Floresa.co – Kaum muda di Kabupaten Manggarai Timur menggelar turnamen bola voli selama lebih dari satu bulan, sembari membuka lapak buku dan memfasilitasi pengembangan ekonomi para pegiat usaha mikro.
Turnamen “Watu Kaur Cup 2025” itu diadakan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Watu Kaur, Paroki St. Paulus Mano di Kecamatan Lamba Leda Selatan.
Berlangsung di Lapangan SDI Watu Kaur pada setiap Sabtu dan Minggu sejak 15 Juni hingga 27 Juli, OMK juga memfasilitasi kegiatan literasi berupa penyediaan lapak buku.
Di lapak itu, anak-anak, remaja dan kaum muda bisa menyempatkan diri membaca di sela-sela pertandingan.
Sebanyak 23 klub voli turut ambil bagian dalam turnamen ini, mencakup 13 tim putra dan 15 tim putri.
Selain dari Stasi Watu Kaur, sejumlah tim undangan berasal dari OMK Stasi Pocong, OMK Stasi Lewe dan Kelompok Basis Gerejawi dari Stasi Golo Ndolo – semuanya bagian dari Paroki St. Paulus Mano.
Sulastri Osi, salah satu anggota panitia berkata, tujuan utama kegiatan itu adalah “menumbuhkan semangat berolahraga dan mengembangkan jiwa sportivitas di kalangan umat Katolik, terutama kaum muda.”
“Selain itu adalah untuk peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat melalui keterlibatan pelaku usaha mikro yang membuka lapak dagangan,” katanya kepada Floresa pada 27 Juli.
Pantauan Floresa, di sekitar lokasi turnamen, tampak belasan pelaku usaha mikro yang membuka lapak. Mereka menjajakan aneka makanan dan minuman, mulai dari cilok, kopi, gorengan, es batu, hingga kue.
Selain orang dewasa, para remaja juga tampak ikut berjualan keliling, menawarkan es krim dan kue ke penonton di tribun dan sekitar lapangan.
Ani Ragge, salah satu pelaku usaha mikro yang berjualan cilok dan es batu berkata, selama turnamen, dagangannya cukup laris.
Jika biasanya hanya 50 tusuk cilok yang laku dengan total pendapatan Rp75.000 per hari, katanya, saat turnamen meningkat menjadi 100 tusuk.
“Es batu juga laku terus hingga Rp100.000. Total pendapatan saya bisa naik sampai Rp250.000 per hari,” katanya.
Sementara Oktavianus Odos, pelaku usaha mikro lainnya berkata, “setiap sore saya bawa sekitar dua jenis kue, seperti donat dan bakpao.”
“Kalau hari biasa, biasanya hanya laku setengah, tapi selama turnamen hampir selalu habis,” katanya.
Hal itu membuat pendapatannya meningkat sekitar Rp50.000 hingga Rp70.000 per hari dibanding hari biasa.

Maria Angelina Amir, pembina Kepausan Anak dan Remaja Misioner SEKAMI dan OMK Stasi Watu Kaur yang menangani lapak buku berkata, mereka menginisiasinya setiap hari pelaksanaan turnamen.
Ia berkata, meskipun lapak buku tidak dapat berjalan hingga sore karena hujan, selalu ada orang yang ikut membaca.
Mereka adalah anak-anak, remaja, OMK hingga orang tua.
“Buku-buku yang kami gunakan berasal dari jejaring komunitas literasi di Ruteng, Rumah Baca Aksara,” katanya.
Kanisius Ngerang, warga Stasi Watu Kaur berkata, sejak OMK terbentuk, saya selalu mendukung kegiatan mereka, termasuk dalam turnamen ini.
Kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi generasi muda, katanya, termasuk “menumbuhkan rasa persaudaraan dan mendekatkan diri pada Gereja.”
“Harapan saya, setelah turnamen ini anggota OMK semakin bertambah dan setiap kegiatan bisa diikuti oleh semua anak muda.”
Ia juga menyoroti pentingnya kegiatan literasi yang dilakukan oleh OMK, seperti lapak buku, menyebutnya sebagai “salah satu bentuk dukungan terhadap peningkatan literasi, khususnya bagi anak-anak sekolah.”

Sementara, Sudirman Itok, orang tua dari salah satu OMK berkata, melalui kegiatan seperti turnamen ini “anak-anak kami bisa belajar banyak hal, termasuk bekerja sama dalam tim.”
“Nilai seperti ini sangat penting dalam membentuk kepribadian yang bertanggung jawab,” katanya.
“Ini bukan hanya ajang hiburan, tapi juga sarana pembentukan mental, kedisiplinan dan tanggung jawab. Sebagai orang tua, saya sangat mendukung,” tambahnya.
Editor: Ryan Dagur