Usai Ditolak Ata Modo, Penyelenggara Festival yang Disponsori Pemerintah Batal Pentas Teater ‘Legenda Putri Komodo’

Penyelenggara berjanji ke depan akan memperkuat komunikasi dan kemitraan dengan masyarakat adat khususnya dalam proses kurasi dan pementasan seni budaya

Floresa.co – Penyelenggara festival yang disponsori pemerintah di Labuan Bajo membatalkan pementasan teater “Legenda Putri Komodo” usai ditolak oleh Komunitas Pemuda Ata Modo, penduduk asli di Pulau Komodo.

Dalam keterangan yang diperoleh Floresa pada 1 November, Evan, Ketua Panitia Komodo Waterfront Festival 2025 menyatakan untuk mengantisipasi keresahan yang terjadi di tengah masyarakat Desa Komodo, “kami memutuskan membatalkan pagelaran Broadway Legenda Putri Komodo.”

Ia menyebut langkah itu diambil sebagai “bentuk komitmen tegas dan tanggung jawab moral kami dalam menghormati nilai-nilai adat serta warisan budaya masyarakat Pulau Komodo dan sekitarnya.” 

Ia berkata, “kami memahami cerita rakyat dan nilai-nilai budaya Komodo merupakan warisan sejarah yang harus dijaga keasliannya serta dihormati.”

“Kami juga menyadari adanya kekhawatiran dari masyarakat adat terhadap kemungkinan terjadinya salah interpretasi atas cerita yang diangkat dalam pagelaran tersebut,” katanya. 

Karena itu, Evan memohon maaf atas inisiasi penyelenggara untuk mengangkat Legenda Putri Komodo dalam acara tersebut. 

Ia menyebut langkah itu bukan akhir dari kreativitas, melainkan awal dari proses kolaborasi yang lebih otentik, bermartabat dan berakar pada nilai-nilai masyarakat lokal. 

Ke depan, katanya, panitia akan lebih memperkuat komunikasi dan kemitraan dengan masyarakat adat, khususnya dalam proses kurasi dan pementasan seni budaya.

“Panitia membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi masyarakat lokal, baik sebagai penasehat budaya, adat, pembawa tarian, maupun bagian dari tim kreatif, untuk memastikan setiap karya yang dihadirkan lahir dari pemahaman bersama dan penghormatan mendalam terhadap budaya Pulau Komodo,” katanya. 

Pernyataan Evan muncul setelah Komunitas Pemuda Ata Modo menyatakan menolak pementasan legenda itu yang akan digelar di hotel plat merah Meruorah Komodo Labuan Bajo karena tanpa izin dan mengusik budaya serta martabat masyarakat adat.

Dalam rapat konsolidasi yang diikuti 30 orang pemuda dan mahasiswa di Kampung Komodo pada 26 Oktober, komunitas itu menyatakan pementasan teater yang berisi cerita rakyat setempat seharusnya dilakukan setelah mendapat izin dari para tetua adat yang mewakili seluruh anggota komunitas.

“Masyarakat Komodo merasa tersinggung dan tidak dihormati ketika budaya dan adat diusik oleh orang lain,” kata mereka dalam pernyataan yang diterima Floresa. 

Riswan, Ketua Ikatan Mahasiswa Pulau Komodo (IMPK) yang menginisiasi rapat tersebut berkata, penyelenggara acara tersebut tidak pernah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan warga. 

“Kami kaget melihat rencana pentas cerita legenda kami yang paling sakral itu di media sosial,” katanya, “bahkan kepala desa juga tidak tahu.”

Riswan berkata, warga tidak mempersoalkan pertunjukan teater itu sebagai “bagian dari upaya promosi pariwisata Labuan Bajo.”

Namun, “ada etikanya, pengelola harus datang bertemu warga dulu dan melibatkan warga lokal.”

“Kami khawatir jangan sampai ada cerita yang tidak sesuai dengan apa yang ada di kampung dan sejarah Legenda Putri Komodo itu,” katanya, menyebut warga memiliki hak cipta cerita rakyat itu yang diwariskan turun-temurun.  

Firman, anggota IMPK lainnya berkata, kekhawatiran warga juga terkait “sesuatu yang bisa saja terjadi ketika adat dipentaskan di panggung oleh orang lain.”

Hal itu, kata dia, merujuk hal sakral yang di luar jangkauan pengetahuan dan pengalaman manusia.

“Kami di Komodo ada lima klan, setiap klan bahkan tidak bisa sembarangan membawakan atraksi terkait budaya warisan klan lainnya,” katanya.

Firman yang berasal dari klan Gunung Ara mencontohkan, pementasan tarian Kolokamba dari klan tersebut biasanya disertai “kerasukan mistis.”

Karena itu, katanya, “minimal penyelenggara kegiatan itu datang ke kampung untuk meminta persetujuan atau melibatkan klan-klan Ata Modo.”

Kinan, pemuda lainnya dari Kampung Komodo berkata, legenda tersebut berisi kepercayaan nenek moyang bahwa “komodo adalah keluarga kandung kami.”

“Keterkaitan itu tidak bisa dipisahkan,” katanya, “maka kami tegas menyatakan bahwa rencana pentas itu mencederai martabat kami.” 

“Menceritakan sejarah ini tidak bisa orang sembarangan, karena sejarah ini tidak main-main,” kata Kinan. 

Pementasan teater itu merupakan bagian dari Komodo Waterfront Festival 2025 yang digelar pada 15-22 November. 

Festival itu dilaksanakan di Hotel Meruorah dan Taman Plaza Marina, keduanya di pesisir Labuan Bajo.

Mengangkat tema umum “Bajo Heritage Threads, Flavors & Rhythm” atau “Warisan Bajo – Benang, Rasa & Ritme,” kegiatan tersebut kini memasuki tahun keempat penyelenggaraannya.

Dalam akun Instagram @komodowaterfrontfestival, panitia menjelaskan pentas teater Putri Naga Komodo menjadi acara penutup.

Beberapa acara lain yang ditampilkan antara lain karnaval budaya Manggarai, kompetisi musik Komodo Idol 3 hingga bazar UMKM.

Selain oleh Hotel Meruorah, acara ini disponsori pemerintah, termasuk Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.

Legenda yang Jadi Alasan Menolak Perusakan Alam

Legenda Putri Komodo adalah cerita rakyat dari Pulau Komodo yang mengisahkan tentang seorang putri bernama Putri Naga.

Ia menikah dengan seorang pria bernama Umpu Najo dan dikaruniai anak kembar, seorang anak laki-laki bernama Gerong dan seekor bayi kadal betina yang diberi nama Ora.

Gerong dibesarkan di pedesaan, sementara Ora dibiarkan hidup di hutan. Mereka terpisah sejak lahir sehingga membuat mereka tidak saling mengenal satu sama lain.

Tahun berlalu, suatu hari Gerong berburu rusa di hutan. Saat akan mengambil buruannya, seekor kadal besar muncul dari balik semak dan hendak merampas rusa itu. 

Gerong berusaha mengusirnya, namun gagal. Saat ia mengangkat tombak hendak membunuh kadal tersebut, tiba-tiba muncul seorang wanita cantik, Sang Putri Naga. 

Wanita tersebut melerai dan berkata pada Gerong: ”Jangan kau bunuh dia. Ia adalah Ora, saudari kembarmu. Aku yang melahirkan kalian, perlakukan ia sebaik mungkin karena kalian bersaudara.”

Riswan menjelaskan, selain lekat dengan adat masyarakat yang memperlakukan komodo sebagai saudara kembar atau “Sebae” dalam bahasa mereka, Legenda Putri Komodo juga mengandung makna bahwa warga menolak segala bentuk ancaman perusakan alam yang menjadi habitat satwa langka tersebut.

Kinan berkata, legenda itu juga menjadi pegangan bagi warga yang selama ini menolak beragam intervensi pemerintah dan perusahaan untuk menguasai lahan dan membangun infrastruktur pariwisata di habitat Komodo.

Hal senada disampaikan Firman yang menyebut legenda Putri Naga Komodo berkaitan erat dengan perjuangan warga selama ini untuk menolak proyek-proyek pembangunan di kawasan itu, khawatir “perubahan signifikan pada alam dan budaya.”

Salah satunya PT Komodo Wildlife Ecotourism milik Tomy Winata dan anak Setya Novanto yang hendak mendirikan ratusan bangunan di Pulau Padar dan mengantongi izin konsesi lahan di Pulau Komodo.

“Kalau kita mengizinkan perusahaan masuk, jejak-jejak nenek moyang kami lama-kelamaan akan memudar,” katanya. 

Ia berkata, Ata Modo terus memperjuangkan model tata kelola pariwisata yang tidak merusak alam.

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img