Wisatawan Asing Kembali Jadi Korban Penipuan di Labuan Bajo; Merusak Citra Destinasi, Butuh Pembenahan Struktural 

Kasus ini menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata, kata praktisi pariwisata

Floresa.co – Kasus penipuan terhadap wisatawan asing di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai kembali terjadi bulan ini, setelah kasus serupa terjadi bulan lalu.

Menurut praktisi dan pemerhati pariwisata, selain mencoreng nama baik Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas, kasus seperti ini membutuhkan pembenahan struktural, yang melibatkan pemerintah.

Yuvens Darung dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Manggarai Barat, menyebut kasus ini menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata. 

Ini bukan sekadar insiden individual, katanya, melainkan cerminan dari masih rapuhnya tata kelola, minimnya pengawasan serta longgarnya regulasi terhadap praktik operasional wisata yang berjalan di luar sistem formal.

“Kita membutuhkan langkah nyata, sistematis dan menyeluruh,” katanya, menambahkan bahwa pariwisata tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara sporadis, reaktif dan basa-basi.

Korban kasus terbaru itu adalah Matthew, 35 tahun, dan rekannya, keduanya wisatawan asal Inggris.

Penipuan terjadi saat mereka mencari spot snorkeling di sekitar Labuan Bajo pada 20 Juli. 

Mereka sebenarnya telah memesan trip snorkeling di Pulau Kanawa, sekitar 20 menit dari Labuan Bajo.  

Namun, Matthew mencari lokasi alternatif di sebuah grup Facebook dengan menulis “mungkin ada yang bisa antar kami ke tempat yang baik untuk snorkeling.”

Unggahan itu ditanggapi YP, seorang pria berusia 29 tahun, yang menawarkan dan meyakinkan Matthew dan rekannya untuk snorkeling di Nuca Molas atau Pulau Mules, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai.

Saat harus ke Pulau Mules lewat perjalanan darat, wisatawan membutuhkan waktu sekitar empat jam dan turun di Dintor, Desa Satar Lenda, lalu naik perahu sekitar 30 menit.

Matthew mengaku telah membayar Rp2 juta kepada YP untuk trip tersebut. Namun, saat tiba di Dintor, ia dan rekannya diminta naik rakit styrofoam berukuran sekitar 1×2 meter untuk menyeberang ke perahu. 

Keduanya sempat merekam momen di mana mereka mendayung rakit itu secara manual selama 10 menit.

Setelah naik perahu yang disebut rusak dan mesinnya bermasalah itu, mereka akhirnya tiba di Pulau Mules. Namun, pulau itu ternyata tidak memiliki spot snorkeling seperti yang dijanjikan.

Karena itu, mereka memutuskan untuk balik ke Labuan Bajo dan melaporkan kasus ini ke Polres Manggarai Barat. 

Kasus tersebut berakhir damai setelah terduga pelaku meminta maaf secara terbuka kepada kedua wisatawan itu di Polres Manggarai Barat pada 23 Juli.

Kasat Reskrim Polres Manggarai Barat, AKP Lufthi Darmawan Aditya berkata, korban telah menyatakan tidak akan melanjutkan kasus ini ke ranah hukum.

Ia menyebut terduga pelaku bukan merupakan pemandu wisata, melainkan sopir travel antarkabupaten.

Rapuhnya Tata Kelola

Fitri Ciptosari, dosen di Politeknik eLBajo Commodus berkata, kasus ini menjadi perhatian serius karena berdampak bukan hanya pada rasa aman wisatawan, tetapi juga merusak citra destinasi secara keseluruhan. 

Kasus penipuan, kata dia, juga bisa menghambat promosi pariwisata jangka panjang karena wisatawan akan menjadi lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih operator dan layanan. 

“Yang justru perlu diwaspadai adalah menurunnya daya saing pelaku usaha mikro dan kecil karena jaminan keamanan dan kepercayaan biasanya hanya mampu dihadirkan oleh operator yang tergolong premium,” katanya kepada Floresa pada 24 Juli.

Ia menambahkan, pemberitaan yang masif tentang kasus penipuan memang penting sebagai bentuk kontrol sosial, namun perlu diimbangi dengan kampanye edukatif kepada wisatawan. 

“Etika pemasaran seperti inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan Labuan Bajo saat ini,” katanya.  

“Sayangnya, sebagian besar eksposur masih berfokus pada keindahan alam (cenderung eksploitatif), tanpa jembatan informasi yang membangun literasi wisatawan,” tambahnya. 

Yuvens Darung dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Manggarai Barat mengingatkan bahwa pemerintah mesti berkaca pada kasus seperti ini untuk melakukan pembenahan struktural. 

Salah satunya adalah penerbitan sertifikat bagi pelaku wisata.

Ia mengingatkan agar Dinas Pariwisata, Budaya dan Ekonomi Kreatif Manggarai Barat segera mengaktifkan sistem registrasi dan verifikasi terhadap seluruh pelaku jasa wisata. 

“Tidak boleh ada lagi ‘pelaku liar’ yang menawarkan jasa tanpa legalitas dan keahlian. Agen tak resmi harus ditindak,” katanya. 

Yuvens berkata, pelaku usaha wisata juga perlu diberikan edukasi dan sertifikasi serta dibekali literasi pelayanan dasar. 

“Harus paham bagaimana menyambut tamu dan menjelaskan layanan dengan jujur,” katanya.  

Jika kita tidak segera mengambil tindakan konkret, kata Yuvens, insiden semacam itu akan menjadi bom waktu yang merusak masa depan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. 

Kemungkinan terburuk, katanya, pariwisata Labuan Bajo akan memasuki tahapan decline (penurunan) terhadap reputasi dan kunjungan. 

“Dalam siklus destinasi, sekali masuk fase decline, butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih,” katanya. 

Kasus Berulang

Penipuan terhadap Matthew dan rekannya merupakan kasus kedua tahun pada tahun ini. 

Pada bulan lalu, 20 wisatawan, 13 di antaranya berasal dari Amerika Serikat mengaku ditipu agen perjalanan Gratio Tour yang berkantor di Labuan Bajo.

Para wisatawan tersebut yang merupakan satu keluarga besar, sudah membayar uang Rp101,3 juta kepada agen perjalanan milik Dominikus Aliansi itu untuk paket perjalanan tiga hari dua malam ke Pulau Komodo.

Namun, setibanya di Pelabuhan Marina Labuan Bajo pada 2 Juni sekitar pukul 09.00 Wita, mereka tertahan hingga sore hari.

Pihak kapal menolak berlayar karena belum dibayar lunas oleh Gratio Tour.

Mereka mencoba menghubungi Dominikus, namun tidak tersambung. Persoalan itu kemudian dilaporkan ke polisi. 

Polisi yang mendatangi rumah Dominikus hanya menemui istri dan adiknya.

Setelah dimediasi oleh polisi, pemilik kapal mengizinkan wisatawan itu berlayar dan berwisata ke Pulau Komodo.

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img