Pemuda di Manggarai Barat Ikut Pelatihan Pertanian Ramah Iklim

Pelatihan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas orang muda untuk mempraktikkan pertanian cerdas iklim

Floresa.co – Para pemuda dari berbagai desa di Kabupaten Manggarai Barat mengikuti pelatihan pertanian ramah iklim yang diinisiasi Konsorsium Pangan Bernas, aliansi beberapa organisasi yang fokus pada pembenahan sistem pangan berkelanjutan dan inklusif.

Berlangsung pada 8-9 Oktober di Watu Mori Farm, Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeling, pelatihan itu diikuti oleh 22 pemuda yang tergabung dalam Komunitas Lino Tana Dite.

Komunitas itu beranggotakan para pemuda dari 10 desa di Kecamatan Sano Nggoang, Mbeliling dan Komodo.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program Urban Futures oleh konsorsium yang terdiri dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) dan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati).

Urban Futures merupakan program global dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial  pada 2023–2027 yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda dan aksi iklim.

Dalam pernyataan tertulis yang diterima Floresa, konsorsium menyebut pelatihan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas orang muda sehingga mampu mempraktikkan pertanian cerdas iklim (Climate Smart Agriculture/CSA) yang adaptif terhadap perubahan iklim, efisien dalam penggunaan sumber daya serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi tentang konsep dasar pertanian ramah iklim, pengelolaan lahan berkelanjutan, pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati serta pemanfaatan teknologi sederhana untuk efisiensi air dan energi. Para peserta juga dilatih untuk membuat pupuk organik, termasuk arang sekam (biochar) yang mendukung penerapan prinsip CSA.

Rahmat Adinata, staf Watu Mori Farm – perusahaan di dalam bidang pertanian holistik yang menjadi fasilitator menekankan pentingnya inovasi dan kemauan bertindak dalam mengelola sumber daya lokal.

“Kita harus mampu mengubah bahan-bahan yang tampak tidak berharga menjadi bernilai. Semua tergantung pada kemauan kita. Abu dapur misalnya bisa diolah menjadi pupuk yang menutrisi tanaman, sehingga kita tidak perlu membeli pupuk dari luar,” katanya.

Selama pelatihan, tulis konsorsium, beberapa peserta menyampaikan kendala yang mereka hadapi dalam mengelola lahan, terutama terkait sayur yang tidak berhasil tumbuh dengan baik. 

Merespons keluhan tersebut, Rahmat berkata, “tidak semua jenis tanaman cocok untuk ditanam di setiap lahan” karena bergantung pada ketinggian dan kondisi tanah. 

Rahmat Adinata, staf Watu Mori Farm saat memberikan penjelasan tentang pertanian ramah iklim kepada para peserta. (Dokumentasi Konsorsium Pangan Bernas)

Konsorsium menyebut hasil pelatihan tersebut akan menjadi dasar pengembangan rencana aksi pertanian berkelanjutan di tingkat lokal, sekaligus mendorong kolaborasi antara komunitas, pemerintah daerah dan pelaku usaha pangan untuk memperkuat ketahanan sistem pangan di Manggarai Barat.

Rizky Candra Nuraini, Manajer Program Urban Futures Koalisi Pangan Bernas menilai bahwa pelatihan tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan orang muda memiliki kapasitas dan mengembangkan praktik pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim. 

“Orang muda perlu mempersiapkan tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Pendekatan pertanian cerdas iklim menjadi salah satu langkah nyata untuk memastikan produksi pertanian tetap stabil di tengah tantangan perubahan iklim saat ini,” katanya. 

Paulina Mega Meo, perwakilan pemuda dari Desa Liang Ndara mengaku “kegiatan ini memperluas wawasan dan pemahaman tentang pertanian berkelanjutan.” 

“Selama ini kami bertani dengan keterbatasan ilmu yang kami miliki. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi mengetahui cara mengelola lahan dan membuat pupuk yang lebih ramah lingkungan sekaligus lebih hemat biaya,” katanya. 

Sementara itu, Beny Kabur Harman, pemilik Watu Mori Farm yang juga merupakan anggota Komisi III DPR RI menekankan pentingnya perubahan cara pandang terhadap lingkungan hidup.

Ia berkata, tindakan dan pendekatan pembangunan di masa lalu yang tidak memedulikan lingkungan telah menyebabkan perubahan iklim. 

Ia menyebut kelompok yang terdampak perubahan iklim adalah petani, nelayan dan perempuan. 

Karena itu, “kita punya kewajiban menjaga dan merawat lingkungan hidup.” 

“Tempat ini saya dedikasikan untuk pengembangan pertanian berbasis organik dengan sistem pertanian terpadu,” katanya.

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA