Jalan Kabupaten Rusak Parah, Sopir di Congkar Minta Pemerintah Manggarai Timur Beri Perhatian

Kondisi jalan yang buruk membuat tarif kendaraan tinggi yang membebani warga

Baca Juga

Floresa.co – “Entah jalannya yang salah atau pembangunannya yang tidak benar atau Pemdanya yang kurang peduli,” demikian kata seorang warga di Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur.

Pernyataan sarkastis itu meratapi kondisi jalan kabupaten di desanya yang rusak parah.

“Kini Matim – merujuk ke Manggarai Timur – sudah 15 tahun terbentuk dan kondisi jalannya kok masih kayak gini,” ungkapnya yang ditulis sebagai keterangan untuk foto-foto kondisi jalan itu yang diunggah di akun Facebook

Adiano, pemilik akun tersebut yang berbicara kepada Floresa pada 25 Mei berkata, ruas jalan Watunggong di Desa Satar Nawang menuju desanya, Compang Lawi ditingkatkan menjadi lapen pada 2010.

Lima tahun kemudian jalan itu mulai rusak dan sampai sekarang tidak lagi diperhatikan pemerintah.

Dalam foto yang dikirim Adiano, tampak ruas jalan itu hanya menyisakan bebatuan, sementara aspalnya sudah terkelupas.

Jalan itu “sangat tidak layak untuk dilintasi kendaraan roda dua dan empat,” kata Aldiano, yang bekerja sebagai sopir dump truck.

Ia berkata, kini hanya motor yang bisa melintas, sementara dump truck dan oto kol [bis kayu] sudah jarang karena dibutuhkan “sopir yang mempunyai mental yang kuat dan nyali yang besar.”

Ia berkata warga biasanya menyewa motor ketika hendak menjual hasil kebun seperti kopi, cengkih, kakao, vanili dan jahe di Watunggong pada setiap Jumat, saat ada jadwal pasar mingguan.

Dengan jarak tempuh hanya enam kilometer, mereka harus membayar ongkos pergi-pulang berkisar Rp60 ribu.

Ia berkata, warga biasanya hanya akan menyewa mobil jika ada keperluan mendadak seperti mengantar pasien ke Puskesmas Watunggong dengan ongkos pergi-pulang berkisar Rp30 ribu.

“Tarif kendaraan sangat membebani masyarakat karena tidak sesuai dengan jarak tempuh,” katanya.

“Tapi mau bagaimana lagi? Beginilah nasib kami yang ada di desa terpencil yang jauh dari perhatian para elit di Manggarai Timur.”

Ia berkata, para sopir  minta tarif seperti ini “bukan karena kami tidak kasihan dengan warga, tetapi karena resiko perjalanannya yang cukup besar.”

Aldiano bercerita saat musim hujan pada 2023, ia kesulitan mengemudikan mobilnya ketika mengangkut pasir karena roda kendaraannya tergelincir.

Beruntung karena ketika itu “saya sudah menyiapkan lima karung sekam padi dan banyak warga yang membantu mendorong mobil.”

Ia berkata kondisi itulah yang membuat para sopir “tidak berani” menjemput langsung penumpang di desanya.

Selama ini, kata dia, ia hanya akan melintas di jalan itu jika ada yang menyewa mobilnya untuk menjual hasil panen dalam jumlah yang banyak ke Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. 

“Biasanya kami muat kopi rata-rata 20 sampai 30 karung. Hitungan ongkosnya Rp40 ribu per karung. Rokok dan makan untuk sopir dan kernet ditanggung oleh pemilik kopi,” katanya.

Aldiano mengatakan jika hendak ke Ruteng untuk keperluan lain, warga biasanya mengendarai motor sampai di Watunggong, lalu naik travel atau oto kol dengan ongkos pergi-pulang berkisar Rp100 ribu.

Kondisi jalan yang rusak parah, katanya, juga menghambat mobilitas para guru yang mengajar di sekolah-sekolah di Desa Compang Lawi maupun di sekitarnya.

Lantaran ada titik jalan yang terputus, para guru yang mayoritasnya perempuan terpaksa “ membuka jalan tikus” agar bisa dilintasi kendaraan roda dua.

Ia berkata pemerintah desa sudah beberapa kali mengusulkan perbaikan jalan itu dalam forum Musyawarah Rencana Pembangunan tingkat Kecamatan yang dihadiri Dinas Pekerjaan Umum, tetapi sampai sekarang belum direspons dan ditindaklanjuti.

Penjabat Bupati Manggarai Timur, Boni Hasudungan tidak merespons permintaan komentar oleh Floresa pada 29 Mei.

Editor: Ryan Dagur

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kawan-kawan bisa berdonasi dengan cara klik di sini.

Terkini

spot_img