Floresa.co – Warga sebuah desa di Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat terpaksa menggotong seorang pasien menuju fasilitas kesehatan karena mobil tidak bisa masuk ke kampung mereka, buntut jalan yang rusak parah.
Kondisi infrastruktur yang buruk itu kontras dengan klaim Bupati Edistasius Endi bahwa pembangunan infrastruktur di daerahnya selama beberapa tahun terakhir meningkat signifikan.
Aksi warga itu tampak dalam video yang dibagikan via Facebook pada 5 Oktober oleh Afro Apul, warga Kampung Ba’ang, Desa Golo Ndari.
Dalam video itu, sekelompok warga berjalan kaki sambil menggotong pasien Hilarius Lehon di atas keranda bambu.
Video itu dilengkapi takarir “semoga pemerintah menaruh perhatian pada kenyataan ini.”
“Di Kampung Ba’ang, Desa Golo Ndari seorang warga harus digendong ke puskesmas karena jalan yang rusak berat dan sulit dilalui saat hujan,” tulis Apul.
Ia menambahkan, “di tengah keterbatasan, kami berjuang untuk nyawa sesama.”
“Kejadian seperti ini bukan hal baru-sudah berkali-kali terulang. Rakyat di pelosok juga berhak atas akses jalan yang layak dan pelayanan kesehatan yang cepat,” tulisnya.
Apul berkata, Hilarius menderita sakit usus yang membuatnya tidak bisa berdiri.
Warga mengantarnya ke Puskesmas Datak di Desa Golo Ronggot yang terpaut sekitar lima kilometer dari kampung mereka.
Sekelompok warga itu, kata dia, berjalan kaki menuju titik aspal di Kampung Kotok, Desa Golo Ndari yang terpaut sekitar dua kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.
Ia menyebut jalan menuju kampung tersebut masih berupa telford dan di beberapa titik tertutup lumpur sehingga sulit dilewati kendaraan.
“Saat musim hujan seperti sekarang, kendaraan sama sekali tidak bisa lewat,” katanya.
Apul berkata, inisiatif warga menggotong pasien bukan kali pertama terjadi di kampungnya.
Pada 2021, kata dia, seorang ibu dari kampungnya Fenita Ngedes terpaksa melahirkan di tengah jalan karena tidak ada kendaraan yang lewat di wilayah itu.
“Ruas jalan ini memang tidak pernah tersentuh aspal. Sudah bertahun-tahun kami tertinggal. Listrik juga belum ada. Lengkap sudah penderitaan kami,” katanya.
Ia berharap inisiatif warga menggotong pasien “bisa membuka mata pemerintah daerah untuk melihat penderitaan kami.”
Ia mengingatkan pemerintah daerah agar tidak hanya memberikan perhatian di kota seperti Labuan Bajo karena “kami yang di pelosok juga berhak untuk dapat akses jalan atau listrik.”
Selalu Diusulkan Saat Musrenbang
Saat pidato memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80 RI pada tahun ini, Bupati Edistasius Endi mengklaim pembangunan jalan strategis di wilayahnya mencapai 250,56 kilometer sepanjang 2021 hingga 2024, dengan tambahan 21 kilometer pada tahun ini.
Kendati demikian, klaim itu tidak sinkron dengan situasi yang dihadapi warganya, seperti yang dialami warga Kampung Ba’ang.
Para aktivis dan pengamat kerap menyoroti ketimpangan pembangunan di Manggarai Barat yang fokus pada ibukota Labuan Bajo, destinasi wisata yang sekaligus pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo.
Kepala Desa Golo Ndari, Benediktus Hawan berkata jalan yang dikeluhkan warganya masuk ruas jalan kabupaten, sehingga tanggung jawab memperbaikinya ada pada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Ia menyebut Kampung Ba’ang berada pada ruas jalan yang menghubungkan jalur Wae Racang Dali-Rehok-Kotok-Baang-Nggolo-Gelang di Kecamatan Welak hingga Ranggu di Kecamatan Kuwus.
Pembangunan ruas jalan tersebut, kata dia, selalu diusulkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam).
“Tiap tahun kami selalu mengusulkan jalan tersebut. Saat Musrenbangdes kami usulkan jadi P1 (skala prioritas) dan kami bawakan ke Musrembangcam jadi P1 juga. Hingga kini belum ada realisasi,” katanya.
Pada tahun lalu, kata Benediktus, pemerintah desa sempat menggelontorkan anggaran Rp350 juta untuk pengaspalan jalur tersebut, termasuk di Kampung Kotok.
Namun, pembangunannya belum sampai di Kampung Ba’ang yang merupakan titik yang rawan rusak.
Ia berkata, pihaknya akan menggunakan dana desa jika pemerintah kabupaten tak kunjung memperhatikan jalan itu.
“Mudah-mudahan bisa, karena hanya tinggal dua kilometer saja,” katanya.
Editor: Herry Kabut




