Tragedi Cunca Wulang: Ketika Pariwisata Tumbuh Lebih Cepat dari Sistem Keselamatannya

Jembatan lapuk, papan goyang, tanpa SOP, tanpa rambu, tanpa asuransi. Itulah kondisi yang menyambut dua turis Austria di Cunca Wulang—salah satu destinasi wisata daratan paling populer di Labuan Bajo—sebelum mereka terjatuh ke sungai berbatu dan tewas.

Floresa.co – Jembatan gantung di kawasan wisata Cunca Wulang, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, ambruk pada 24 Mei.

Dua wisatawan asal Austria—Jurgen (54) dan Astrid (56) tewas usai terjatuh dari ketinggian sekitar 10 meter dan menghantam sungai berbatu di bawahnya.

Hasil pemeriksaan sementara kepolisian mengungkap gambaran yang mengkhawatirkan: jembatan dalam kondisi rusak dengan papan yang goyang dan terangkat, konstruksi yang rapuh, dan lubang akibat patahan selebar sekitar 1,20 meter.

Hal yang tidak ditemukan sama sekali adalah prosedur standar operasional atau SOP tertulis untuk pengecekan rutin, rambu peringatan khusus bagi pengunjung, asuransi wisata, maupun pelatihan keselamatan bagi petugas dan pemandu lokal.

Dari keterangan pemandu wisata, menurut Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, kedua korban sempat diperingatkan soal kondisi jalan yang licin. Namun saat melintas, papan jembatan diduga jebol dan keduanya terjatuh.

Jenazah korban masih disemayamkan di RSUD Komodo sambil menunggu koordinasi dengan Kedutaan Besar Austria.

Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi jenazah dua wisatawan asal Austria ke RSUD Komodo pada 24 Mei 2026. (Dokumentasi Kantor SAR Maumere)

Polres Janji Selidiki Menyeluruh

Kadang pun berjanji menyelidiki kasus ini secara profesional, transparan, dan menyeluruh.

“Kami akan mendalami seluruh aspek, baik terkait standar keselamatan wisata, tanggung jawab pengelolaan fasilitas, maupun unsur kelalaian yang mungkin terjadi,” katanya dalam keterangan tertulis pada 25 Mei.

“Semua akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tambahnya.

Penyidik telah memeriksa sedikitnya lima saksi: sopir, pemandu wisata, petugas pos jaga, kepala desa, dan personel pertama yang menerima laporan.

Polisi kini terus mengumpulkan alat bukti dan mendalami pihak-pihak yang bertanggung jawab, termasuk memeriksa Dinas Pariwisata, pengelola wisata, dan pihak hotel, serta berkoordinasi dengan ahli konstruksi dan laboratorium forensik.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menutup sementara objek wisata Cunca Wulang tanpa batas waktu melalui surat resmi tertanggal 24 Mei 2026.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan, Petrus Antonius Rasyid, mengatakan pihaknya tengah melakukan evaluasi menyeluruh.

“Tidak hanya evaluasi soal jembatannya saja, tetapi secara keseluruhan soal keselamatan,” katanya kepada Floresa pada 25 Mei. 

Ia mengklaim keselamatan wisatawan merupakan prioritas utama sehingga pemerintah perlu mengevaluasi dan menata kembali banyak hal, mulai dari fasilitas pendukung, hingga sistem pengamanan.

“Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar penentuan waktu pembukaan kembali,” katanya.

DPRD: Bukan Sekadar Soal Jembatan

Anggota DPRD Manggarai Barat, Kanisius Jehabut, menilai tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi serius terhadap tata kelola pariwisata daerah secara keseluruhan.

Ia mengingatkan bahwa Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2017 tentang Sistem Kepariwisataan sudah menegaskan pentingnya keselamatan dalam pengelolaan destinasi.

Namun selama ini, kata Kanisius, pembangunan pariwisata cenderung lebih menonjolkan promosi dibanding penguatan infrastruktur dan sistem keselamatan.

“Kalau sampai menimbulkan korban jiwa, yang harus dievaluasi bukan hanya jembatannya, tetapi seluruh tata kelola destinasi,” ujarnya.

Kanisius Jehabut, anggota DPRD Manggarai Barat dari Partai Gerindra. (Dokumentasi Gerindra.id)

DPRD melalui Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) akan segera menggelar rapat evaluasi implementasi perda tersebut.

“Minggu depan kami akan evaluasi Perda Sistem Kepariwisataan Daerah,” kata Kanisius.

Baginya, tragedi Cunca Wulang adalah pengingat keras bahwa keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan.

“Keselamatan wisatawan adalah indikator utama kualitas tata kelola pariwisata.”

Salah Satu Spot Wisata Populer

Cunca Wulang—yang berarti “lembah bulan” dalam bahasa lokal—adalah salah satu destinasi wisata daratan paling populer di Labuan Bajo.

Terletak sekitar 30 kilometer dari pusat kota, kawasan ini menawarkan air terjun dengan kolam alami berwarna biru di antara tebing-tebing batu gelap yang menjulang 30–40 meter.

Air Terjun Cunca Wulang yang berada di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling. (Dokumentasi Backpackerjakarta.com)

Dari Labuan Bajo, wisatawan menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan, kemudian dilanjutkan trekking 30–45 menit melewati hutan lindung Mbeliling sebelum tiba di lokasi air terjun.

Destinasi ini kerap masuk dalam paket wisata Labuan Bajo sebagai pilihan alternatif dari wisata laut dan Taman Nasional Komodo, dan dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Namun, di balik daya tarik alamnya, tragedi terbaru mengungkap gambaran yang mengkhawatirkan terkait keamanan berwisata di lokasi ini.

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA