Floresa.co – Warga di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat kecewa dengan pemerintah yang menghentikan pembangunan jembatan, kendati lahan sawahnya sudah digusur Oktober tahun lalu, tanpa ganti rugi.
Pembangunan Jembatan Wae Impor yang menghubungkan Kampung Teno, Desa Compang Suka, Kecamatan Kuwus dan Kampung Koet, Desa Kolang, Kecamatan Kuwus Barat itu dimulai pada September tahun lalu.
Dengan anggaran Rp1.499.989.000 yang bersumber dari APBD 2025, proyek tersebut dikerjakan oleh CV Karya Muda Indah, kontraktor yang berbasis di Jalan Mbaumuku, Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Pius Dalang, warga Kampung Koet berkata, proyek itu terhenti sejak Februari 2026 dan kontraktor hanya membangun struktur bawah jembatan berupa dua tiang penyangga.
Ia mengirimkan tiga foto kepada Floresa, salah satunya menampilkan dua tiang penyangga yang berdiri di dekat sawahnya di tepi Kali Wae Impor.
Foto lainnya menampilkan susunan batu yang ditempatkan di tengah sawahnya. Bebatuan itu merupakan material untuk pembangunan jalan.
Pius mengaku lahannya yang digusur untuk pembangunan jalan itu seluas 0,5 hektar, sementara panjang jalan yang melewati lahannya sekitar 50-an meter dengan lebar enam meter.
Ia mengaku pembangunan jalan tersebut meninggalkan luka bagi keluarganya karena sawah mereka digusur tanpa pemberitahuan dan tanpa ganti rugi.
“Saya tidak dilibatkan saat penggusuran. Saya juga kaget saat melihat sawah saya sudah digusur. Ayah saya stroke setelah kejadian itu,” katanya kepada Floresa pada 4 Agustus.
Berbicara kepada Floresa pada 5 Agustus, Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi, Yosep Suhandi berkata, pembangunan jembatan tersebut dilanjutkan tahun depan. Ia tidak menjelaskan alasanya.
Hal serupa disampaikan Bupati Edistasius Endi dalam rapat Paripurna dengan agenda Pemaparan Rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara tahun anggaran 2027 pada 16 Juli.
Ia berkata, selain Jembatan Wae Impor, jembatan lain yang akan dikerjakan tahun depan adalah Jembatan Wae Mese yang menghubungkan Kampung Weor-Translok, Desa Macang Tanggar dan Merombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo.

Penggusuran Tanpa Ganti Rugi
Penggusuran lahan Pius Dalang sempat menuai polemik.
Dalam pernyataan pada 28 Oktober 2025, Pius menyatakan menolak penggusuran itu dan memagari sawahnya karena pemerintah tidak pernah mensosialisasikan pembangunan jembatan itu.
Ia berkata, awalnya peta jalan tersebut tidak melalui lahannya. Namun, karena pada peta lama melewati jurang sehingga membutuhkan biaya tinggi, pemerintah mengubah peta tersebut dengan melalui sawahnya.
Merespons aksi Pius, Kepala Dinas PUPR, Yosep Suhandi sempat mengatakan peta jalan yang kemudian dipakai sesuai dengan ditunjuk oleh warga.
Ia juga mengklaim tidak ada proses ganti rugi lahan dalam proyek ini, sehingga bakal “memakai pendekatan secara budaya dengan pemilik lahan.”
Pius berkata kepada Floresa pada 5 Agustus, hingga kini, pemerintah tidak pernah menemuinya untuk membahas penggusuran lahannya.
Polemik penggusuran itu sempat diunggah Kapolsek Kuwus, Arsilianus Lentar di akun Facebooknya.
Dalam video sekitar sembilan bulan lalu itu, tampak Arsilianus dan seorang anggota TNI serta beberapa warga dan pekerja berdiri di sawah Pius Dalang.
Arsilianus menyebut pembangunan jembatan tersebut merupakan “program yang sangat visioner sekali,” sehingga kalau sebagian lahan tersebut tidak diizinkan digusur, maka “pembangunan jalan ini tidak jadi.”
“Ada sedikit saja dari gambarnya (peta) itu yang nyenggol ini tanah. Nia keta hati nurani demeu ta? (Di mana hati nurani kalian?),” katanya.
Video itu dilengkapi dengan takarir: “Dari sekian banyak pemilik lahan yang dilalui oleh pembangunan jalan ini, salah satu warga merasa keberatan, bahkan menolaknya karena sayang akan sejengkal tanah petak sawahnya.”
“Kami hadir untuk memberikan pencerahan sekaligus memberikan rasa nyaman bagi warga yang sedang berada di lokasi pekerjaan,” tulisnya.
“Kami membangun komunikasi dua arah dengan cara persuasif, dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal,” tambahnya.
Ia menutup takarir itu dengan ajakan: “Mari kita berdiskusi dengan kepala dingin, tanpa harus memojokkan para pihak.”
Floresa mengirimkan video tersebut kepada Pius, namun ia mengaku tidak pernah mengetahui kehadiran Arsilianus di lokasi proyek.
“Tidak pernah ada pemberitahuan kepada kami,” katanya.
Editor: Herry Kabut



