Floresa.co – Donatus Anggur sempat terharu kala dua tahun lalu mendapat kabar proyek jalan di desanya langsung dibiayai dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Seketika ingatannya melambung jauh ke tahun 1991. Kala itu, Donatus yang kini berusia 79 tahun, merupakan Kepala Desa Waning (1988-1999).
Bersama Bupati Manggarai, Gaspar Parang Ehok saat itu, mereka mengusulkan pengaspalan jalan jalur Momol-Waning-Wae Ncuring ke Kementerian Dalam Negeri, setelah sebelumnya dibuka secara swadaya oleh masyarakat.
Ketika proyek jalan jalur itu terealisasi pada 2023, ia menganggapnya sebagai jawaban yang tertunda atas usahanya dulu.
“Ternyata usulan kami tidak mustahil,” ujar Donatus saat ditemui Floresa di rumahnya di Waning pada 13 September.
Pemerintah pusat mengalokasikan anggaran Rp23.206.658.000 untuk proyek peningkatan jalan Momol-Waning-Wae Ncuring itu.

Tak hanya Donatus, warga lain pun antusias menyambutnya.
“Siapa yang tidak mau maju? Apalagi jalur ini menuju ke kebun warga dan kampung-kampung di desa sebelah,” kata Lasarus Adi, warga Waning.
Agustinus Jemaru, warga lainnya berkata proyek peningkatan jalan itu bisa “memudahkan masyarakat mengangkut cengkih, porang dan semua hasil kebun lainnya.”
“Ini kan jalan ke kebun warga,” ujar pria berusia 65 tahun itu.
Harapan yang Pupus
Namun, harapan warga itu kemudian pupus karena proyek itu mangkrak dan ditinggalkan begitu saja oleh kontraktornya PT Bragas Cipta Construksi.
Perusahaan itu beralamat di Jalan Perintis Kemerdekaan 14 Nomor 8 Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Ia bisa mengerjakan proyek ini karena dananya dari APBN.
Pantauan Floresa, kini jalan tersebut tampak terbengkalai. Kerikil berserakan, sementara rumput liar tumbuh hingga di tengah jalan yang telah digusur, namun belum diaspal.
Di beberapa titik kerikil tampak menumpuk karena terbawa aliran air hujan.
Menurut warga setempat, kondisi jalan yang penuh dengan kerikil itu membuat banyak orang kecelakaan karena tergelincir.

Keluhan terhadap proyek itu sempat disampaikan Kepala Desa Waning, Alosius Palfon kepada Floresa pada April tahun lalu.
Ia berkata kala itu, PT Bragas hanya mampu mengerjakan “penggusuran jalan dengan lebar 12 meter yang dimulai dari stasiun nol baru sampai di stasiun 5.000 meter.”
Stasiun nol atau titik star pengerjaan ada di Kampung Pateng, Desa Pateng Lesuh, sedangkan stasiun 5.000 meter ada di Kampung Sumar, Desa Tehong.
Kontraktor, kata Alosius, juga hanya menyelesaikan penyebaran agregat tahap pertama sepanjang 5.000 meter dan hotmiks sepanjang 500 meter.
Sementara itu, Kepala Desa Tehong Falens Jeheong berkata pengerjaan proyek itu di wilayah desanya baru sebatas agregat, sedangkan hotmiksnya baru 70 meter dan baru sampai di Kampung Bilas, Desa Waning.
“Pengerjaannya belum sampai di Kampung Sumar. Jarak Kampung Sumar dan Bilas adalah empat kilometer,” katanya.
Sesuai kontrak, masa pengerjaan proyek berjangka waktu 125 hari kalender, mulai September 2023 hingga awal 31 Desember 2023.
Namun, menurut Mad Qurais, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek itu dalam wawancara dengan Floresa pada April 2024, PT Bragas tidak menunjukkan perkembangan yang berarti meski pengerjaan diperpanjang sampai 31 Maret 2024.
PPK pun memutuskan kontrak dan pengerjaan diserahkan PT Menara Armada Pratama.
Namun, perusahaan yang berbasis di Tenda, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai ini memutuskan tidak melanjutkan proyek warisan PT Bragas itu karena kompleksitas persoalan di lapangan.
Berdasarkan hasil pencarian jejak digital, Floresa menemukan bahwa PT Bragas punya catatan buruk dalam pengerjaan proyek di tempat lain.
Seperti dilansir Majalahfakta.id pada 16 Januari 2024, perusahan itu sempat menjadi sorotan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat dalam pengerjaan sebuah proyek jembatan di Provinsi Kalimantan Selatan.
PT Bragas mengerjakan proyek penggantian Jembatan Sungai Bikat dengan anggaran Rp10.611.662.000. Namun, pengerjaannya diduga tidak sesuai spesifikasi, tidak selesai tepat waktu dan pembayaran dana proyek tidak sesuai perkembangan fisik di lapangan.
Kerugian Lahan dan Tanaman Warga
Saat proyek jalan di Waning dikerjakan, PT Bragas menggusur lahan dan tanaman warga untuk pelebaran jalan. Warga tak keberatan karena demi mendapat jalan.
Lasarus Adi bercerita, ada delapan pohon cengkehnya yang digusur.
Senasib dengan Adi, Albertus Wadun juga memiliki kebun tepat di tengah jalan sehingga harus digusur. Sebelas pohon cengkihnya tumbang.
“Kebun saya seperti dibelah. Cengkih kalau diuangkan sekitar Rp20 juta,” katanya.
Tak hanya cengkeh, proyek jalan itu juga menggusur tanaman vanili yang sudah berbuah.
“(Nilai) vanili totalnya sekitar Rp10 juta,” tambahnya.
Yosep Turung, warga lainnya di Waning juga menanggung kerugian akibat proyek itu. Dua petak sawah milik Yosep ikut digusur.
“Hanya itu saja sawah milik saya,” kata Yosep.
Pasca penggusuran, bencana longsor kerap terjadi di lahan-lahan yang telah digusur. Akibatnya, tanaman cengkih dan komoditas lainnya yang tersisa tumbang.

Tak hanya usaha pertanian, usaha bengkel milik Saverinus Tapung, juga terdampak proyek jalan itu.
Sebagian lahan untuk bengkel motor yang berada di dekat rumahnya itu ikut digusur untuk pelebaran jalan.
“Jadinya kecil begini luasnya. Padahal, sebelum proyek bagian depannya masih luas,” katanya.
Melihat kondisi jalan yang tak diselesaikan pengerjaannya, warga di Waning merasa sangat kecewa.
“Kalau jalannya selesai kami pasti senang. Tapi melihat jalan ini sekarang kami sangat kecewa,” kata Agustinus Jemaru.
Kepala Desa Waning, Alosius Palfon mendesak agar proyek tersebut “dilanjutkan pekerjaannya.”
Ia berkata, banyak kerugian yang harus ditanggung masyarakat akibat proyek itu.
“Cengkih, vanili, cokelat (Kakao), kelapa, durian, dan perpipaan air minum bersih hancur total,” katanya.
Editor: Petrus Dabu




