Berita Longsor di Manggarai Timur Menggerakkan Anak dan Remaja Galang Aksi Solidaritas

Mereka mengumpulkan beras, pakaian layak pakai dan uang tunai yang diserahkan langsung saat mengunjungi korban

Floresa.co Sejumlah berita tentang longsor akhir bulan lalu di salah satu desa di Kabupaten Manggarai Timur yang menewaskan tiga orang dan memaksa ratusan warga mengungsi sampai ke ponsel Maria Arlin Ngima.

Arlin merupakan salah pembina komunitas remaja yang bergabung dalam Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Sekami) Stasi Watu Kaur, Paroki St. Paulus Mano, sebuah komunitas berbasis gereja.

“Kebetulan salah satu pembina berada di lokasi sehingga kami mendapat gambaran langsung tentang kondisi lapangan,” katanya.

Pembina Sekami yang ia maksud merujuk pada Arivin Dangkar, jurnalis Floresa. Ia meliput langsung longsor di tiga kampung – Tuwa, Pau, dan Rentung – di Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda itu yang terjadi pada 22 Januari. Ia berada di lokasi pada 25-28 Januari.

Informasi dari Arivin, termasuk foto dan video yang ia kirim ke Grup WhatsApp para pembina Sekami membuat mereka berdiskusi soal apa yang bisa dilakukan untuk membantu para korban. 

Diskusi itu berujung pada keputusan melakukan aksi solidaritas dengan menggalang bantuan.

Anak-anak dan para pembina Sekami Stasi Watu Kaur usai menggelar pertemuan persiapan sebelum melakukan penggalangan donasi solidaritas di wilayah Stasi Watu Kaur, pada 26 Januari 2026. (Dokumentasi Floresa)

“Penggalangan donasi melibatkan 70 anak Sekami. Bersama para pembina, mereka mengunjungi tiga kampung di wilayah Stasi Watu Kaur. Mereka bergerak dari rumah ke rumah,” kata Arlin.

Dalam satu hari pada 26 Januari, “mereka berhasil mengumpulkan bantuan berupa beras, pakaian layak pakai, serta uang tunai.”

Sekami pun memutuskan mengutus 13 orang untuk mendatangi lokasi pada 1 Februari.

Mereka berasal dari Kampung Cekalikang, Mbelar dan Golo Tenda, dengan latar belakang pendidikan yang beragam, mulai dari TK dan SDI Negeri Watu Kaur hingga SMP dan SMAN 1 serta SMAN 5 Poco Ranaka.

Marianti E. Gadut, salah satu peserta berkata, itu merupakan perjalanan pertamanya ke arah Benteng Jawa, ibukota Kecamatan Lamba Leda. 

“Kondisi jalan yang ekstrem dan cuaca yang tidak mendukung membuat beberapa dari kami mual dan pusing,” kata guru di SMPN 8 Poco Ranaka ini.

Setiba di Desa Goreng Meni, mereka disambut hangat oleh pemerintah desa dan warga setempat. 

“Bantuan yang dibawa kemudian diserahkan secara langsung kepada warga terdampak,” katanya.

Pembina Sekami menyerahkan bantuan solidaritas di Posko Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, pada 1 Februari 2026. (Dokumentasi Floresa)

Dalam kesempatan tersebut mereka mendengar langsung kisah tentang detik-detik saat longsor terjadi pada 22 Januari dan upaya penyelamatan serta pencarian korban hingga beberapa hari setelahnya.

Silvanus Tasman bersama kakaknya, Herman Namat, warga Kampung Pau mengisahkan momen-momen saat mereka berusaha menolong Albina Ria yang saat tertimbun longsor masih menggendong anak balitanya, Apri Nikolaus Acan.

Dengan tangan kosong, keduanya mengeruk lumpur dan mengangkat batu besar yang menekan tubuh Albina, lalu mengevakuasinya. 

Namun, Albina meninggal pada 23 Januari dini hari di Puskesmas Benteng Jawa, sementara Apri hingga kini masih dirawat. 

Selain Albina, korban meninggal lain dalam bencana itu adalah anaknya Yustina Mira (19) yang ditemukan pada 27 Januari dan Lusia Resem (47), warga Kampung Munta, Desa Compang Weluk yang ditemukan pada 26 Januari.

Selain mendengarkan kisah para penyintas, mereka juga meninjau langsung titik-titik lokasi longsor. Banyak fasilitas umum rusak parah, seperti sekolah, jalan raya, jaringan listrik, sumber air bersih serta sawah.

Melania Deot, yang baru saja lulus dari Universitas Nusa Cendana Kupang berkata bahwa kunjungan tersebut membuka mata mereka tentang besarnya dampak bencana alam.

Ia berkata, momen paling membekas adalah saat bertemu dengan suami dari Albina.

Sementara Beatriks Gresensa Damul, siswa SMAN 5 Poco Ranaka berkata, “unjungan ini membuat kami semakin sadar akan pentingnya solidaritas, kepedulian terhadap sesama.”

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Goreng Meni, Bernadus Jeranat menyebut kehadiran Sekami Watu Kaur sangat berarti bagi warga.

“Secara moril, kunjungan ini mengurangi rasa duka kami sebagai korban,” katanya.

Menurut Bernardus, hal yang paling berkesan Sekami tidak hanya hadir di posko bencana, tetapi juga mengunjungi rumah duka dan menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban.

Sementara itu, Pastor Paroki St. Paulus Mano, Romo Fery Rusmiadin menilai kegiatan ini bermanfaat bagi pembinaan karakter anak dan remaja.

“Mereka diajarkan nilai kepedulian, pengorbanan dan kepekaan dalam merawat persaudaraan sejak dini,” ujarnya.

Feri berharap kegiatan serupa terus dilanjutkan agar menjadi inspirasi bagi stasi-stasi lain di wilayah Paroki Mano.

“Anak-anak dan orang muda perlu terus dilibatkan secara aktif dalam pelayanan sosial dan ekologis sebagai wujud iman yang hidup,” katanya.

Rombongan Sekami didampingi warga setempat meninjau lokasi longsor di Pau, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, pada 1 Februari 2026. (Dokumentasi Floresa)

Arlin berkata, aksi solidaritas ini menjadi bagian penting dari pembinaan anak usia dini.

“Anak-anak tidak hanya diajak mengumpulkan bantuan, tetapi juga dilatih untuk berani berinteraksi dengan masyarakat, belajar berbagi, serta menumbuhkan empati terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan,” katanya.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA