Oleh: Irvan Kurniawan
Apa yang terjadi di Davos, Swiss dalam Pertemuan Tahunan ke-56 World Economic Forum (WEF) pada 19- 23 Januari patut direnungkan dengan serius.
Bukan semata karena isu perang dunia atau dinamika politik global yang kembali memanas, juga bukan hanya karena pidato Presiden Prabowo Subianto di forum ekonomi elite dunia tersebut.
Kegelisahan justru bersumber dari sesuatu yang lebih mendasar: cara masa depan manusia sedang dibicarakan, dirumuskan dan diarahkan.
Davos adalah sebuah kota kecil berselimut salju yang setiap tahun berubah menjadi ruang pertemuan orang-orang paling berpengaruh di dunia.
Para kepala negara, miliarder, jenderal, pemilik perusahaan teknologi raksasa, hingga pemikir lintas disiplin berkumpul dan duduk sejajar.
Mereka berbincang tentang perang dan perdamaian, krisis dan stabilitas, pembangunan dan keberlanjutan. Singkatnya, tentang arah dunia dan umat manusia.
Hampir seluruh proses itu berlangsung melalui satu medium utama: kata-kata. Pidato, diskusi panel, pernyataan politik, hingga diplomasi informal semuanya dibangun di atas bahasa.
Donald Trump, misalnya, kembali melempar gagasan kontroversial tentang pembentukan “PBB tandingan” melalui apa yang disebut sebagai Dewan Gaza.
Ia membayangkannya sebagai sebuah forum yang lebih efektif dari PBB. Langkah yang terdengar humanis, serentak menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang berhak menentukan perdamaian dunia?
Dunia seolah diyakini dapat digerakkan, bahkan diubah melalui rangkaian kalimat yang disampaikan di ruang-ruang konferensi.
Yuval Noah Harari, sejarawan dan pemikir kontemporer, menyentil keyakinan ini dengan tajam.
Dalam salah satu pernyataannya, ia menyindir bahwa para pemimpin dunia percaya mereka bisa mengubah dunia dengan kata-kata.
Sindiran ini tampak sederhana, tetapi justru menyentuh fondasi peradaban manusia. Sejarah menunjukkan bahwa kata-kata memang memiliki daya yang luar biasa.
Dengan kata-kata, manusia menyusun hukum, membangun institusi, menulis Kitab Suci, menggerakkan massa, menyatukan bangsa, sekaligus memicu peperangan.
Kata-kata adalah simbol konkret dari pikiran. Melalui bahasa, pikiran yang abstrak dapat dibagikan, diperdebatkan dan diwariskan lintas generasi. Dalam arti tertentu, peradaban manusia adalah peradaban kata-kata.
Filsuf René Descartes pernah menyatakan Cogito ergo sum atau Aku berpikir maka aku ada. Namun, pikiran tidak pernah sepenuhnya hadir dalam ruang sosial tanpa bahasa.
Kata-kata adalah penegasan eksistensi manusia sebagai makhluk berakal dan bermakna.
Bahkan, tradisi keagamaan seperti Gereja Katolik, menempatkan kata pada posisi sentral: “Pada mulanya adalah Firman.”
Artinya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi spiritual dan moral.
Di Davos yang sama, hadir pula figur-figur teknologi seperti Elon Musk dan Jensen Huang, CEO NVIDIA.
Kehadiran mereka membawa pesan tentang masa depan yang dibentuk oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), komputasi tingkat tinggi dan teknologi yang melampaui batas biologis manusia.
Ada optimisme bahwa AI akan membantu manusia bekerja lebih efisien, hidup lebih lama, bahkan menjelajah luar angkasa.
Semua inovasi besar, baik di bidang teknologi, ekonomi, maupun politik bermula dari kata-kata.
Ide, visi dan imajinasi harus dirumuskan dalam bahasa agar dapat dipahami dan diwujudkan secara kolektif. Tanpa bahasa, tidak mungkin membangun organisasi, perusahaan, apalagi peradaban.
Ironisnya, justru pada saat para pemimpin dunia berbicara tentang masa depan manusia, kemampuan memproduksi dan mengelola kata-kata itu sendiri mulai diambil alih oleh mesin.
AI kini mampu menulis teks, menganalisis kebijakan, menyusun argumen hukum, bahkan menafsirkan Kitab Suci dengan kecepatan dan ketelitian yang bisa melampaui manusia.
Fenomena inilah yang cukup menggelisahkan saya.
Coba saja lihat media sosial akhir-akhir ini. Kita menemukan banyak orang yang mendadak jadi pakar dan penulis hebat hanya dalam hitungan menit.
Tak pernah belajar kedokteran tapi menulis ilmu sakit-penyakit, tak pernah belajar fotografi tapi bisa menghasilkan foto estetik, tak pernah menulis puisi tapi tiba-tiba jadi penyair, tak pernah belajar agama tapi tiba-tiba jago ceramah.
Di forum itu juga, Yuval Harari mengingatkan, jika hukum disusun dari kata-kata, maka sistem hukum dapat dikelola oleh algoritma.
Jika buku adalah kumpulan kata-kata, maka AI telah menjadi perpustakaan global. Jika politik dijalankan melalui persuasi bahasa, maka mesin berpotensi menjadi aktor politik paling efektif.
Bahkan, dalam ranah keagamaan, AI mampu mengakses, menghafal dan membandingkan teks-teks suci lintas tradisi secara instan, sesuatu yang sulit dicapai manusia.
Setelah selama ribuan tahun, kata-kata lahir dari pikiran manusia dan kita mendefinisikan diri kita melalui cara berpikir, dalam beberapa dekade ke depan, tidak tertutup kemungkinan sebagian besar narasi publik justru diproduksi oleh mesin AI.
Kita akan hidup di dunia di mana AI mengendalikan kekuatan super manusia: kata-kata.
Refleksi yang lebih luas perlu diajukan. Ketika masa depan manusia dibahas dalam forum global, bagaimana memastikan bahwa manusia tidak direduksi menjadi sekadar objek teknologi dan statistik ekonomi?
Peradaban manusia tidak hanya dibangun oleh rasionalitas dan efisiensi, tetapi juga oleh empati, kasih dan tanggung jawab moral.
Hingga kini, belum ada bukti bahwa AI memiliki perasaan. Mesin dapat menyusun kata-kata, tetapi tidak mengalami makna.
Di sinilah, peran manusia tetap tak tergantikan.
Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Tantangan utama bukan pada kecanggihan AI, melainkan pada kesadaran manusia untuk tetap memelihara nilai-nilai kemanusiaan.
Dan, pertanyaannya menjadi semakin mendesak: bagaimana cara memastikan agar kemanusiaan yang berpikir dan berperasaan tidak digerus oleh AI?
Jawabannya tidak terletak pada menolak teknologi, melainkan pada menempatkannya secara tepat.
Pertama, kita perlu kembali menegaskan bahwa berpikir bukan sekadar memproduksi jawaban, melainkan proses refleksi yang melibatkan keraguan, pertimbangan moral dan tanggung jawab.
Berpikir sama dengan menjaga kemanusiaan. AI dapat menyusun argumen, tetapi tidak menanggung konsekuensi etis dari keputusan.
Karena itu, pendidikan manusia ke depan tidak boleh hanya berorientasi pada kecepatan dan efisiensi, tetapi pada kemampuan bernalar kritis, memahami konteks dan mempertanyakan tujuan.
Kedua, lembaga moral seperti agama tetap relevan dalam konteks ini. Ia menjadi penyeimbangnya, memberi arah agar kemajuan tidak tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan.
AI bekerja berdasarkan data dan algoritma, namun tidak memiliki kesadaran moral intrinstik. Agama berperan sebagai kompas moral untuk memastikan pemanfaatan teknologi ini tidak melanggar martabat manusia
Ketiga, kendali atas teknologi tidak boleh sepenuhnya diserahkan pada logika pasar, apalagi ego politik tertentu.
Negara dan masyarakat sipil perlu memastikan bahwa pengembangan AI tetap berada dalam kerangka etika dan kepentingan publik.
Davos mengingatkan kita bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling canggih teknologinya atau paling fasih pidatonya. Masa depan ditentukan oleh kesadaran manusia untuk tetap hadir sebagai manusia, makhluk yang berpikir, berbicara dan merasakan.
Para pemimpin dunia di Davos membicarakan perdamaian. Namun, perdamaian tidak lahir dari forum, pidato atau kesepakatan elite semata. Perdamaian tidak tumbuh dari algoritma, tidak diproduksi oleh AI dan tidak dipaksakan oleh kekuasaan.
Perdamaian berakar pada sesuatu yang jauh lebih dalam dan mendasar, yakni kemanusiaan.
Ia dipengaruhi oleh kemampuan manusia untuk merasakan penderitaan orang lain, menahan hasrat mendominasi dan mengakui bahwa sesama manusia bukan alat, pasar atau angka statistik.
Jika Davos ingin benar-benar membicarakan masa depan manusia, maka yang paling pertama harus dijaga bukan hanya stabilitas global atau kemajuan teknologi, melainkan hati nurani manusia.
Tanpa kemanusiaan, klaim tentang perdamaian hanya akan menjadi retorika indah. Dunia sudah terlalu penuh dengan kata-kata tanpa makna.
Irvan Kurniawan adalah Youtuber yang fokus membahas isu-isu kebijakan politik, geopolitik dan geostrategi
Editor: Ryan Dagur


