Musik Lokal Melawan Nasib Jadi Ornamen Wisata

Di panggung Pesta Kampung, musik dan layar protes bertemu: Labuan Bajo maju sebagai kota wisata, tetapi warga, air, lingkungan, dan suara lokal masih terus terdorong ke pinggir.

Oleh: Ryan Dagur

Pada malam 14 September 2026, saya berdiri di antara penonton Pesta Kampung di Labuan Bajo. Panggung menghadirkan musik, tetapi juga membuka ruang ingatan bersama.

Ketika panitia festival dan band Efek Rumah Kaca tampil, dua layar di sisi panggung menyala. Konser seketika berubah menjadi ruang refleksi tentang kota wisata yang bergerak cepat.

Di layar itu, penonton berhadapan dengan persoalan yang selama bertahun-tahun menyertai pertumbuhan pariwisata: konflik investasi korporasi di Taman Nasional Komodo, tekanan terhadap lingkungan, krisis air bersih, dan warga yang terdorong ke pinggir di tengah kemajuan yang terus dirayakan.

Dari adegan itu, Pesta Kampung tahun ini yang mengangkat tema “Rindo”—dalam Bahasa Manggarai berarti menyanyi—perlu dibaca lebih jauh daripada sekadar festival musik.

Acara yang diinisiasi Videoge Arts and Society dan digelar pada 14–15 September 2026 ini penting sebagai ruang perayaan musik lokal. Namun, justru karena penting, ia tidak boleh berhenti sebagai romantisasi tentang panggung alternatif.

Layar konser itu mengingatkan bahwa musik lokal bukan sekadar urusan selera. Ia adalah bagian dari hak warga untuk hadir dalam kota yang sedang dibentuk ulang oleh industri pariwisata.

Sebagai festival yang lahir dari inisiatif komunitas, Pesta Kampung membuka ruang untuk menguji apakah pariwisata Labuan Bajo sungguh memberi tempat bagi kebudayaan warga, atau hanya memanggilnya ketika dibutuhkan sebagai penanda identitas daerah.

Dalam kota wisata yang terus tumbuh, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak wisatawan datang, hotel berdiri, atau acara digelar, melainkan siapa yang menentukan wajah kebudayaan kota itu.

Masalahnya, suara lokal kerap hanya diberi tempat pada momen seremonial, festival tertentu, atau acara yang membutuhkan dekorasi identitas daerah. Budaya lokal hadir sebagai tanda, tetapi belum selalu menjadi bagian yang hidup dalam ekonomi dan ruang publik kota.

Peminggiran itu jarang berlangsung melalui larangan terang-terangan. Ia bekerja melalui pilihan panggung, kurasi acara, selera pengunjung yang dianggap lebih menguntungkan, keputusan pemilik ruang hiburan, dan bayaran yang tidak sebanding dengan kerja seniman.

Salah satu tulisan di layar samping panggung ‘Pesta Kampung’ pada 14 September 2026. (Dokumentasi Floresa)

Dalam konteks itu, pilihan Pesta Kampung untuk mengkurasi karya para musisi menjadi bagian penting dari pesan festival. Panggung tidak sekadar dibuka sebagai ruang tampil, tetapi diarahkan untuk mendukung musisi yang bekerja dengan akar, bahasa, dan pengalaman lokal.

Pilihan kuratorial ini menolak anggapan bahwa musik lokal hanya pantas hadir sebagai nomor nostalgia atau hiasan acara wisata. Ia menunjukkan bahwa musik lokal adalah medan penciptaan: tempat musisi merawat akar, mengolah bahasa musikal, dan menciptakan karya baru yang berbicara kepada publik hari ini.

Labuan Bajo hari ini telah menjadi ruang pertemuan modal, kebijakan, imajinasi nasional tentang pariwisata premium, dan harapan ekonomi banyak orang.

Perubahan itu membawa peluang, tetapi juga risiko: warga lokal dapat terdorong ke pinggir dalam penentuan ruang, harga, pekerjaan, dan selera budaya. Dalam situasi seperti ini, musik lokal menjadi bagian dari pertanyaan yang lebih besar tentang siapa yang berhak membentuk kota.

Musik lokal menyimpan lebih dari bunyi. Di dalamnya ada bahasa, sejarah keluarga, ritus, kerja kolektif, humor, duka, ingatan kampung, dan cara warga memahami hubungan antara manusia, tanah, dan komunitas.

Ketika musik semacam ini kehilangan ruang, yang terancam bukan hanya variasi hiburan, melainkan salah satu cara warga menuturkan dirinya sendiri di tengah perubahan besar.

Karena itu, Pesta Kampung penting bukan hanya sebagai acara kreatif, tetapi sebagai intervensi kultural yang lahir dari kegelisahan warga dan komunitas seni terhadap ruang budaya yang makin sempit.

Namun, posisi itu juga menuntut sikap kritis terhadap festival ini sendiri. Pesta Kampung perlu menjawab apakah ia mampu membangun keberlanjutan setelah panggung selesai, membuka ruang bagi lebih banyak musisi lokal, dan menghindari nasib sebagai peristiwa tahunan yang ramai tetapi tidak mengubah struktur peminggiran musik lokal dalam industri pariwisata.

Catatan ini tidak mengurangi arti Pesta Kampung. Sebaliknya, ia menempatkan festival itu sebagai awal percakapan, bukan jawaban akhir. Agar tidak berhenti sebagai simbol, inisiatif seperti ini perlu terhubung dengan kerja yang lebih panjang: dokumentasi, regenerasi, panggung rutin, dan tekanan publik kepada industri serta pemerintah.

Beban menjaga musik lokal tentu tidak boleh hanya diletakkan di pundak komunitas seni. Jika pariwisata mendapat keuntungan dari identitas budaya daerah, maka pemerintah, pelaku industri, pengelola ruang hiburan, lembaga pendidikan, dan publik juga memiliki tanggung jawab.

Pasar budaya tidak selalu lahir dengan sendirinya. Ia dapat dibentuk melalui kurasi yang berani, pendidikan penonton, dukungan ruang pertunjukan, kerja arsip, kolaborasi lintas komunitas, dan kebijakan yang berpihak.

Di sinilah pariwisata Labuan Bajo perlu diuji: apakah budaya hanya dipakai sebagai latar promosi, atau sungguh diberi ruang agar warga lokal menjadi pelaku utama? Apakah seniman daerah dilibatkan sebagai pencipta dan pengambil keputusan, atau hanya sebagai pengisi acara?

Pesta Kampung telah memberi contoh bahwa ruang alternatif dapat dibangun dari bawah. Namun, contoh semacam ini mudah menjadi letupan sesaat jika tidak diikuti dukungan yang lebih luas.

Labuan Bajo membutuhkan panggung yang tidak hanya mengikuti selera wisatawan, arsip yang menyimpan sejarah musik lokal, kolaborasi yang menghormati seniman daerah, dan kebijakan yang menempatkan budaya sebagai ruang hidup, bukan sekadar bahan jualan.

Kota wisata yang kehilangan suara lokal sedang kehilangan salah satu dasar identitasnya sendiri. Labuan Bajo dapat terus tumbuh sebagai etalase pariwisata, tetapi pertumbuhan itu akan timpang jika suara warga setempat hanya terdengar dari pinggir.

Pesta Kampung mengingatkan bahwa masa depan pariwisata tidak cukup dibangun dari pemandangan yang indah. Ia juga harus memberi tempat bagi bunyi, bahasa, ingatan, dan karya warga yang membuat kota itu memiliki akar.

Ryan Dagur adalah editor Floresa

Editor: Anno Susabun

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi. Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami. Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING