Oleh: Laurensius Bagus
Membangun budaya baca di Nusa Tenggara Timur (NTT) selalu menjadi pekerjaan besar yang tak kunjung selesai.
Kendati pemerintah sudah meluncurkan berbagai program literasi, namun minat baca dan kemampuan literasi masyarakat di banyak wilayah masih rendah.
Data Badan Pusat Statistik NTT pada 2024 menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas baru 8,02 tahun. Artinya, sebagian besar orang NTT berhenti di jenjang SMP.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa sebagian besar warga belum menikmati pendidikan secara tuntas, apalagi menjadikan membaca sebagai kebiasaan.
Indeks Literasi Masyarakat NTT yang dirilis Perpustakaan Nasional pada 2023 juga menunjukkan bahwa tingkat kegemaran membaca di provinsi ini baru mencapai 67,81 poin, berada di peringkat ke-12 secara nasional.
Posisinya memang tidak terburuk, tetapi masih jauh dari ideal untuk mendorong masyarakat yang kritis dan produktif.
Namun, di balik angka-angka ini, NTT menyimpan cerita lain, di mana gerakan literasi tumbuh dari masyarakat sendiri.
Di desa-desa di Adonara, Kabupaten Flores Timur hingga dataran tinggi Mollo di Timor Tengah Selatan (TTS), muncul taman baca dan komunitas literasi yang digerakkan oleh guru, pemuda dan aktivis lokal.
Mereka membangun ruang baca dari bahan sederhana, membawa buku keliling dengan sepeda motor dan mengajak anak-anak membaca dalam bahasa daerah.
Gerakan ini mungkin kecil, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia tumbuh bukan karena proyek, melainkan karena keyakinan bahwa pengetahuan adalah alat untuk membebaskan diri.
Rendahnya budaya literasi di NTT tidak bisa dilepaskan dari tiga persoalan utama: akses bacaan, relevansi isi buku dan kebiasaan sosial.
Pertama, akses terhadap sumber bacaan masih sangat terbatas. Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT (2024), banyak sekolah dasar di wilayah pelosok belum memiliki perpustakaan yang berfungsi dengan baik.
Buku-buku sering kali merupakan hasil donasi dari luar daerah, tanpa mempertimbangkan konteks lokal.
Akibatnya, anak-anak membaca kisah tentang kehidupan di kota besar, yang jauh dari pengalaman mereka di kampung.
Infrastruktur juga menjadi kendala besar. Di beberapa kabupaten seperti Lembata, Alor, dan Sumba Barat Daya, masih banyak sekolah yang belum memiliki listrik dan akses internet yang memadai.
Hal ini membuat kegiatan literasi digital sulit berkembang. Padahal, dunia pendidikan kini menuntut kemampuan membaca dan menulis di ruang digital.
Kedua, masalah relevansi bahan bacaan. Buku-buku yang digunakan di sekolah sering kali tidak mencerminkan realitas sosial anak-anak NTT.
Kisah-kisah tentang anak Jakarta yang pergi ke museum atau naik MRT tentu terasa jauh dari kehidupan anak di TTS atau Flores Timur yang membantu orang tua di ladang setiap sore.
Inilah yang coba diubah oleh komunitas lokal seperti Lakoat Kujawas di Mollo atau Taman Baca Pelita Adonara.
Mereka menulis ulang cerita rakyat, kisah petani dan legenda desa ke dalam buku anak-anak dengan bahasa yang mudah dipahami.
Hasilnya, minat baca meningkat karena anak-anak merasa “melihat diri mereka” di dalam buku.
Ketiga, kebiasaan membaca belum menjadi bagian dari kehidupan sosial. Masyarakat di banyak wilayah di NTT lebih akrab dengan budaya lisan daripada tulisan.
Cerita disampaikan lewat dongeng malam hari, bukan lewat buku. Tradisi ini indah, tetapi ketika pendidikan formal menuntut kemampuan literasi yang tinggi, banyak anak tertinggal.
Di sisi lain, pemerintah seringkali memandang gerakan literasi sebatas kegiatan seremonial: lomba membaca puisi, festival buku atau pelatihan singkat.
Padahal, literasi adalah proses panjang yang membutuhkan ekosistem sosial dan dukungan jangka panjang.
Literasi tidak bisa ditumbuhkan hanya dengan mengirim buku dari luar. Ia hanya akan hidup jika ditanam di tanah yang mengenalnya.
Artinya, literasi di NTT harus tumbuh dari pengalaman masyarakat sendiri.
Beberapa langkah nyata berikut bisa ditempuh untuk mengatasi hal ini.
Pertama, mendukung gerakan literasi komunitas.
Pemerintah daerah perlu memperlakukan taman baca dan perpustakaan komunitas sebagai bagian dari kebijakan resmi, bukan sekadar inisiatif sukarela.
Dukungan dana kecil tapi rutin, pelatihan manajemen perpustakaan dan bantuan logistik bisa memperkuat mereka.
Kedua, mengembangkan bacaan lokal yang kontekstual. Sekolah dan lembaga pendidikan bisa menulis dan mencetak buku yang berisi cerita rakyat, sejarah lokal dan kisah inspiratif dari tokoh daerah.
Dengan begitu, anak-anak akan membaca tentang dunia yang mereka kenal, bukan dunia yang jauh.
Ketiga, melibatkan keluarga dan lembaga sosial. Gereja, kelompok pemuda dan organisasi masyarakat dapat menjadi tempat tumbuhnya kebiasaan membaca bersama.
Literasi tidak hanya milik sekolah, tetapi juga milik rumah dan komunitas.
Keempat, membangun kolaborasi lintas sektor. Dunia pendidikan, media lokal, lembaga agama dan pemerintah desa perlu berjalan bersama membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.
Tidak cukup hanya dengan acara seremonial, tetapi lewat pendampingan terus-menerus.
Pada akhirnya, literasi bukan sekadar soal membaca huruf, tetapi membaca kehidupan.
Ketika anak-anak NTT mulai membaca kisah mereka sendiri, mengenal tokoh dari tanah mereka sendiri dan menulis cerita mereka sendiri, maka itulah awal dari kemandirian berpikir.
Dan dari situlah, harapan untuk masa depan NTT akan bertumbuh — pelan, tapi pasti, dari tangan-tangan yang percaya bahwa buku bisa mengubah hidup.
Laurensius Bagus merupakan mahasiswa Universitas Cokroaminoto Yogyakarta
Editor: Herry Kabut


