Paskah Amanue dan “Memoria Passionis” Lembata

Oleh: MIKE PERUHE OFM

Dalam duka mendalam, saya menulis memori perjuangan bersama seorang Frans Amanue yang adalah Bapa, Saudara dan Sahabat seperjuangan untuk tegaknya keadilan dan perdamaian. Berita kepergiaannya mengejutkan saya.

Berita itu mungkin juga menghentak hati banyak orang yang mengenal sosok pejuang keadilan berambut kapas putih. Duka mendalam bagi warga Lembata yang dibelanya. Spirit perjuangan ‘melawan tunduk’ pada praktek ketidakadilan dan pelanggaran hak-hak masyarakat kecil, telah menjadi bagian integral dengan napas kehidupan Amanue.

Meski napas kehidupannya telah diambil dari raganya, namun napas perjuangannya akan terus menginspirasi banyak orang dalam jalan perjuangan yang telah dimulainya. Memori tentang apa yang dilakukan seorang Frans Amanue ibarat lembaran-lembaran buku kehidupan yang tak pernah habis dibaca oleh mereka yang terpanggil untuk memperjuangkan tegaknya hak-hak masyarakat kecil, terpinggirkan dan tak berdaya.

Dia telah pergi, tetapi roh kepedulian dan keberpihakannya akan tetap jadi jiwa perjuangan kita.

Paskah Amanue

Pagi itu, Sabtu, 26 Maret 2016. Ketika seluruh umat tengah mempersiapkan perayaan meriah Malam Paskah, muncul berita dari Timur dalam awan-gemawan yang kelam. Romo Frans Amanue telah tiada. Dia pergi di saat senggsara dan salib bertukar menjadi sukacita kebangkitan.

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA