Ketakutan Kampus dan Pentingnya Peran Intelektual Publik

Fenomena intelektual publik yang kini banyak datang dari luar kampus menjadi alarm serius bagi kampus

Oleh: Wihelmus Kelvin

Di sela-sela seminar di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero pada 15 November 2025, seorang peserta mengajukan pernyataan yang menarik perhatian saya. 

Inti pernyataannya demikian: fenomena ketakutan, sadar atau tidak, tengah melingkupi kampus atau dunia pendidikan kita hari-hari ini. Tandanya suara-suara kritis yang bergema dari kampus kian sepi. Suara kritis kampus yang sayup-sayup terdengar di ruang publik barangkali terjadi karena kampus sedang berhati-hati, kalau bukan karena mengalami ketakutan.

Ketakutan di sini dipahami dalam konteks pemikiran filsuf Amerika Martha Nussbaum. Bagi Nussbaum (2018) ketakutan adalah antagonisme demokrasi. Ia berbahaya bagi demokrasi karena ketakutan membuat seseorang atau sekelompok orang kehilangan empati dan kemudian meluluhlantakkan solidaritas antarsesama. 

Padahal, demokrasi ditopang oleh semangat deliberasi, kepercayaan dan kerja sama sebagai suatu komunitas politik. Di hadapan ketakutan, pilar-pilar demokrasi diguncang habis-habisan.

Ketakutan Kampus

Mengapa ketakutan menghinggapi kampus dan dunia pendidikan kita? Bukankah peran kepublikan mesti menjadi orientasi utama keberadaannya sebagai lembaga sosial? 

Salah satu penyebabnya adalah marketisasi ilmu pengetahuan (knowledge economies) di lingkungan kampus (Schulze Cleven, dkk., 2017). Artinya, aktivitas akademik di kampus semata-semata diperlakukan sebagai komoditas ekonomi. Ilmu pengetahuan akhirnya dipandu oleh logika pasar yang kian mencemaskan karena dapat mendegradasi substansi  ilmu pengetahuan sendiri.

Ilmu pengetahuan yang sebetulnya menjadi benteng kewarasan publik dalam menangani masalah-masalah sosial telah dipreteli untuk tujuan komersial semata. 

Tak heran jika para akademisi kita kehilangan relevansi di tengah masyarakat. Mereka seakan hidup di antah berantah karena menjauh dari realitas masyarakat yang kompleks.

Fenomena semacam ini tampak dalam sikap kampus yang lebih memilih membangun menara gading di puncak bukit, alih-alih menggemakan suara kritis di ruang publik. 

Kampus seakan lupa bahwa aktivitas akademik, betapa pun pentingnya, mesti kembali mengabdi ke tempat dimana ia bertolakke tengah-tengah masyarakat.  

Kampus sejatinya ibarat mercusuar di tengah badai sosial yang terus mengamuk. Ia memberi sinyal dan ultimatum ketika badai melanda masyarakat. 

Karena peran semacam inilah kampus menjadi penting bagi suatu masyarakat. Tanpa itu, apalah gunanya sebuah kampus yang berdiri megah di tengah kota dengan slogan yang mentereng pula.

Jika kampus sepi dari suara-suara kritis, kepada siapakah kita berpaling? Terhadap pertanyaan ini, barangkali sudah saatnya kita memikirkan kembali peran kepublikan yang selama ini diklaim hanya diemban oleh kampus dan para akademisinya.

Intelektual Publik

Tugas kepublikan tidak harus datang dari kampus. Ia bisa saja datang dari lorong-lorong gelap, dari balik jalanan yang berlumpur, jauh dari kemewahan kampus, tetapi berdampak secara sosial. 

Maka ketika kampus sedang mengalami tren marketisasi ilmu pengetahuan, yang kita butuhkan bukan lagi kampus dan para akademisinya, tetapi mereka yang disebut sebagai intelektual publik.

Di sini, apa yang kita sebut sebagai intelektual publik bisa saja datang dari luar kampus. Kampus bukan lagi satu-satunya “rumah” tempat peran kepublikan itu dimainkan.

Intelektual publik adalah mereka yang berani mengambil jarak dan garis pembatas yang jelas terhadap kelompok sosial yang paling berkuasa secara politis dan ekonomi dalam suatu masyarakat. Nama baik dan kewibawaan mereka di hadapan publik ditentukan oleh sikap terhadap mereka yang paling berkuasa. 

Hal yang membedakan mereka dengan kelompok sosial lainnya adalah mereka mengabdi pada upaya mencari kebenaran, keadilan dan etika melebihi kelompok yang lain dalam masyarakat (Ariel Heryanto, 2004).

Intelektual publik boleh jadi menguasai teori dan metode akademis, sebagaimana seorang akademisi, tetapi yang membedakannya adalah mereka berani menerobos batas, bergerak menemui medan dunia yang luas, menjumpai aneka persoalan yang membelenggu masyarakat. 

Dalam hal ini, intelektual publik memilih untuk keluar dari labirin intelektualisme yang kaku dan cenderung dogmatis. Mereka berusaha untuk memberi hidupnya bagi banyak orang dan dengan segera menanggalkan kemapanan.

Dengan kata lain, intelektual publik menghadapi masyarakat dengan menerobos batas-batas profesionalnya. Mereka menyeberangi etnisitas dan nasionalitasnya serta melampaui sekat-sekat kebudayaannya (Ignas Kleden, 2004).

Menerobos batas semacam ini bukan karena mengabaikan disiplin akademis yang tentu saja penting, tetapi yang lebih serius diperhitungkan oleh intelektual publik adalah bagaimana suatu persoalan yang mendesak masyarakat mesti segera dijawab dan dipetakan jalan keluarnya. 

Pilihan semacam ini bagi intelektual publik lebih sebagai konsekuensi etis atas peran kepublikkan yang dimainkannya. Bagi intelektual publik, mendiamkan persoalan sosial sama saja dengan membawa malapetaka bagi masyarakat.

Inspirasi dari Einstein

Sikap semacam ini agaknya dapat kita temukan dalam diri ilmuwan sekaliber Albert Einstein. Dia tidak hanya membangun teori relativitas dan memilih menyibukkan diri untuk menulis matematika tinggi yang sangat mungkin tidak dipahami awam. 

Bagi Einstein, ilmu pengetahuan juga mesti melayani masalah sosial yang mendesak kita hari ini. Ilmu pengetahuan tidak hanya disimpan di ruang-ruang penelitian atau di jurnal-jurnal dengan biaya yang tinggi untuk membacanya.

“Meskipun umat manusia telah menghasilkan banyak cendekiawan yang sangat sukses di bidang sains dan teknologi, kita telah lama begitu tidak efisien dalam menemukan solusi yang memadai untuk berbagai konflik politik dan ketegangan ekonomi yang melanda kita,” kata Einstein dalam sebuah kongres kaum intelektual pada 1948. 

Karena itulah, ia menerobos batas dan meninggalkan kemapanan dengan membicarakan apa yang sudah sepatutnya dibicarakan dari posisinya sebagai ilmuwan terkemuka. 

Einstein misalnya melibatkan diri dan menyatakan pendapatnya mengenai pendidikan dan perdamaian dunia, demokrasi, bahkan soal pandangan tentang kehidupan. 

Einstein menyadari pentingnya posisi intelektual di masyarakat. Namun demikian, posisi yang sentral semacam ini mesti diikuti dengan semangat keterlibatan kepada upaya pencarian akan kebenaran dan etika publik.

Melalui sejarah kita menyaksikan bagaimana ilmu pengetahuan dijadikan sebagai instrumen untuk melegitimasi hasrat kekuasaan yang melahirkan konflik.

Karena sikap semacam ini, kepublikan Einstein diakui secara luas dan menjadi warisan yang amat berarti bagi kita sekarang ini.

Alarm bagi Kampus

Di Indonesia sendiri semasa Orde Baru peran intelektual publik semacam ini cukup beragam. Pada suatu kurun waktu tertentu peran ini dimainkan oleh kampus. Kampus menjadi yang terkemuka sebagai corong suara kritis publik.

Namun, setelah kampus mengalami pengekangan dan kebebasan akademik dipasung, peran ini segera diambil alih media massa, LSM, kelompok-kelompok keagamaan, gerakan perempuan, hingga gerakan buruh yang berada di luar kampus (Ignas Kleden, 2004). 

Saat ini, intelektual publik banyak kali datang dari luar kampus. Fenomena semacam ini menjadi alarm serius bagi Kampus.

Kita misalnya menyaksikan bagaimana vitalitas peran media massa, gerakan perempuan, kelompok-kelompok kerja kreatif dan para seniman di sekitar kita. Suara-suara mereka yang menentang kelaliman penguasa amat diperhitungkan.

Boleh jadi mereka hanya menguasai teori dan metode seperlunya saja, tetapi sikap mereka yang berani menerobos batas dan mengambil jarak yang tegas dengan penguasa menjadikan mereka berbeda. Mereka kemudian mendapat pengakuan publik yang luas karena secara konsekuen menjalankan peran kepublikkan, sebagaimana khas intelektual publik.

Menyadari pentingnya panggilan dan peran intelektual publik di tengah masyarakat, sudah waktunya kita menggalang kekuatan kolektif guna mendukung peran intelektual publik. 

Berhadapan dengan rezim yang ambruk, intelektual publik akan menemui jalan panjang perjuangan sebagai hidup hariannya. 

Fenomena ketakutan, sebagaimana yang dicemaskan oleh banyak orang, hanya bisa taklukkan dengan kekuatan kolektif. Suara kritis intelektual publik barulah akan menjadi gema yang memekikkan telinga penguasa jika ia berakar dan mendapat legitimasi publik.

Jika ingin berjalan cepat, kata pepatah Afrika, berjalanlah seorang diri, tapi jika ingin menempuh jarak yang jauh, berjalanlah bersama-sama.

Perjalanan melawan ketakutan adalah perjalanan dengan jarak tempuh yang jauh. Dan dalam perjalanan panjang itu, intelektual publik adalah kompasnya.

Wihelmus Kelvin adalah mahasiswa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING