Floresa.co — Gunung Anak Ranakah di Kabupaten Manggarai naik status dari level I atau normal menjadi level II atau waspada saat ribuan gempa susulan masih terus terjadi di wilayah Flores.
Kenaikan status berlaku sejak 1 September 2026 pukul 23.00 Wita, menurut Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria.
Dalam pernyataan resmi, ia mengatakan peningkatan aktivitas gunung tersebut terutama dipicu peningkatan tajam aktivitas tektonik lokal dan tektonik jauh setelah gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus.
Ia menjeaskan, sepanjang Agustus, Badan Geologi mencatat 367 kali Gempa Vulkanik Dalam, 3.272 kali Gempa Tektonik Lokal, 2.776 kali Gempa Tektonik Jauh, serta 218 Gempa Terasa dengan skala MMI II–VII.
Untuk per hari, Gempa Tektonik Lokal tercatat berkisar 38–414 kejadian, Gempa Tektonik Jauh 32–418 kejadian, dan Gempa Vulkanik Dalam 10–35 kejadian.
Aktivitas ini, jelas Saria, sempat menurun pada akhir Agustus, tetapi kembali meningkat pada 1 September. Hingga pukul 18.30 Wita pada 1 September, tercatat 94 kali Gempa Vulkanik Dalam, 144 kali Gempa Tektonik Lokal, 85 kali Gempa Tektonik Jauh, serta satu Gempa Terasa berskala MMI II.
“Kemunculan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan adanya proses peretakan batuan akibat suplai magmatik dalam yang mengubah tekanan pada tubuh Gunung Anak Ranakah,” kata Saria.
Ia menambahkan, energi seismik yang diestimasi dengan metode Real-time Seismic Amplitude Measurements (RSAM) juga meningkat signifikan sejak 15 Agustus, menurun pada akhir Agustus, lalu kembali naik pada 1 September.

Saria berkata, asap dari Gunung Anak Ranakah tidak teramati dari pos pengamatan. Namun, pemantauan menggunakan drone pada 25 Agustus dan 1 September menunjukkan perubahan aktivitas asap solfatara di sebelah barat kubah lava.
“Asap solfatara pada 25 Agustus teramati lebih tebal dibandingkan hasil pengamatan pada 1 September,” kata Saria.
Kondisi kubah lava memang tidak menunjukkan perubahan signifikan, namun, kata Saria, sejumlah longsoran terjadi di beberapa bagian pada 18 dan 20 Agustus akibat gempa.





Apa Arti Level Waspada?
Anak Ranakah merupakan bagian dari deretan gunung api di sepanjang Pulau Flores, yang berada dalam jalur Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire. Di Indonesia terdapat 127 gunung api aktif. Sebanyak 25 di antaranya berada di NTT, termasuk di Flores.
Gunung ini memiliki ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai salah satu gunung api termuda di Indonesia. Gunung ini terbentuk setelah erupsi Pegunungan Mandosawu-Ranakah pada 1987–1988.
Lokasinya berdekatan dengan permukiman dan lahan pertanian warga Manggarai dan Manggarai Timur, khususnya di bagian kaki dan lereng bawah.
Status aktivitas Gunung Anak Ranakah sempat dinaikkan ke level ‘siaga’ pada September 2011. Namun, sebulan kemudian, pemerintah menurunkannya kembali ke level waspada berdasarkan hasil analisa data visual, deformasi dan kegempaan. Pada Desember 2024, pemerintah juga sempat menaikkan statusnya ke level waspada, sebelum diturunkan lagi beberapa hari kemudian.
Waspada merupakan level II dari empat tingkat status aktivitas gunung api. Level ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas secara visual, seismik, atau vulkanik dibandingkan kondisi normal.
Dengan status waspada terbaru, Saria dari Badan Geologi mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Anak Ranakah, pengunjung, pendaki, dan wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius satu kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga diminta terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Anak Ranakah di Desa Wae Rii, Kecamatan Wae Rii atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
“Perkembangan aktivitas serta rekomendasi teknis Gunung Anak Ranakah dapat dipantau melalui aplikasi atau situs Magma Indonesia,” kata Saria.

Flores Masih Dilanda Gempa Susulan
Peningkatan status ini terjadi saat warga Flores, termasuk di Manggarai, sedang berjuang menghadapi dampak gempa 15 Agustus. Ribuan warga masih tinggal di tenda-tenda pengungsian mandiri dan bersama, setelah rumah retak dan roboh.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat jumlah korban jiwa mencapai 127 orang dan korban luka 1.668 orang hingga 1 September.
Korban jiwa terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, masing-masing 51 dan 40 orang. Korban meninggal lainnya tersebar di Nagekeo sebanyak 20 orang, Sikka enam orang, Ngada enam orang, Ende tiga orang, dan Manggarai Barat satu orang.
Jumlah pengungsi tercatat 181.354 orang, dengan konsentrasi terbanyak di Manggarai, disusul Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada.
Sementara itu, kerusakan bangunan mencapai 1.915 fasilitas publik dan 97.215 rumah warga. Dari jumlah itu, 27.294 rumah rusak berat, 22.137 rusak sedang, dan 47.784 rusak ringan.
BMKG mencatat hingga 2 September pukul 06.00 Wita terdapat 11.185 gempa susulan. Dari jumlah itu, 165 gempa dirasakan. Magnitudo terbesar gempa susulan mencapai 6,2 dan terkecil 0,9.
Pemerintah Provinsi NTT telah memperpanjang masa tanggap darurat hingga 12 September.
Editor: Ryan Dagur



