Taktik Penyebaran Disinformasi PT PLN demi Meloloskan Proyek Geotermal di Flores

Di Indonesia, laporan Floresa tentang proyek panas bumi adalah duri dalam daging bagi perusahaan milik negara. Untuk melawan investigasi dari organisasi media independen ini, PT PLN dilaporkan merekrut sekitar 30 jurnalis untuk menyebarkan pesan pro terhadap proyek geotermal di seluruh Pulau Flores. Orang-orang dekat PLN dan pendukung pemerintah juga menerbitkan kembali kampanye disinformasi di Facebook, yang menargetkan Floresa dan para penentang proyek.

Oleh: Alexander Abdelilah dan Floresa

Poin Utama:

  • Seperti yang ditunjukkan dalam dokumen internal yang diperoleh Forbidden Stories, PT PLN membayar jurnalis untuk menyebarkan pesan positif tentang proyek panas bumi yang sedang berlangsung di Pulau Flores.
  • Kesaksian eksklusif dari seorang sumber yang pernah terlibat dalam kerja sama itu menjelaskan propaganda sistematis yang bertujuan untuk mendiskreditkan Floresa dan para penentang proyek.
  • Menurut analisis Forbidden Stories, pendukung pemerintah dan individu yang dekat dengan perusahaan menargetkan Floresa dalam kampanye disinformasi yang diluncurkan oleh satu akun Facebook yang menyembunyikan identitasnya

Matahari bersinar cerah pada awal Oktober 2024 ketika telepon Ryan Dagur bergetar. Awalnya pemimpin umum media independen Floresa itu mengira tak ada yang aneh—tetapi pesan pada ponselnya itu menghidupkan kembali trauma yang tak lama sebelumnya mengguncang kehidupan tim muda di ruang redaksinya.

Sebuah sumber yang dekat dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memperingatkannya tentang kampanye disinformasi yang sedang berlangsung terhadap Floresa. Sumber tersebut membagikan salinan siaran pers yang katanya diam-diam diedarkan PLN di antara jurnalis yang dibayar.

Dokumen tersebut menargetkan penentang proyek pembangkit listrik panas bumi di Pulau Flores. Dirancang untuk mengubah panas dari lapisan bawah tanah vulkanik menjadi listrik, teknologi panas bumi telah menjadi bagian strategis dari upaya dekarbonisasi Indonesia, menurut strategi nasional pemerintah.

Siaran pers tersebut secara jelas menuduh Floresa dan jurnalis independennya—yang menonjol di tengah lanskap media lokal karena liputan tentang topik-topik yang kurang mendapat perhatian—menjadi bagian dari kelompok rahasia yang berusaha untuk “memobilisasi penduduk tertentu” menentang energi panas bumi.

Satu paragraf sangat mengkhawatirkan Ryan: isinya mengecam Pemimpin Redaksi Floresa karena bekerja demi “kepentingan provokasi dan pelaporan sepihak.”

Beberapa hari sebelum pesan itu, polisi telah memukul pemimpin redaksi yang dimaksud, Herry Kabut, saat ia meliput protes menentang perluasan pembangkit listrik panas bumi Ulumbu di Poco Leok. Polisi tidak menjawab pertanyaan Forbidden Stories tentang versi peristiwa yang menimpa Herry.

Menurut Herry, salah satu aparat polisi memanggilnya “provokator” dan mengkritiknya karena menerbitkan artikel yang terlalu negatif tentang sektor panas bumi. Kata-katanya memiliki kemiripan yang mencolok dengan poin-poin pembicaraan yang terkandung dalam siaran pers PLN, yang diedarkan oleh media lokal seperti Pijar Flores dan Info Pertama. Kedua pimpinan media tersebut yang tidak menanggapi permintaan komentar Forbidden Stories.

Perusahaan milik negara tersebut tampaknya memiliki pengaruh besar di pulau itu. Investigasi Forbidden Stories, yang dilakukan bekerja sama dengan Floresa, menunjukkan bahwa mulai dari membayar jurnalis hingga mencoba penyuapan, PLN tidak akan berhenti untuk memaksakan proyek panas bumi yang diprioritaskan pemerintah.

“Kolaborasi” Aneh PLN dengan Media

Saat itu hampir pukul 7 malam pada hari Minggu, 22 Desember 2024, ketika Ryan memasuki sebuah kafe berdekorasi apik di sebelah barat Jakarta. Dia sudah dua kali menolak pertemuan ini.

Duduk di seberangnya malam itu adalah dua orang dari bagian komunikasi PLN yang bersikeras bertemu dengannya, didampingi dua orang lain yang tidak dia kenali. Seorang rekannya dari Floresa, Petrus Dabu, duduk di samping Ryan.

Menurut Ryan, utusan PLN langsung ke inti pertemuan itu: mereka menawarkan untuk membayar Floresa untuk “berkolaborasi.”

Sebagai imbalannya, “mereka berharap laporan Floresa akan selaras dengan narasi mereka tentang proyek panas bumi di Flores,” kata Petrus.

Petrus mengenang perwakilan PLN menyebutkan “beberapa media lokal lain yang sudah bekerja sama dengan mereka.” Kedua jurnalis itu menolak dan, menurut cerita Ryan tentang peristiwa tersebut, PLN tidak menyerah dan menawarkan untuk membayarnya  secara pribadi untuk menjadi penasihat komunikasi. Ia lagi-lagi menolak.

“Mereka menyediakan makanan ringan, kopi, dan air mineral. Namun, teman saya dan saya tidak menyentuh satupun dari itu. Saya seorang perokok, dan salah satu dari mereka membeli dua bungkus rokok, tetapi saya tidak mengambilnya dan meminta mereka untuk membawanya pulang,” kata Ryan.

Pertemuan berakhir tanpa adanya kesepakatan antara keduanya dan perwakilan PLN. Pihak PLN yang tidak menanggapi permintaan komentar Forbidden Stories soal pertemuan itu.

Jika PLN melakukan pendekatan langsung seperti itu kepada jurnalis Floresa, itu karena media lain di pulau itu sudah menerima tawaran menguntungkan dari perusahaan.

Dokumen yang diperoleh Forbidden Stories dan Floresa menguraikan persyaratan “kolaborasi” jenis ini dengan perusahaan energi kuat yang mengoperasikan dua proyek panas bumi di Pulau Flores.

Rekening bank menunjukkan transfer yang dilakukan melalui rekening pribadi seorang karyawan perusahaan kepada seorang jurnalis yang bertanggung jawab untuk menyebarkan poin-poin pembicaraan PLN di media. Faktur berisi ringkasan bulanan dari semua publikasi ini sebagai bukti untuk melakukan pembayaran.

Bagi seorang jurnalis lokal, perjanjian dengan PLN menjamin peningkatan pendapatan yang signifikan—terkadang berkali-kali lipat dari gaji biasa mereka. Dengan total 9 juta rupiah, lebih dari 150 artikel yang memuji agenda PLN diterbitkan di empat media berbeda selama empat bulan.

Konten-konten berita itu memuji PLN karena menghubungkan desa-desa ke jaringan listrik dan mendistribusikan makanan dan perlengkapan sekolah kepada anak-anak. Konten-konten itu juga menyajikan klaim energi panas bumi sebagai “keharusan bagi masyarakat dan zaman.”

Untuk lebih memahami bagaimana sistem pengaruh yang dibuat PLN ini bekerja sehari-hari, seorang jurnalis yang pernah terlibat dalam kerja sama ini memberikan kesaksian kepada kami. Anton, nama samaran, adalah salah satu roda penggerak dalam mesin propaganda itu itu selama beberapa bulan dan telah setuju untuk berbicara untuk pertama kalinya.

Anton menggambarkan siaran pers dikirim “sekali atau dua kali sehari” dalam grup WhatsApp khusus pihak PLN dan “sekitar 30” jurnalis dari wilayah di Flores dan sekitarnya. Grup WhatsApp lain yang terdiri dari sekitar sepuluh jurnalis bahkan didedikasikan khusus untuk berita tentang Poco Leok.

Floresa menjadi subjek perhatian yang sangat dekat dari PLN, jelas ‘Anton’. “Ketika sebuah artikel kritis keluar, para jurnalis akan bergegas ke Poco Leok keesokan harinya dan menghasilkan banyak artikel pro-PLN untuk menenggelamkan narasi,” katanya. Itu adalah upaya propaganda sistematis, menurutnya.

Satu Akun yang Meragukan dan Disinformasi yang Nyata

Dalam konteks yang sudah bermusuhan ini, Floresa menjadi target serangan jenis lain—kali ini melalui media sosial. Antara awal Maret dan awal Juni 2025, informasi palsu mulai beredar di Facebook, berasal dari pengguna bernama Reba Pitak.

Unggahannya mencerminkan posisi PLN dan pihak berwenang, mendukung perjuangan melawan “kemiskinan struktural.” Alih-alih konten pribadi, akun Pitak diisi dengan gambar dan ilustrasi yang diambil dari profil dan situs web lain.

Reba Pitak mengaitkan media independen dan penentang energi panas bumi dengan entitas yang diduga dibiayai oleh asing, seperti miliarder Amerika George Soros dan perusahaan minyak besar seperti ExxonMobil dan BP.

Sebuah unggahan Reba Pitak dari 13 Mei 2025, melukiskan Floresa sebagai bagian dari kampanye anti-panas bumi yang didanai oleh perusahaan bahan bakar fosil yang memusuhi dekarbonisasi, mengutip sumber yang tidak mungkin ditemukan secara daring. Unggahan itu menuduh Floresa sebagai pion dalam “perang yang dibiayai oleh uang kotor dari Shell dan oligarki fosil untuk menjaga Indonesia di bawah cengkeraman energi kotor.”

Untuk lebih memahami motivasi di balik kampanye disinformasi ini, Forbidden Stories melakukan analisis terhadap 25 unggahan tentang energi panas bumi dari akun Reba Pitak antara Maret sampai Juni 2025.

Total 13 profil terpisah membagikan satu atau lebih unggahan ini—baik ke laman mereka sendiri atau di grup—berpotensi menjangkau 550.000 pengguna Facebook.

Di antara profil yang menyebarkan informasi palsu ini, setengahnya juga memublikasikan konten yang mendukung pihak berwenang. Hampir seperempat bekerja langsung atau tidak langsung untuk PLN. Bukti lain tampaknya menunjukkan upaya terkoordinasi untuk memperkuat unggahan tertentu dari Reba Pitak.

Satu unggahan yang menyerang “kebenaran mutlak” yang konon didukung oleh penentang energi panas bumi diunggah ulang oleh dua akun terpisah pada 7 Juni 2025. Di permukaan, mereka tampaknya tidak memiliki koneksi kecuali pengunggahan ulang yang hampir bersamaan ini dengan selisih dua menit, beberapa jam setelah publikasi awalnya.

Profil pertama yang terlibat bersifat anonim dan mulai menyebarkan informasi tentang Flores pada Mei 2025, dengan fokus pada kontroversi seputar aksi protes anti geotermal. Yang kedua adalah akun yang mendukung kampanye pemilihan bupati di Manggarai yang mencakup Poco Leok. Di permukaan, tidak ada koneksi antara kedua profil tersebut, selain pengunggahan ulang yang hampir bersamaan ini.

Ketika dihubungi oleh Forbidden Stories, akun Reba Pitak memperkenalkan dirinya dalam pesan tertulis sebagai anggota komunitas adat Manggarai dan menyatakan bahwa ia “tidak bekerja untuk PLN, bukan kontraktor atau juru bicara perusahaan, juga bukan konsultan pemerintah.”

Dalam pesan ini, akun tersebut menyangkal telah memublikasikan disinformasi apa pun, sebaliknya membingkai unggahannya sebagai “kritik terhadap media dan LSM yang sepenuhnya menolak panas bumi dan menolak dialog apa pun dengan negara dan dengan PLN.”

Di antara 13 akun yang diidentifikasi Forbidden Stories telah membagikan ulang konten Reba Pitak, hanya satu yang menanggapi permintaan komentar, dengan pesan yang mengatakan bahwa selalu baik untuk memiliki lebih dari satu pendapat.

Indonesia: Arena Bermain bagi ‘Buzzer’

Jenis kampanye disinformasi ini bukanlah kasus yang terisolasi di Indonesia. Ini adalah gambaran sekilas tentang industri yang sesungguhnya, yang para pelakunya memiliki sebutan: buzzer.

“Ini adalah dunia yang penuh rahasia,” kata Wijayanto, seorang peneliti ilmu politik di Universitas Diponegoro dan ahli di lingkungan. Setelah berbicara dengan beberapa klik tentara bayaran ini, ia menjelaskan bagaimana kampanye selalu dipicu “melalui broker, yang dekat dengan seorang politisi.”

“Buzzer tidak pernah melihat wajah orang yang memberi perintah; mereka hanya tahu koordinator mereka,” lanjutnya. “Terkadang koordinator juga tidak tahu, dan dibayar oleh broker. Broker dapat berupa konsultan politik atau seseorang yang dekat dengan seorang politisi.”

Sekitar 284 juta penduduk Indonesia membantu membentuk salah satu basis pengguna media sosial terbesar di dunia, dengan lebih dari 150 juta akun di TikTok dan 100 juta di Instagram. Itu berarti jumlah target—atau vektor—sama banyaknya untuk kampanye disinformasi.

Artikel ini merupakan bagian kedua dari dua berita hasil kolaborasi Forbidden Stories dengan Floresa. Artikel pertama bisa diakses di sini. Forbidden Stories yang berbasis di Paris, Perancis adalah organisasi investigasi nirlaba dan unik di dunia, yang melindungi karya jurnalis yang terancam dan meneruskan investigasi para reporter yang telah dibungkam. Laporan dalam Bahasa Inggris bisa diakses di Forbiddenstories.org. Versi Bahasa Indonesia ini mengalami penyesuaian minor, sesuai dengan kebijakan editorial Floresa

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img