Oleh: Arsen Setiawan
Kemajuan teknologi digital tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga membentuk ulang cara berpikir, memaknai dan merespons realitas sosial.
Transformasi itu salah satunya tampak dalam media sosial, hal yang kini memainkan peran sentral dalam kehidupan masyarakat, terutama di kalangan remaja dan generasi muda.
Ia tidak lagi sekadar sarana komunikasi, tetapi menjelma menjadi ruang utama kehidupan sosial.
Platform media sosial—seperti Facebook, Instagram, YouTube dan TikTok-—menjadi ruang berinteraksi secara daring, berbagi informasi, mengekspresikan diri, sekaligus membangun identitas sosial.
Laporan Digital 2026 menunjukkan tingginya penetrasi media sosial di Indonesia, dengan sekitar 78 persen pengguna internet aktif di media sosial dan total pengguna mencapai 180 juta akun.
Aktivitas ini didominasi kelompok usia 16–34 tahun, yang mencakup Generasi Z dan milenial muda, terutama di platform visual seperti TikTok dan Instagram.
Data tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sosial warga Indonesia semakin banyak berlangsung di ruang digital, yang pada gilirannya mengubah cara berinteraksi dan menanggapi realitas di sekitar.
Risiko Hilangnya Empati Sosial
Ketika interaksi dimediasi oleh layar dan logika platform, relasi sosial tidak lagi semata dibangun atas dasar kehadiran dan kepedulian, melainkan juga oleh visibilitas, atensi dan respons publik.
Dalam situasi ini, empati berisiko mengalami pergeseran makna, dari sikap moral menjadi performa sosial.
Media sosial yang semestinya menjadi ruang berbagi kerap bergeser menjadi ruang pamer, tempat ekspresi diri dan pengalaman orang lain dipertontonkan untuk memperoleh perhatian.
Pergeseran ini tampak dalam praktik produksi dan distribusi konten, khususnya pada akun-akun media sosial yang bernaung di bawah raksasa teknologi Meta dan dikelola dalam mode profesional seperti Facebook Profesional (FB Pro).
Fitur-fitur ini awalnya hadir untuk memacu kreativitas sebagai kreator konten, mengembangkan konten-konten edukatif dan menjadi peluang ekonomi digital.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit kreator mengabaikan aspek kreativitas. Dorongan untuk mengejar jangkauan, interaksi dan monetisasi membuat konten diproduksi tanpa pertimbangan etika, empati dan tanggung jawab moral.
Pada titik tertentu, sebagian kreator kehilangan batas antara kepentingan ekonomi dan martabat manusia.
Persoalan tentu saja bukan karena mencari penghasilan itu keliru, tetapi karena nilai kemanusiaan ditempatkan sebagai variabel yang bisa dikompromikan.
Ketika konten diposisikan sebagai sumber penghasilan, maka seharusnya ia membawa dampak positif, memberi edukasi dan menumbuhkan pengaruh yang baik bagi publik.
Namun, dalam praktiknya, situasi yang semestinya mengundang empati—seperti kecelakaan lalu lintas, musibah atau peristiwa sosial yang menyedihkan—malah dijadikan bahan konten.
Alih-alih menolong atau menunjukkan kepedulian, kamera yang dinyalakan justru menjadi tindakan pertama yang dipilih.
Bahasa khas kreator—seperti “salam berinteraksi”— tidak jarang disematkan pada tayangan yang menampilkan penderitaan orang lain.
Kondisi ini terasa sangat miris. Kesedihan dan duka berisiko direduksi menjadi sarana untuk meningkatkan keterlibatan audiens dalam bentuk suka, komentar, hadiah dan bintang.
Dalam logika semacam ini, empati tidak lagi hadir sebagai sikap moral, melainkan sebagai strategi konten. Yang dipentingkan bukan lagi kemanusiaan, melainkan bagaimana mengikuti cara kerja algoritma.
Perlu Solusi Bersama Pengguna, Platform dan Pemerintah
Antropolog media Sahana Udupa menegaskan bahwa etika digital tidak bisa dipisahkan dari teknologi itu sendiri. Menurutnya, keputusan penting tentang konten daring harus melibatkan manusia yang memiliki kesadaran nilai, bukan semata diserahkan pada sistem otomatis dan algoritma platform (LMU Munich, 2021).
Pandangan ini relevan dengan situasi hari ini, ketika kerja algoritma membentuk insentif yang kuat bagi jenis konten tertentu.
Algoritma bekerja berdasarkan perhatian, bukan kepedulian. Namun, ia tidak berdiri sendiri. Algoritma beroperasi melalui pilihan-pilihan manusia. Kreator yang memproduksi konten, platform yang merancang sistem dan pengguna yang terus memberi respons.
Karena itu, persoalannya bukan semata teknologi atau manusia, melainkan relasi antara keduanya.
Dalam skala global dan dalam kehidupan bernegara, memang penting bagi manusia untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Namun, adaptasi itu tidak boleh mengorbankan nilai-nilai etika dan moral yang menjadi fondasi kehidupan sosial. Teknologi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya.
Sebetulnya aturan konten Facebook Profesional 2025 telah mengatur dengan cukup jelas tentang kewajiban orisinalitas, larangan kekerasan dan pornografi, larangan eksploitasi tragedi dan sanksi berupa demonetisasi hingga penutupan akun.
Namun dari sekian banyak aturan tersebut, hanya sebagian kecil kreator yang benar-benar mematuhinya. Selebihnya masih dengan bebas menyebarkan video kecelakaan, korban meninggal, bencana alam, hoaks dan konten bermasalah lainnya.
Situasi ini menjadi cerminan kegagalan tata kelola platform yang membiarkan keuntungan ekonomi berjalan lebih cepat daripada koreksi etis.
Situasi ini perlu mendapat perhatian serius, tidak hanya dari pihak platform, tetapi juga dari pemerintah. Negara memiliki peran dalam memastikan tata kelola ruang digital yang adil dan aman, tanpa menjadi kontrol moral terhadap ekspresi warga.
Bukan Empati, Tapi Eksploitasi
Media sosial adalah ruang publik baru tempat nilai, norma dan perilaku sosial dipertontonkan sekaligus dibentuk. Ini menuntut tanggung jawab sosial dari penggunanya.
Hari ini penderitaan orang lain terlalu sering dijadikan bahan tontonan. Kamera dinyalakan, video direkam, lalu disebarkan seolah rasa sakit adalah milik publik.
Banyak yang berlindung di balik kata “empati”, padahal yang dilakukan justru memanfaatkan luka orang lain.
Jika kepedulian harus direkam, bantuan harus dipamerkan dan jika air mata orang lain harus disebarluaskan, maka itu bukan empati, melainkan eksploitasi. Penderitaan bukan hiburan, kesedihan bukan komoditas.
Martabat manusia tidak pernah diciptakan untuk mengejar likes dan views. Kadang, sikap paling bermoral bukan ikut merekam, tetapi berani berhenti, menutup kamera, dan memperlakukan manusia sebagai manusia—bukan sebagai konten.
Likes mungkin bertambah, namun ketika martabat berkurang, yang hilang bukan sekadar etika, melainkan kemanusiaan kita sendiri.
Arsen Setiawan adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, NTT.





