruh tambang
etos kami segera berubah:
”dibentak-bentak oleh cukong dari negeri seberang
punggung-punggung kami dilecuti rotan diselang-selingi makian la’e buta*
diejek-ejek sambil menjulurkan lidah ke wajah-wajah kami dan berkata:
ke mana lagikah kami akan berladang?
andaikata jarum jam diputar kembali dan kami menjadi bayi
biarlah kami dibawa segera ke dalam rahim bumi
ketika semua ini terjadi
wae teku dan sungai-sungai mengering
hutan belantara menjadi gurun cadas
kebun dan ladang dijadikan lubang-lubang tambang
segelintir orang yang memegang palu kuasa
ketika semua ini terjadi
bumi ini sungguh tidak gratis lagi
tidak lagi menjadi ibu yang menyusui
apa-apa komersial
ke mana lagikah kami akan mengadu
masih beralasankah untuk kami berlama-lama hidup di atas bumi?
ke mana lagikah kami akan pergi kalau bukan kepadamu bumi,