Warga Keluhkan Asap dan Bau TPA Ncolang, Ketua DPRD Manggarai Klaim Pernah Minum Kopi dan Makan Ubi di Lokasi

Paulus Peos menyebut belum menerima keluhan kesehatan saat berkunjung ke TPA, tetapi berjanji berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menekan dampaknya.

Floresa.co – Di tengah keluhan warga soal asap, bau menyengat, dan serbuan lalat dari Tempat Pembungan Akhir (TPA) Ncolang, Ketua DPRD Manggarai, Paulus Peos mengaku pernah duduk bersama para pemulung, minum kopi, dan makan ubi di lokasi tanpa menerima keluhan kesehatan.

Paulus mengatakan belum merasakan bau menyengat saat beberapa kali mengunjungi TPA tersebut.

Ia juga mengaku tidak menerima keluhan kesehatan dari pemulung maupun warga sekitar ketika berada di lokasi.

Pernyataan itu ia sampaikan setelah Floresa menerbitkan laporan pada 6 Agustus, berjudul Asap dari TPA Ncolang, Manggarai: Warga Hidup di Tengah Bau, Lalat, dan Cemas.

Dalam laporan tersebut, sejumlah warga mengaku bertahun-tahun hidup di tengah kepulan asap, bau sampah, dan serbuan lalat dari area pembuangan.

Saat Floresa mendatangi lokasi pada 5 Agustus, bau busuk sudah tercium sebelum memasuki area TPA. Semakin dekat ke tumpukan sampah, aromanya semakin menyengat.

“Mungkin indra penciuman kita yang berbeda. Saya bersama pemulung waktu itu sempat minum kopi dan makan ubi di TPA Ncolang,” kata Paulus kepada Floresa pada 6 Agustus.

Meski demikian, Paulus menyatakan prihatin terhadap pengelolaan TPA tersebut.

“Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan meminta agar dilakukan upaya konkret untuk meminimalkan dampak buruk,” katanya.

Namun, Paulus mengatakan DPRD secara kelembagaan belum meninjau kondisi terbaru TPA Ncolang sehingga belum dapat memberi penilaian menyeluruh.

“Saat berkunjung ke TPA dan menyerahkan 40 pasang sepatu bot kepada para pemulung, kami tidak menerima keluhan terkait masalah kesehatan,” katanya.

Menurut Paulus, DPRD belum menyiapkan langkah khusus selain mendorong pemerintah daerah memperbaiki dan mengoptimalkan pengelolaan TPA.

“Hal-hal teknis merupakan kewenangan pemerintah,” katanya.

Tumpukan sampah di TPA Ncolang. (Dokumentasi Floresa)

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Manggarai, Charles Rihi mengatakan petugas masih berupaya memadamkan titik-titik asap di TPA setiap hari.

“Titik yang masih mengeluarkan asap sudah berbentuk lubang sehingga sulit dipadamkan sejak tahun lalu karena berada di tebing. Sampai hari ini kami tetap berusaha memadamkannya,” katanya kepada Floresa.

TPA Ncolang berada sekitar 15 kilometer di utara Kota Ruteng, tepat di tepi Jalan Ruteng–Reo.

Lokasi itu menjadi tempat pembuangan sampah dari Kota Ruteng setelah TPA Kilometer Lima ditutup pada 2015 menyusul protes warga Kelurahan Karot atas bau menyengat dan serbuan lalat.

Saat pemerintah berencana memindahkan TPA ke Ncolang pada 2019, warga Desa Poco juga sempat menolak karena khawatir persoalan serupa terulang.

Kekhawatiran itu mencakup bau sampah, serbuan lalat, pencemaran lingkungan, dan asap pembakaran.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat timbulan sampah di Kabupaten Manggarai mencapai 51.076,06 ton per tahun, atau sekitar 140 ton per hari.

Dari jumlah itu, sekitar 26 ton per hari diproses di TPA. Sumber sampah terbesar berasal dari rumah tangga, yakni sekitar 56 ton per hari atau 39,76 persen.

Bagi warga sekitar, perbaikan pengelolaan TPA menjadi kebutuhan mendesak agar lingkungan mereka lebih layak dihuni.

“Kalau TPA ini tetap beroperasi, pengelolaannya harus diperbaiki. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban akibat asap, bau sampah, dan lalat yang tidak pernah selesai,” kata seorang warga yang ditemui Floresa pada 5 Agustus.

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA