Asap dari TPA Ncolang, Manggarai: Warga Hidup di Tengah Bau, Lalat, dan Cemas

Di pinggir jalan Ruteng–Reo, tumpukan sampah yang terus berasap membuat warga sekitar TPA menagih pengelolaan yang lebih layak dan perlindungan kesehatan yang lebih serius.

Floresa.co – Dari kejauhan, asap tipis tampak menggantung di atas timbunan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ncolang, Desa Poco, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai. 

Semakin dekat ke lokasi, bau busuk kian tajam. Lalat beterbangan di antara tumpukan sampah, sementara warga di sekitarnya tetap menjalani hari di udara yang berat.

Pemandangan itu terlihat saat Floresa mendatangi lokasi pada 5 Agustus. Bagi warga Kampung Poco yang tinggal di sekitar TPA, asap, bau, dan lalat bukan lagi gangguan sesekali. 

Semua itu telah menjadi bagian dari keseharian sejak tempat pembuangan tersebut beroperasi.

“Kami telah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan asap, bau sampah, dan serbuan lalat,” kata seorang warga yang meminta Floresa tidak menulis namanya.

TPA Ncolang berada sekitar 15 kilometer di sebelah utara Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, di tepi ruas Jalan Ruteng–Reo. Tempat itu kini menampung sampah dari Kota Ruteng setelah TPA Kilometer Lima tidak lagi difungsikan.

TPA lama tersebut ditutup sejak 2015 setelah warga Kelurahan Karot memprotes bau menyengat dan serbuan lalat yang mengganggu permukiman mereka.

Saat pemerintah merencanakan pemindahan lokasi pembuangan ke Ncolang pada 2019, warga Desa Poco sempat menolak. Mereka khawatir persoalan yang sama akan berpindah ke kampung mereka: bau, lalat, pencemaran, dan asap dari pembakaran sampah.

Janji Pemberdayaan yang Tak Kunjung Terasa

Seorang warga mengingat masa awal pembangunan TPA Ncolang sebagai periode ketika pemerintah datang membawa rencana pemindahan sampah dari Kilometer Lima. Namun, menurut dia, warga tidak mendapat penjelasan memadai tentang risiko yang akan mereka hadapi.

“Awalnya kami tidak tahu seperti apa dampak TPA ini. Pemerintah tidak pernah menjelaskan secara lengkap risiko yang akan kami hadapi,” katanya.

Yang mereka pahami saat itu, lokasi pembuangan hanya dipindahkan. Belakangan, warga merasa harus menanggung konsekuensi yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.

Sebagian lahan warga dibeli untuk pembangunan TPA. Warga sekitar juga diminta menandatangani persetujuan dengan harapan ada manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

“Kami setuju karena pemerintah menjanjikan warga sekitar akan diberdayakan dan dipekerjakan di sini,” ujarnya.

Janji itu, menurutnya, tak pernah benar-benar terwujud. Yang lebih dulu datang justru asap, bau menyengat, dan lalat yang masuk hingga ke rumah-rumah warga.

Dalam dua tahun terakhir, kata warga itu, api kerap muncul dari dalam tumpukan sampah. Bara di bawah timbunan seperti tidak pernah benar-benar padam.

“Dari celah-celah sampah, asap tipis terus mengepul hampir setiap hari,” katanya.

Saat kobaran api membesar, angin membawa kepulan asap hingga ke permukiman warga.

“Kami terpaksa menutup pintu dan jendela, tetapi baunya tetap terasa. Siang maupun malam kami tetap mencium bau sampah,” katanya.

Selain asap, lalat menjadi gangguan yang sulit dihindari. Hampir setiap hari, terutama saat jam makan, serangga itu memenuhi rumah-rumah warga.

“Kalau musim hujan kondisinya lebih parah karena bau sampah semakin menyengat dan jumlah lalat juga semakin banyak,” ujarnya.

Bagi warga, persoalan itu sudah melampaui urusan kenyamanan.

“Kami mencemaskan dampaknya terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang setiap hari menghirup udara di sekitar TPA,” katanya.

Kecemasan tersebut, katanya, sudah berulang kali mereka sampaikan kepada pemerintah daerah.

Sejak 2019, warga pernah menemui Bupati Kamelus Deno untuk meminta TPA ditutup karena lokasinya dekat dengan permukiman.

“Namun hingga kini aspirasi tersebut belum membuahkan hasil,” katanya.

“Petugas kesehatan baru datang memeriksa kami saat terjadi kebakaran besar di TPA Ncolang pada Agustus 2025. Setelah itu belum pernah lagi,” ujarnya.

Ia menyebut dua warga Kampung Poco meninggal dunia tahun ini. Keduanya sering mencari sampah dan pakan ternak babi di TPA.

“Kami tidak bisa memastikan penyebabnya, tetapi menduga mereka jatuh sakit karena terlalu sering menghirup asap dan bau sampah,” katanya. 

Karena itu, ia berharap pemerintah memperbaiki pengelolaan TPA agar lingkungan sekitar lebih layak dihuni. 

“Kalau TPA ini tetap beroperasi, pengelolaannya harus diperbaiki. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban akibat asap, bau sampah, dan lalat yang tidak pernah selesai,” katanya.

Tumpukan sampah di TPA Ncolang. (Dokumentasi Floresa)

Mengais Rupiah di Tengah Asap

Di antara asap dan bau sampah, denyut kehidupan lain tetap berjalan. Sejumlah warga memanggul karung, menyusuri timbunan, lalu memilah botol plastik, kaleng minuman, kardus, dan barang bekas yang masih bernilai jual.

Salah seorang pemulung yang ditemui Floresa mengaku telah lama menggantungkan hidup dari TPA Ncolang.

“Hampir setiap hari saya menggali tumpukan sampah untuk mencari barang yang masih bisa dijual,” katanya.

Pada hari-hari tertentu, ia bisa mengumpulkan hingga lima karung sampah daur ulang. Hasilnya dijual kepada pengepul yang datang langsung ke TPA.

Pendapatan para pemulung tidak menentu. Harga jual bergantung pada jenis sampah; sebagian hanya sekitar Rp3.000 per kilogram.

Meski begitu, bagi mereka, TPA tetap menjadi sumber penghidupan yang sulit ditinggalkan.

Bau menyengat, lalat, dan kepulan asap yang hampir tak pernah berhenti tidak cukup membuatnya berhenti datang.

Dari Ncolang ke Persoalan Sampah yang Lebih Luas

Kisah TPA Ncolang memperlihatkan persoalan yang lebih luas dalam pengelolaan sampah: ketika beban lingkungan dari kota akhirnya berhadapan langsung dengan ruang hidup warga di sekitar tempat pembuangan.

Secara nasional, pengelolaan sampah masih menghadapi masalah besar. Banyak tempat pemrosesan akhir masih bergantung pada pola kumpul, angkut, dan buang.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional menunjukkan, pada 2025 baru 292 dari 514 kabupaten/kota yang menginput data.

Dari wilayah yang melapor, timbulan sampah nasional mencapai 31,23 juta ton per tahun. Sampah yang terkelola baru sekitar 9,92 juta ton per tahun, atau 32 persen.

Di Kabupaten Manggarai, data tersebut mencatat timbulan sampah mencapai 51.076,06 ton per tahun, atau sekitar 140 ton per hari.

Dari jumlah itu, 6.271,81 ton per tahun atau sekitar 17 ton per hari tercatat telah dikelola. Sementara itu, 9.395,1 ton per tahun atau sekitar 26 ton per hari diproses di TPA.

Data itu juga menunjukkan bahwa sumber timbulan sampah terbesar berasal dari rumah tangga, yakni 20.308,6 ton per tahun atau sekitar 56 ton per hari (39,76 persen). 

Selanjutnya, sampah dari pasar mencapai 35 ton per hari (25,3 persen), fasilitas publik 24 ton per hari (16,86 persen), perniagaan 18 ton per hari (12,65 persen), kawasan 5 ton per hari (3,62 persen), serta perkantoran 3 ton per hari (1,81 persen).

Dari kejauhan, asap tipis tampak membumbung dari timbunan sampah di TPA Ncolang. (Dokumentasi Floresa)

Apa Kata Pemerintah?

Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu mengatakan pemerintah daerah terus berupaya mengatasi asap yang tak kunjung padam di TPA Ncolang.

Salah satu langkah yang sedang dilakukan, kata Fabianus, ialah memperpanjang jaringan pipa Perumda Air Minum (PDAM) hingga ke lokasi TPA agar pasokan air untuk penanganan kebakaran lebih memadai.

Selama ini, jelasnya, pemadaman hanya mengandalkan mobil tangki.

“Untuk mengatasi asap memang membutuhkan waktu yang cukup lama karena timbunan sampahnya tebal dan berlapis,” katanya kepada Floresa pada 6 Agustus.

Fabianus berkata, pemerintah juga telah mengerahkan alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum untuk memindahkan timbunan sampah yang sebelumnya menumpuk di jalan masuk TPA.

Floresa juga telah menghubungi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Charles Rihi untuk meminta tanggapan. Namun, ia tidak merespons hingga laporan ini dirilis.

Bagi warga Poco, berbagai rencana penanganan itu baru akan berarti jika asap benar-benar berhenti, bau tak lagi masuk ke rumah, dan anak-anak bisa tumbuh tanpa harus menghirup udara dari timbunan sampah.

“Kami tidak meminta banyak. Kami hanya ingin bisa hidup dengan udara yang bersih, makan tanpa dikerubuti lalat, dan tidak lagi takut setiap kali asap datang dari TPA,” kata seorang warga.

Falaria Pejeng berkontribusi dalam penulisan laporan ini.

Editor: Ryan Dagur 

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA