Floresa.co – Suara mesin ekskavator memecah keheningan pagi di Kampung Pau, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur pada 26 Januari.
Alat berat itu, yang beroperasi sejak pukul 07.00 Wita tiba di kampung tersebut pada 25 Januari sore, setelah penantian warga yang melakukan pencarian manual korban sejak dua hari sebelumnya.
Penggalian hari keempat dilakukan operator yang dibantu Tim SAR Gabungan di sekitar lokasi rumah yang ditempati para korban saat tanah longsor menerjang kampung itu pada 22 Januari sore, sekitar pukul 15.00.
Penggalian dilakukan secara bertahap dan hati-hati, di mana ratusan warga setempat ikut mengawal. Hingga kedalaman sekitar dua meter, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Proses kemudian dilanjutkan hingga kedalaman tiga meter, dengan pengawasan dari tim SAR dan aparat keamanan guna mengantisipasi longsor susulan.
Sekitar pukul 10.40, satu jenazah akhirnya berhasil ditemukan.
Korban diketahui bernama Lusia Resem, warga asal Kampung Munta, Desa Compang Weluk, Kecamatan Lamba Leda Selatan, yang saat kejadian berada di Desa Goreng Meni.
Lusia, perempuan berusia 55 tahun, tengah berkunjung dan tinggal di rumah saudara kandungnya Kongradus Lasa.
Pantauan Floresa di lokasi menunjukkan kondisi jenazahnya sudah membusuk, dengan beberapa bagian tubuh sudah terpisah satu sama lain.
Baju berwarna biru, celana hitam, serta sarung songke Manggarai yang ia kenakan masih menempel di tubuhnya.
Usai dievakuasi tim gabungan Basarnas, polisi dan TNI, jenazah Lusia langsung dimasukkan ke dalam kantong lalu diangkat menuju mobil ambulans.
Sekitar pukul 11.00, ambulans bergerak meninggalkan lokasi menuju tempat yang telah disiapkan petugas di Kantor Desa Goreng Meni.

Disambut Tangisan Anak-Anak
Suasana duka menyelimuti kantor desa itu saat jenazah Lusia tiba.
Tangis histeris keluarga pecah seketika, menyambut jenazah setelah penantian panjang penuh kecemasan dan doa.
Antonius Mari (23), satu dari keempat anaknya tak kuasa menahan air mata saat menceritakan sosok ibunya kepada Floresa.
“Saya sebelumnya tidak percaya mama saya akan meninggal seperti ini,” katanya.
Antonius berkata, pada malam sebelum longsor terjadi, ibunya sempat menghubunginya melalui sambungan telepon.
“Waktu itu mama bilang mau pergi berobat ke Kampung Tuwa, Desa Goreng Meni,” ujarnya.
Menurut Antonius, sebelumnya tangan kanannya terluka karena terpeleset saat mengejar ternak babi yang lepas dari kandang di sekitar rumah.
“Saya tidak menyangka itu jadi pembicaraan terakhir kami,” katanya.
Saat pertama kali membaca berita tentang longsor di desa itu, Antonius mengaku belum sepenuhnya yakin bahwa ibunya menjadi korban.
Pasalnya, dalam berita awal belum disebutkan identitas korban secara jelas.
Beberapa jam kemudian, muncul pemberitaan lanjutan yang menyebutkan nama Theresia Resem sebagai salah korban.
Kendati mulai cemas, ia mengaku masih ragu karena penulisan nama tersebut tidak sesuai dengan nama ibunya.
“Nama mama saya yang benar adalah Lusia Resem,” katanya.
Antonius yang pada 22 Januari masih berada di Batam, Kepulauan Riau – tempatnya merantau – langsung bersiap pulang ke Flores, meski mengaku kesulitan biaya perjalanan.
“Sisa uang saya cuma tiga juta rupiah, sementara harga tiket pesawat dari Batam ke Flores sangat mahal,” katanya.
Namun, ia tetap yakin bahwa ia akan bisa pulang menemui ibunya untuk terakhir kali.
“Karena mama selalu di hati saya, saya percaya mama mempermudah jalan pulang saya,” ujarnya.
Ia akhirnya tiba di Goreng Meni pada Minggu, 25 Januari sore dan langsung bergabung dengan warga serta tim pencarian untuk membantu proses evakuasi.
“Meskipun tanahnya sangat banyak dan berat, saya tidak menyerah. Saya yakin mama menunggu saya pulang,” katanya.
Harapan Antonius semakin besar ketika alat berat mulai diturunkan ke lokasi pencarian.
“Tadi malam saya tidak bisa tidur. Pikiran saya terus tertuju ke mama,” katanya.
Doa dan penantian panjang itu akhirnya terjawab saat ibunya akhirnya ditemukan.
Petrus Randi (15), anak bungsu Lusia yang kini duduk di kelas X SMK St. Bartolomeus Benteng Jawa mengaku mengetahui kabar duka tersebut saat pulang sekolah pada 22 Januari.
“Ada keluarga yang menceritakan kejadian itu dan saya langsung menangis,” katanya.
“Saya masih sempat bicara dengan mama. Tidak menyangka itu jadi pertemuan terakhir kami,” lanjutnya.
Selain Antonius dan Petrus, kepergian Lusia meninggalkan suaminya Ignasius Mami (67) serta dua anak lainnya, Felixsianus Jematu (28) dan Sofia Emen (25).
Sebinus San (48), salah satu kerabat menjelaskan saat tiba di Kantor Desa Goreng Meni, jenazah Lusia diperiksa secara menyeluruh oleh tim medis dari Puskesmas Benteng Jawa.
“Ada beberapa tenaga medis yang mengeceknya dengan teliti,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, lanjutnya, kondisi tubuh korban mengalami luka berat akibat tertimbun material longsor.
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih kepada tim SAR, TNI, Polri, tenaga medis, pemerintah desa, dan semua warga yang sudah membantu mencari dan mengevakuasi korban,” katanya.
Ia berharap perhatian pemerintah tidak berhenti sampai proses pemakaman, melainkan berlanjut pada pemulihan kehidupan keluarga korban dan warga terdampak lainnya.
Pantauan Floresa, pada pukul 16.20, jenazah Lusia Resem diberangkatkan menggunakan ambulans dan didampingi kendaraan Polsek menuju Kampung Munta, Desa Compang Weluk, Kecamatan Lamba Leda Selatan.
Sementara itu, pencarian terhadap satu korban lainnya yakni Yustina Mira (19) – anak Kongradus Lasa, terus dilanjutkan oleh tim gabungan dengan menggunakan alat berat.
Editor: Anno Susabun





