Floresa.co – Asap tipis mengepul dari sebuah gubuk tua di tepi laut, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.
Di dalamnya, Anastasia Puke, 64 tahun, menata taping—wadah tradisional anyaman daun lontar untuk meniriskan dan mengeringkan garam yang baru dimasak.
Tangannya bergerak pelan, membersihkan sisa kristal garam sebelum memindahkannya ke dalam karung berisi 50 kilogram.
Di sampingnya, putrinya, Maria Sufrianti, menyusun kayu bakar di bawah tungku.
Bau asap bercampur asin laut menandai rutinitas turun-temurun mereka: memasak garam, menjemurnya, lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan harian.
“Bikin garam sudah dari dulu—dari mama, dari nenek,” kata Maria, 44 tahun, kepada Floresa pada awal April.
Namun rutinitas yang berlangsung lintas generasi itu kini kian rapuh. Banjir rob semakin sering datang, merendam dapur, membasahi kayu bakar, dan membuat garam gagal dikeringkan.
Jika produksi terhenti, tak ada penghasilan. Tak ada pula kepastian makan.
“Sejak mangrove ditebang, air laut lebih cepat masuk,” ujar Maria, menunjuk pesisir utara Maumere.

Mangrove sebagai Ingatan dan Pelindung
Bagi perempuan Kota Uneng, mangrove bukan latar pemandangan. Ia adalah pelindung kerja mereka—penahan air asin agar dapur tetap kering, agar garam bisa dimasak, agar waktu kerja tidak terpotong oleh banjir.
Karena itu, hilangnya mangrove segera terasa di tubuh dan rutinitas perempuan.
Mangrove, bagi mereka, juga ingatan kolektif tentang keselamatan—dan tentang bencana yang tak ingin mereka alami kembali.
Maria masih mengingat gempa dan tsunami 12 Desember 1992 yang menghantam pesisir Maumere dan menewaskan lebih dari 2.500 orang.
Saat itu ia masih remaja. Air laut naik, menyapu daratan dan merobohkan rumah-rumah.
“Kami tertahan mangrove,” katanya. “Air besar itu tidak langsung masuk ke kampung.”
Yance Lia, warga lainnya, menyimpan ingatan serupa. Saat angin puting beliung melanda pada 2017, mangrove kembali menjadi perisai.
“Kalau tidak ada mangrove, rumah kami habis.”
Karena itulah, mereka berupaya terus menjaga, dengan menanam kembali anakan di kawasan yang mulai gundul.
Ada pula ritual adat Hogor Hini yang digelar tiap 3 Desember di tengah hutan mangrove sebagai ungkapan syukur atas hasil laut dan perlindungan alam.
“Setelah ritual, orang tidak boleh masuk atau menebang. Kalau melanggar, nanti terjadi apa-apa,” ujar Maria.
Kini, hutan itu kian menipis. Dampaknya langsung terasa di dapur-dapur perempuan: air asin masuk, kayu bakar basah, anak-anak kedinginan, dan rasa cemas yang tumbuh setiap musim hujan.
“Ketika mangrove hilang, kami yang pertama kena,” kata Maria.

Beban Berlapis yang Dipikul Perempuan
Dalam struktur sosial kampung pesisir, perempuan bukan hanya pengurus rumah.
Mereka adalah pengelola pangan keluarga dan pihak pertama yang merasakan perubahan lingkungan.
Ketika mangrove rusak, beban mereka berlipat. Dapur tak lagi aman, hari kerja berkurang, pendapatan menurun.
Bersamaan dengan itu, perempuan menanggung beban psikologis: mengawasi anak agar tak terseret arus, memindahkan barang saat air naik, dan menjaga keluarga tetap selamat.
“Kami yang paling cepat tahu kalau laut berubah,” ujar Maria. “Karena kami yang paling lama di rumah.”
Penebangan yang Terjadi Diam-Diam
Dari luar, mangrove Kota Uneng tampak masih rimbun. Namun menurut Petrus Blasing, Ketua RT 13, kerusakan justru terjadi di bagian dalam.
“Masuk tiga sampai empat meter, penebangannya luas sekali,” katanya. “Sepertinya pakai gergaji, supaya tidak terdengar.”
Ia menyebut praktik ini berlangsung lama dan sulit dilacak.
Selain itu, keberadaan tambak ikan seluas 6.789 meter persegi di belakang permukiman—yang dikelola Eko Halim, pejabat KSOP Laurens Say Maumere—ikut menggerus kawasan mangrove.
Tambak tersebut telah ada sejak 1980-an dan mengalami beberapa kali alih kepemilikan.
Sebagian kolam berada di kawasan mangrove dan belum mengantongi izin usaha, meski memiliki legalitas tanah atas nama pemilik lama.
Eko mengakui tambaknya berada di antara mangrove, namun membantah melakukan penebangan.
“Saya belum punya izin karena masih proses. Tapi saya tidak tebang mangrove,” katanya pada 10 April.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sikka, Fransiskus Federikus, mengatakan pihaknya telah menghentikan sementara seluruh aktivitas di lokasi tambak setelah menerima aduan warga dan menemukan pohon-pohon mangrove yang ditebang.
“Kawasan itu diduga masuk wilayah lindung. Aktivitas harus dihentikan sampai ada kejelasan,” katanya.
Eko menyatakan telah mematuhi surat DLH dan menghentikan kegiatan tambak sementara.

Krisis Ekologi adalah Krisis Sosial
Apa yang terjadi di Kota Uneng bukan kasus tunggal. Data pemerintah daerah dan organisasi lingkungan menunjukkan luas mangrove di Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan berada di kisaran 30–35 ribu hektare, tersebar di Flores, Timor, Sumba, dan pulau-pulau kecil lainnya.
Namun, sekitar seperempat hingga sepertiga kawasan tersebut telah mengalami degradasi berat — akibat penebangan ilegal, alih fungsi menjadi tambak, dan pembangunan pesisir yang minim pengawasan.
Di sejumlah pesisir Flores, termasuk Maumere, kerusakan mangrove berkorelasi langsung dengan peningkatan banjir rob, percepatan abrasi pantai, dan berkurangnya perlindungan alami terhadap badai dan gelombang ekstrem.
Situasi ini memperburuk dampak krisis iklim bagi masyarakat pesisir — terutama bagi perempuan yang paling rentan dan paling sedikit mendapat perlindungan.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Cabang Nusa Tenggara Timur (Walhi NTT), Yuvensius Stefanus Nonga, menilai perusakan mangrove sebagai kejahatan ekologis.
“Mangrove itu sabuk hijau. Menghancurkannya sama dengan mempercepat datangnya bencana,” katanya.
Dalam krisis iklim yang makin nyata, hilangnya mangrove memperbesar risiko banjir rob, abrasi, dan gelombang ekstrem.
Dampaknya tidak datang tiba-tiba, melainkan pelan dan merayap ke kehidupan sehari-hari warga.
“Dan perempuan adalah pihak yang paling lama hidup dalam kondisi itu—setiap hari, setiap musim hujan,” ujar Yuvens.

“Kalau Dijaga, Mungkin Kami Masih Bisa Bertahan”
Warga Kota Uneng terus menanam mangrove, bahkan menyuplai bibit ke pesisir lain di Sikka.
Namun upaya itu tak sebanding dengan laju kerusakan.
“Yang ditebang lebih cepat dari yang tumbuh,” kata Maria.
Di sela asap tungku, ia memandang mangrove yang tersisa. Meski jarang, baginya pohon-pohon itu masih menyimpan harapan.
“Kalau dijaga lagi,” katanya pelan, “mungkin kampung ini masih bisa bertahan.”
Editor: Ryan Dagur
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi Floresa dan Project Multatuli untuk koleksi jendela.projectmultatuli.org




